Sudirman Haji Nasir, dosen dan peneliti FKM Unhas
SulawesiPos.com — Dunia akademik dan kesusastraan berduka. Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) yang juga peneliti serta penyair, Sudirman HN, meninggal dunia di Rumah Sakit Siloam, Makassar, Rabu (26/8/2026) sekitar pukul 23.20 Wita.
Alumnus Pesantren IMMIM dan SMU Negeri 1 Makassar ini sempat menjalani perawatan intensif di RS Siloam sejak awal Agustus sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Suami dari Dr. Hasnawati “Nana” Saleh tersebut kini disemayamkan di rumah duka, Jalan Barito No. 14, Kompleks Bukit Baruga, Makassar.
Perjalanan keilmuan Sudirman bermula dari Fakultas Kedokteran Unhas. Usai meraih gelar Sarjana Kedokteran, ia memilih fokus pada ranah kesehatan publik dengan menempuh studi ke School of Population and Global Health, University of Melbourne, Australia. Di kampus tersebut, ia meraih gelar Master in Women’s Health pada 2006 dan merampungkan program doktoral (Ph.D.) bidang kesehatan masyarakat pada 2011.
Di kancah ilmiah, Sudirman aktif mengabdi di Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan sempat dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Sains dan Pendidikan. Pada Juni 2019, ia menginisiasi kerja sama antara ALMI dan Dewan Profesor Unhas untuk menghadirkan sekaligus memberi penghargaan kepada mantan Direktur Lembaga Eijkman Indonesia, Prof. Sangkot Marzuki.
Rekam jejak risetnya juga diakui dunia internasional lewat raihan fellowship bergengsi, seperti Asia Leadership Fellow Program di Jepang (2017) dan Eisenhower Global Fellow (2019).
Sudirman juga dikenal sebagai penulis artikel yang tekun. Tulisannya dimuat di beberapa media seperti Kompas dan Tribun Timur. Semasa mahasiswa, Sudirman juga aktif di koran kampus Identitas Unhas.
Hingga menjelang akhir hayatnya, dedikasi riset Sudirman tidak pernah surut. Sebelum masuk rumah sakit, ia bersama Ilham Alimuddin dan jajaran peneliti Unhas lainnya masih sempat mendampingi para jurnalis dalam agenda FGD serta field trip riset perubahan iklim di Puntondo, Takalar, yang digelar bersama Monash Climate Communication Hub dan Australia-Indonesia Centre.
Di samping kesibukan laboratorium dan ruang kuliah, Sudirman mendedikasikan jiwanya pada dunia seni kata. Bersama para penyair seperti Aslan Abidin, Muhary Wahyu Nurba, Hendragunawan S. Thayf, dan Jusman DN Kaitta, ia mendirikan Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST) serta menerbitkan sejumlah buku puisi yang memperkaya khazanah literasi tanah air.
Kepergian Sudirman HN meninggalkan warisan mendalam di persimpangan sains, riset kesehatan publik, dan keindahan sastra. Selamat jalan, Sudirman HN.