Categories: News

Passobis Singapura Akui Curi 4.100 Bitcoin Rp4 Triliun, Terancam 20 Tahun

SulawesiPos.com – Malone Lam (22), warga Singapura, mengaku bersalah di Pengadilan Distrik Amerika Serikat di Washington DC atas konspirasi pemerasan terorganisasi yang mencuri lebih dari 4.100 Bitcoin senilai sekitar US$245 juta atau Rp4 triliun dari seorang korban.

Ia menghadapi ancaman maksimal 20 tahun penjara, tetapi tanggal vonisnya belum ditetapkan.

Lam memasukkan pengakuan bersalah di hadapan Hakim Colleen Kollar-Kotelly pada Selasa (8/9/2026) waktu Washington.

Sidang selama hampir dua setengah jam membahas perannya dalam jaringan internasional yang menggunakan rekayasa sosial untuk mengambil alih dompet kripto para korban.

Ketika hakim menanyakan pengakuannya, Lam menghela napas panjang sebelum menjawab.

“Saya mengaku bersalah, Yang Mulia,” kata Lam.

Pengakuan itu mencakup satu dakwaan berpartisipasi dalam konspirasi berdasarkan Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act atau RICO.

Kasus tersebut disebut sebagai perkara pertama terkait Bitcoin yang dibangun Departemen Kehakiman AS menggunakan undang-undang pemberantasan kejahatan terorganisasi itu.

Sebanyak 18 orang didakwa dalam perkara tersebut dan Lam menjadi terdakwa ke-11 yang mengaku bersalah.

Jaksa menyebut jaringan itu mencuri lebih dari US$260 juta dalam aset kripto dari sejumlah korban sejak Oktober 2023 hingga Mei 2025.

Pencurian terbesarnya terjadi pada Agustus 2024.

Lam dan komplotannya mengambil lebih dari 4.100 Bitcoin dari seorang warga Washington DC, dengan nilai sekitar US$245 juta saat transaksi dilakukan.

Angka tersebut berbeda dari total hasil kejahatan jaringan.

Nilai sekitar Rp4 triliun merujuk pada Bitcoin milik satu korban, sedangkan lebih dari US$260 juta merupakan gabungan aset kripto yang dicuri dari sejumlah korban.

Menyamar sebagai Petugas Google dan Bursa Kripto

Komplotan Lam tidak membobol sistem blockchain.

Mereka memanipulasi korban melalui panggilan telepon dan notifikasi keamanan palsu agar menyerahkan informasi yang membuka akses ke akun serta dompet kripto.

Sebelum pencurian terbesar, Lam berulang kali mengirim notifikasi percobaan masuk ke akun Google korban.

Rekannya kemudian menelepon dengan menyamar sebagai pegawai Google yang hendak menindaklanjuti percobaan akses tidak sah.

Setelah memperoleh akses ke Google Drive korban, anggota lain berpura-pura menjadi petugas keamanan Gemini, bursa dan kustodian aset kripto.

Korban dibujuk memberikan kode keamanan serta kunci privat yang memungkinkan Bitcoin dipindahkan secara bertahap.

Salah seorang pelaku juga menggunakan aplikasi kendali jarak jauh AnyDesk untuk mengakses komputer korban.

Jaksa menghitung Bitcoin yang berpindah dalam aksi itu bernilai US$245.930.239.

Jaksa Christopher Howland mengatakan Lam “memainkan banyak peran” dalam jaringan tersebut.

Ia mencari sasaran, mengatur serangan rekayasa sosial, dan membagi tugas para anggota untuk mengambil serta mencuci aset kripto.

Jaringan itu terbentuk dari pertemanan di platform gim daring.

Lam berkenalan dengan salah seorang rekan utamanya melalui Minecraft, kemudian tinggal bersama di Texas pada Oktober 2023 sebelum kelompok tersebut menyusun operasi pencurian kripto.

Para anggotanya terbagi menjadi peretas basis data, pencari calon korban, penelepon, pencuci uang, hingga orang yang membobol rumah untuk mengambil perangkat penyimpan aset kripto.

Dalam satu kasus di New Mexico, seorang anggota masuk ke rumah korban setelah kelompok itu melacak lokasi dan mengakses sistem kamera keamanan, tetapi gagal membuka dompet digitalnya.

Uang Curian Mengalir ke Mobil Mewah dan Kelab Malam

Lam dan jaringan tersebut menyamarkan aset curian melalui platform yang tidak mewajibkan verifikasi identitas, kartu pembayaran, uang tunai, serta jasa pencuci uang profesional di dark web.

Hasil kejahatan digunakan untuk menyewa jet pribadi, rumah mewah di Miami, Los Angeles, dan Hamptons, membayar pengawal, serta membeli jam tangan dan mobil eksotis.

Dokumen penyitaan mencatat sedikitnya 28 kendaraan mewah milik Lam, termasuk Rolls-Royce, Lamborghini, Ferrari, dan Pagani.

Harga setiap kendaraan disebut berkisar US 3,8 juta.

Sedikitnya 95 barang lain berupa perhiasan, jam tangan, pakaian, dan sepatu juga disita, dengan sejumlah jam tangan bernilai lebih dari US$`500.000.

Jam tangan mewah berbagai merek yang disita pada Selasa (8/9/2026) waktu Washington. dok/crytonalphaid

Dalam satu malam di sebuah kelab di Los Angeles, Lam menghabiskan US`$569.000.

Pengeluaran mencolok itu ikut menarik perhatian aparat sebelum agen FBI menangkapnya di rumah sewaan di Miami pada September 2024.

Dalam rekaman percakapan dari tahanan yang dimuat dalam dakwaan, Lam mengakui tidak menyangka penangkapannya akan berkembang sebesar itu.

“Kami selalu membicarakan bagaimana rasanya jika saya jatuh, tetapi tidak pernah menyangka akan segila ini,” ujar Lam dalam terjemahan bahasa Indonesia.

Jaksa AS untuk Distrik Columbia Jeanine Ferris Pirro menyatakan aparat akan terus mengejar jaringan yang memakai teknologi untuk menipu korban.

“Jika Anda membangun kerajaan kejahatan siber, kami akan menemukan Anda, membongkar operasi Anda, dan meminta Anda bertanggung jawab,” kata Pirro dalam terjemahan bahasa Indonesia.

“Terdakwa ini memimpin jaringan internasional yang memangsa korban melalui penipuan, menerobos privasi mereka, dan mencuri aset kripto senilai ratusan juta dolar,” lanjutnya.

Lam menyetujui penyitaan sejumlah kendaraan mewah untuk membantu dana restitusi korban.

Ia dan para terdakwa lain juga diperintahkan mengganti lebih dari US$245 juta dana yang dicuri.

Hakim belum menetapkan tanggal pembacaan hukuman. Lam dijadwalkan kembali menjalani sidang status pada Selasa (8/12/2026) untuk membahas persoalan penyitaan sebelum jadwal vonis ditentukan.

Kristio D. Reski

Share
Published by
Kristio D. Reski
Tags: Amerika Serikat Kejahatan Siber Kripto Malone Lam Passobis pencucian uang Singapura