Pakar Lingkungan UKJP Dr Risma Haris S.Si, M.Si
SulawesiPos.com – Tumpukan sampah yang menghiasi sejumlah sudut kota Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, kian meresahkan warga.
Selain mengganggu pemandangan dan memicu bau tidak sedap, kondisi sampah yang dibiarkan tak terangkut selama berhari-hari ini berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat dan mencemari lingkungan.
Menanggapi fenomena tersebut, Pakar Lingkungan sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kurnia Jaya Persada (UKJP), Dr. Risma Haris, S.Si., M.Si, yang dihubungi SPos, Rabu (23/9/2026), menegaskan bahwa penumpukan sampah di Sungguminasa harus dipandang sebagai situasi yang memerlukan respons cepat dari pemerintah daerah.
“Ketika sampah tidak terangkut selama berhari-hari, persoalannya tidak lagi hanya menyangkut estetika kota, tetapi berpotensi meningkatkan risiko kesehatan masyarakat dan pencemaran lingkungan,” ujar Dr. Risma.
Ia menambahkan bahwa maraknya tumpukan sampah saat ini menjadi sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan. “Sampah yang menumpuk adalah alarm kesehatan lingkungan bagi pemerintah dan masyarakat,” tegasnya.
Menurut Dr. Risma, permasalahan ini menyingkap kelemahan mendasar dalam sistem pengelolaan sampah saat ini. Ketergantungan pada kelancaran rantai operasional—seperti pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM), kesiapan armada, hingga akses ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)—seharusnya memiliki skenario mitigasi agar tidak langsung lumpuh ketika terjadi kendala pada salah satu jalur.
“Kasus ini menunjukkan bahwa sistem persampahan harus memiliki mekanisme cadangan. Ketergantungan pada kelancaran BBM, armada, dan akses TPA tidak boleh membuat seluruh sistem berhenti ketika salah satu komponen bermasalah,” jelasnya.
Langkah taktis dan solutif pun sangat mendesak untuk segera diterapkan. Pemerintah daerah diminta tidak hanya berfokus pada penanganan darurat jangka pendek, tetapi juga membenahi manajemen pengelolaan sampah jangka panjang dari hulu ke hilir secara berkelanjutan.
“Pemerintah perlu melakukan penanganan darurat sekaligus membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih tangguh. Pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, pengolahan sampah organik, penguatan bank sampah atau TPS3R, serta kepastian sistem pengangkutan dan tempat pemrosesan akhir harus berjalan secara terpadu. Prinsipnya, sampah harus dikelola sejak dari sumber sampai ke tempat pemrosesan akhir secara berkelanjutan,” tutupnya.