Ilustrasi Gempa
SulawesiPos.com – Gempa bermagnitudo 4,8 mengguncang Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Rabu (9/9/2026) pukul 05.42 Wita.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat pusat gempa berada di laut, 45 kilometer utara Ruteng, dengan kedalaman 12 kilometer dan guncangan dirasakan pada intensitas III MMI di Kabupaten Manggarai.
Gempa berada pada koordinat 8,21 Lintang Selatan dan 120,41 Bujur Timur.
Data awal BMKG belum memuat laporan kerusakan maupun korban akibat guncangan tersebut.
“Pusat gempa berada di laut 45 km Utara Ruteng, Manggarai,” demikian keterangan BMKG dalam data gempa dirasakan yang diakses Rabu pagi.
Intensitas III MMI berarti getaran dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seakan-akan ada truk berlalu.
Skala tersebut mengukur dampak guncangan yang dirasakan manusia dan lingkungan, berbeda dengan magnitudo yang menggambarkan energi gempa.
BMKG mengingatkan bahwa informasi awal gempa mengutamakan kecepatan.
Parameter kejadian masih dapat berubah setelah lembaga tersebut menerima dan mengolah data tambahan.
Gempa M 4,8 terjadi di tengah tingginya aktivitas seismik di wilayah Flores setelah gempa utama M 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Sehari sebelum kejadian terbaru, BMKG mencatat sejumlah gempa dirasakan di sekitar Ruteng.
Pada Selasa (8/9/2026) pukul 12.40 Wita, gempa yang semula dilaporkan M 5,2 kemudian dimutakhirkan menjadi M 5,1.
Pusat gempa berada 57 kilometer timur laut Ruteng pada kedalaman 10 kilometer.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto memastikan gempa M 5,1 itu merupakan bagian dari rangkaian susulan gempa besar Flores.
“Gempa bumi ini merupakan rangkaian susulan dari gempabumi M7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 15 Agustus 2026 pukul 04:58:23 WIB,” kata Wijayanto dalam keterangan resmi, Selasa (8/9/2026).
BMKG menyebut gempa M 5,1 sebagai gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Belakang Busur Flores.
Analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan naik atau thrust fault, sedangkan hasil pemodelan menyatakan kejadian tersebut tidak berpotensi tsunami.
Guncangan M 5,1 dirasakan pada skala IV MMI di Lamba Leda, Manggarai Timur, serta Reok dan Reok Barat di Manggarai.
Skala IV MMI menggambarkan getaran yang pada siang hari dirasakan banyak orang di dalam rumah.
Pemantauan BMKG hingga Selasa pukul 11.00 WIB mencatat 13.591 gempa susulan setelah gempa utama Flores.
Magnitudo terbesar dalam rangkaian tersebut mencapai M 6,2.
“Hingga tanggal 8 September 2026, pukul 11:00:00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 13591 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar M6,2,” ujar Wijayanto.
BMKG juga mencatat gempa M 4,3 pada Selasa pukul 21.00 Wita dengan pusat 79 kilometer utara Ruteng dan kedalaman enam kilometer.
Guncangan itu dirasakan pada skala II MMI di Kabupaten Manggarai.
Lembaga tersebut meminta masyarakat tetap tenang, tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.
“BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat,” kata Wijayanto.
BMKG meminta masyarakat mengikuti pembaruan melalui situs dan kanal media sosial resmi serta aplikasi InfoBMKG dan WRS-BMKG.