Kategori: News

Dari Pelukan Ayah ke Buku Sejarah, Muhammad al-Durrah Menjadi Wajah Kemanusiaan Palestina bagi Generasi Mesir

SulawesiPos.com – Pemerintah Mesir memasukkan gambar ikonik Muhammad al-Durrah, bocah Palestina berusia 12 tahun yang dilaporkan tewas saat berlindung bersama ayahnya di tengah baku tembak di Persimpangan Netzarim, Jalur Gaza, pada 30 September 2000, ke dalam buku sejarah program Baccalaureate Mesir tahun ajaran 2026–2027 sebagai materi tentang Intifada Palestina Kedua guna memperkenalkan dimensi kemanusiaan konflik kepada generasi baru. Demikian laporan media Mesir, Cairo 24, pada Senin (24/8/2026).

Dalam buku tersebut, gambar Muhammad yang merapat ketakutan kepada ayahnya, Jamal al-Durrah, di balik penghalang beton ditempatkan pada pelajaran bertajuk “Intifada Palestina Kedua 2000” dengan keterangan, “Saat peluru ditembakkan ke arah anak Muhammad al-Durrah.”

Masuknya gambar itu ke dalam bahan pelajaran menandai perjalanan sebuah rekaman jurnalistik dari layar televisi menuju ruang kelas, sekaligus memindahkan ingatan traumatis satu generasi kepada para pelajar yang belum lahir ketika peristiwa tersebut terjadi.

Rekaman Muhammad dan ayahnya dibuat oleh juru kamera Palestina Talal Abu Rahma untuk jaringan televisi Prancis France 2 ketika keduanya terjebak di tengah baku tembak pada hari-hari awal Intifada Kedua.

Tayangan itu memperlihatkan Jamal berusaha melindungi anaknya dengan tubuhnya sendiri sambil memberi isyarat agar tembakan dihentikan, sebelum suara rentetan peluru terdengar dan tubuh Muhammad kemudian tampak lunglai di pangkuan sang ayah.

Gambar tersebut selanjutnya menyebar ke seluruh dunia dan menjadi salah satu representasi visual paling kuat mengenai kerentanan anak-anak serta warga sipil dalam konflik bersenjata.

Identitas pihak yang melepaskan peluru mematikan kemudian menjadi objek perdebatan dan penyelidikan yang panjang, tetapi tragedi manusia yang ditampilkan rekaman itu tetap bertahan dalam ingatan masyarakat Palestina dan dunia internasional.

Dari Rekaman Televisi Menuju Ruang Kelas

Bagi seorang pelajar Mesir, gambar itu mungkin tampak sebagai salah satu dokumentasi sejarah, tetapi bagi Jamal al-Durrah, gambar tersebut merupakan detik-detik ketika dirinya berusaha melindungi sang anak di tengah bahaya yang tidak mampu dihentikannya.

Jamal menyambut pencantuman gambar putranya karena langkah tersebut dinilainya dapat membantu generasi muda memahami bahwa perang, pendudukan, perundingan, dan pemberontakan rakyat bukan sekadar rangkaian tanggal, melainkan pengalaman nyata manusia yang kehilangan keamanan, keluarga, dan masa depan.

“Sejarah bukan hanya tanggal dan angka, melainkan kisah kemanusiaan, hak, serta ingatan yang harus dijaga oleh setiap generasi,” kata Jamal sebagaimana dikutip Cairo 24.

Ia berharap pelajaran mengenai Palestina tidak berhenti pada peta, pertempuran, dan perundingan diplomatik, tetapi juga menghadirkan kesaksian keluarga korban, pengalaman anak-anak, serta kehidupan masyarakat sipil yang menanggung dampak langsung konflik.

Menurut Jamal, “Palestina bukan sekadar nama di atas peta, melainkan ingatan, identitas, dan hak yang tidak dapat dihapus dari kesadaran generasi.”

Materi baru tersebut menempatkan kisah Muhammad dalam rangkaian sejarah Palestina yang lebih luas, mulai dari peperangan Arab–Israel, proses perdamaian, Intifada Pertama, Konferensi Madrid, Kesepakatan Oslo, hingga Intifada Kedua dan perkembangan di Jalur Gaza.

Pendekatan semacam itu membuat pembelajaran sejarah tidak hanya menerangkan siapa yang menang atau kalah, tetapi juga mengajak pelajar menguji akibat setiap keputusan politik terhadap hak hidup, keamanan, pendidikan, dan martabat manusia.

Program Baccalaureate Mesir sendiri dikembangkan sebagai jalur pendidikan menengah alternatif terhadap sistem Thanaweya Amma, dengan penekanan pada pilihan bidang studi dan sistem penilaian yang lebih fleksibel.

Seorang pejabat Kementerian Pendidikan Mesir menyatakan sekitar 832.000 siswa atau 99 persen peserta yang memenuhi syarat telah memilih jalur Baccalaureate untuk tahun ajaran 2026–2027.

Pendidikan sebagai Penjaga Ingatan Kemanusiaan

Jamal menyampaikan terima kasih kepada Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, pemerintah, rakyat Mesir, serta Menteri Pendidikan Mohamed Abdel Latif karena mempertahankan persoalan Palestina dalam ingatan generasi muda melalui pendidikan.

Ia menilai pencantuman gambar putranya bukan sekadar penghormatan terhadap Muhammad, melainkan pengakuan bahwa penderitaan anak-anak dan warga sipil tidak boleh hilang di balik bahasa politik serta statistik korban.

Pendidikan sejarah yang menghadirkan wajah dan pengalaman korban dapat menumbuhkan empati, sebab pelajar tidak hanya diminta menghafal suatu peristiwa, tetapi juga memahami nilai kehidupan manusia yang dihancurkan oleh kekerasan.

Dalam hukum humaniter internasional, anak-anak merupakan kelompok yang harus mendapatkan perlindungan khusus, sementara pihak-pihak yang bertikai tetap berkewajiban membedakan sasaran militer dari warga sipil serta menerapkan prinsip kehati-hatian dan proporsionalitas.

Prinsip tersebut menjadi semakin penting ketika konflik berlangsung di kawasan berpenduduk padat, tempat sekolah, rumah sakit, rumah keluarga, dan tempat pengungsian dapat berubah menjadi ruang yang berbahaya bagi anak-anak.

Hampir 26 tahun setelah rekaman itu mengguncang dunia, Muhammad al-Durrah kini hadir kembali bukan melalui siaran darurat dari medan konflik, melainkan melalui buku pelajaran yang dibaca di dalam kelas.

Bagi Jamal, keberadaan gambar itu akan bermakna apabila para pelajar tidak hanya mengingat nama Muhammad, tetapi juga memahami bahwa di balik setiap foto perang terdapat manusia, keluarga, hak, dan kehidupan yang seharusnya dilindungi. (Ali)

Nur Ainun Afiah

Bagikan
Diterbitkan oleh
Nur Ainun Afiah
Tag: Konflik Timur Tengah Gaza palestina Muhammad al-Durrah buku sejarah mesir