Categories: News

Lagi Tren di China: Anak-anak Kota Dikirim ke Kamp Pedesaan untuk Bertani

SulawesiPos.com – Ini tren di China pada musim panas 2026. Banyak orang tua mengirim anak-anak mereka ke pedesaan untuk menjalani pekerjaan fisik seperti bertani, menggali kentang, dan memberi makan babi.

Tak sedikit anak yang menangis dan memohon dipulangkan, namun program itu diyakini bisa mengajarkan realitas hidup, beratnya mencari uang, dan arti menghargai keluarga.

Program itu semakin populer di berbagai daerah di China. Para orang tua rela membayar ribuan yuan agar anak-anak mereka bisa tinggal selama libur musim panas di provinsi-provinsi barat daya seperti Sichuan, Guizhou, dan Yunnan yang dikenal lebih sejuk.

Banyak kamp merancang kegiatan yang meniru pekerjaan harian petani, mulai dari menggali dan menjual kentang, mengupas kulit kayu, hingga memberi makan babi.

Anak-anak yang mengikuti program itu tidak menerima upah.

Sebaliknya, orang tua mereka justru membayar mahal untuk pengalaman tersebut.

Salah satu kamp mematok biaya lebih dari 4.000 yuan atau sekitar Rp10,5 juta untuk program 10 hari.

Untuk masa tinggal hingga satu bulan, biayanya bisa melampaui 10.000 yuan atau sekitar Rp26 juta.

Sejumlah kamp juga menerapkan aturan keras selama anak-anak berada di lokasi.

Jika seorang anak gagal menyelesaikan tugas, mereka bisa dijatuhi sanksi hanya mendapat makanan kentang.

Ponsel Para Peserta Disita

Pembagian kebutuhan mereka juga ditentukan berdasarkan jumlah pekerjaan yang berhasil diselesaikan.

Penyelenggara kamp mengatakan tujuan utama program itu adalah menanamkan pemahaman tentang beratnya bekerja dan sulitnya mencari uang.

Pada saat yang sama, mereka menegaskan tugas yang diberikan tidak terlalu berat agar para orang tua tetap yakin mengirim anak-anaknya.

Video-video yang viral dari sejumlah kamp memperlihatkan anak-anak menangis dan meminta pulang.

Beberapa dari mereka bahkan berkata lebih memilih mengerjakan tugas sekolah daripada melanjutkan pekerjaan di kamp.

Reaksi Anak dan Orang Tua

Beberapa kamp mewajibkan anak-anak menulis surat untuk orang tua mereka.

Seorang staf dari salah satu kamp mengatakan banyak orang tua tersentuh setelah menerima video dan surat dari anak-anak mereka.

Menurut staf itu, reaksi haru tersebut kerap berujung pada rekomendasi dari mulut ke mulut kepada orang tua lain.

Seorang pria bermarga Gao dari Provinsi Sichuan mengirim putrinya yang baru duduk di tahun pertama sekolah menengah ke salah satu kamp.

Ia mengaku terkejut karena putrinya tetap menikmati pekerjaan pertanian itu meski terus-menerus mengeluh.

Orang tua lain dari Shanghai mengirim putrinya yang berusia tujuh tahun ke kamp selama 10 hari.

Ia mengatakan putrinya masih mempertahankan kebiasaan malas dan pilih-pilih makanan.

Meski begitu, ia tetap puas karena anaknya sudah keluar dari zona nyaman dan merasakan gaya hidup yang berbeda.

Minat terhadap kamp semacam ini terlihat pula di kolom komentar video-video yang beredar.

Banyak orang bertanya bagaimana cara mendaftarkan anak mereka ke program tersebut.

“Apa yang dialami anak-anak kita di kamp musim panas ini mencerminkan kesulitan nyata yang pernah dihadapi generasi kita. Kita ingin memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka, tetapi mungkin tanpa sadar telah memanjakan mereka. Mungkin menghadapi kesulitan adalah hal penting agar anak-anak bisa menghargai kehidupan nyaman yang mereka miliki,” komentar seorang warganet.

Namun, tidak semua tanggapan bernada dukungan.

“Banyak anak hanya menerima pendidikan di ruang kelas perkotaan. Pekerjaan fisik yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap perkembangan fisik dan mental mereka,” ujar warganet lainnya.

Andi As

Share
Published by
Andi As
Tags: anak-anak China Musim Panas pertanian Shanghai