Categories: News

Heboh! Elon Musk Mau “Beli Inggris” Lewat Video Parodi AI

Elon Musk Unggah Video AI Jadi “Pembeli Inggris”, Ternyata Cuma Parodi

SulawesiPos.com – Pengusaha teknologi Amerika Serikat Elon Musk mengunggah ulang video parodi buatan kecerdasan buatan yang menggambarkan dirinya sebagai agen flamboyan Austin Powers dan “pembeli” Inggris melalui akun media sosial X pada Kamis (13/8/2026), setelah lelucon media satire The Babylon Bee memancingnya bertanya tentang harga negara tersebut.

Video berdurasi sekitar satu menit itu menampilkan wajah Musk yang ditempelkan secara digital pada tokoh film komedi mata-mata Austin Powers, lengkap dengan adegan berlari dari kerumunan penggemar perempuan dan menari bersama warga Inggris.

Dalam tayangan komedi tersebut, Musk diperkenalkan sebagai “orang terkaya di dunia” dan “orang yang membeli Inggris”, tetapi kedua julukan itu merupakan bagian dari cerita fiktif, bukan pengumuman transaksi nyata.

Sejumlah produk perusahaan yang diasosiasikan dengan Musk ikut muncul, termasuk robot humanoid Optimus dan Cybertruck tanpa pengemudi yang dihiasi warna merah, putih, dan biru menyerupai bendera Union Jack.

Cybertruck tersebut menjadi padanan futuristis bagi Jaguar E-Type bercorak bendera Inggris yang identik dengan karakter Austin Powers dalam rangkaian film komedi mata-mata produksi Hollywood.

Musk membagikan video itu dengan komentar singkat yang menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui siapa pembuatnya, tetapi menganggap hasil parodi tersebut menarik.

Berawal dari Pertanyaan Dua Kata

Lelucon bermula ketika situs satire konservatif Kristen The Babylon Bee menerbitkan artikel fiktif yang menyatakan Musk membeli Inggris untuk memulihkan kebebasan berbicara dan memastikan masyarakat dapat bertukar meme tanpa hambatan.

Musk kemudian membalas unggahan tersebut dengan pertanyaan, “Berapa harganya?”, yang membuat cerita rekaan itu berkembang cepat menjadi meme, video AI, dan bahan percakapan lintas platform.

Pertanyaan singkat itu mengingatkan publik pada perbincangan Musk mengenai Twitter sebelum ia benar-benar mengakuisisi perusahaan media sosial tersebut dan mengganti namanya menjadi X.

Namun, kemiripan tersebut berhenti pada gaya bercandanya karena Twitter merupakan perusahaan yang sahamnya dapat diperjualbelikan, sedangkan Inggris adalah negara berdaulat yang tidak mungkin menjadi objek pembelian pribadi.

Musk dan entitas yang dimilikinya pada April 2022 menyepakati pembelian Twitter senilai sekitar 44 miliar dolar AS atau 54,20 dolar per saham, sebagaimana tercatat dalam dokumen resmi Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat.

Inggris, sebaliknya, beroperasi berdasarkan sistem monarki konstitusional dan demokrasi parlementer dengan Parlemen sebagai otoritas hukum tertinggi, sehingga kedaulatan negara tidak dapat diperlakukan seperti saham, gedung, kendaraan, atau perusahaan teknologi.

Prinsip kedaulatan parlemen memberi lembaga legislatif Inggris kewenangan membuat dan mencabut undang-undang serta tidak menyediakan mekanisme hukum bagi seorang miliarder untuk membeli negara beserta pemerintahan dan rakyatnya, sebagaimana dijelaskan Parlemen Inggris.

Karena itu, Inggris tetap aman dari keranjang belanja Musk, sementara Raja, Parlemen, Downing Street, teh sore, dan cuaca mendungnya belum memiliki label harga.

Ketika AI Menghidupkan Lelucon Digital

Di balik kelucuannya, video tersebut memperlihatkan betapa teknologi AI generatif mampu menyatukan wajah tokoh terkenal, cuplikan budaya populer, produk komersial, musik, dan latar suatu negara menjadi narasi sintetis dalam waktu relatif singkat.

Konten demikian lazim disebut media sintetis, yaitu gambar, suara, atau video yang seluruhnya dibuat maupun dimanipulasi dengan kecerdasan buatan sehingga memperlihatkan peristiwa yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Parodi Musk relatif mudah dikenali karena adegannya sengaja dibuat berlebihan, tetapi teknologi serupa dapat menimbulkan persoalan ketika digunakan untuk menghasilkan pernyataan politik, penipuan, pornografi nonkonsensual, atau berita palsu yang tampak realistis.

Regulator komunikasi Inggris Ofcom mendefinisikan deepfake sebagai konten audiovisual yang dihasilkan atau dimanipulasi menggunakan AI untuk menggambarkan seseorang maupun peristiwa secara keliru, sementara kemudahan teknologi baru memungkinkan pembuatannya dilakukan tanpa keahlian teknis tinggi Ofcom.

Laporan Ofcom 2026 menunjukkan 57 persen orang dewasa Inggris yang mengetahui AI cenderung kurang memercayai berita buatan AI dibandingkan berita yang ditulis manusia, sedangkan hanya 44 persen merasa yakin mampu mengenali konten hasil kecerdasan buatan.

Meme, Kekuasaan, dan Literasi Digital

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa humor internet bukan lagi sekadar hiburan karena unggahan figur dengan jutaan pengikut dapat mengubah cerita satire menjadi pembicaraan politik global hanya dalam hitungan jam.

Satire bekerja melalui hiperbola atau pembesaran keadaan untuk mengundang tawa sekaligus kritik, tetapi pembaca tetap perlu memeriksa asal unggahan, identitas penerbit, konteks pernyataan, dan keberadaan bukti sebelum memperlakukannya sebagai berita faktual.

Teknologi Content Credentials yang dikembangkan Coalition for Content Provenance and Authenticity dapat berfungsi layaknya “label informasi” digital dengan mencatat asal, proses pembuatan, dan riwayat perubahan suatu konten melalui data yang terikat secara kriptografis C2PA.

Sistem pelacakan tersebut tidak otomatis menentukan apakah isi sebuah video benar, tetapi dapat membantu pengguna mengetahui apakah gambar direkam kamera, diubah perangkat lunak, atau dihasilkan oleh kecerdasan buatan.

Dengan demikian, video “Musk membeli Inggris” memang menawarkan hiburan futuristis yang absurd, tetapi juga menyampaikan pelajaran ilmiah sederhana bahwa pada zaman AI, sesuatu yang terlihat sangat meyakinkan belum tentu pernah terjadi.

Pada akhirnya, Musk belum membeli Inggris, robot Optimus belum menjaga Istana Buckingham, Cybertruck belum menggantikan taksi London, dan Austin Powers tetap menjadi agen rahasia paling ganjil dalam pesta meme dunia maya. (Ali)

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: literasi digital elon musk beli inggris parodi elon musk Video Viral Elon Musk