OPEC memangkas proyeksi permintaan minyak ketika perang Iran dan krisis Hormuz mengguncang energi global
SulawesiPos.com – Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Rabu (12/8/2026) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia sepanjang 2026 menjadi 580.000 barel per hari melalui laporan bulanan terbarunya, akibat pelemahan konsumsi di tengah perang Iran, tingginya harga energi, perlambatan ekonomi global, dan gangguan distribusi melalui Selat Hormuz.
Pemangkasan sebesar 200.000 barel per hari dari proyeksi Juli yang mencapai 780.000 barel per hari itu menjadi koreksi ke bawah selama empat bulan berturut-turut, sekaligus memperlihatkan bahwa tekanan geopolitik mulai mengikis optimisme OPEC terhadap konsumsi energi global. Kondisi itu dilaporkan oleh Reuters, Asharq Al Awsat dan sejumlah media internasional lainnya pada 12 Agustus 2026.
Angka 600.000 barel per hari yang diberitakan Xinhua pada 12–13 Agustus 2026 merupakan pembulatan dari proyeksi resmi sekitar 580.000 barel per hari, sehingga kedua laporan tersebut merujuk pada kecenderungan pasar yang sama dan bukan dua proyeksi berbeda.
OPEC menilai dampak perang Iran terhadap konsumsi minyak masih lebih kecil daripada perkiraan sejumlah lembaga energi lainnya, meskipun konflik, mahalnya bahan bakar, dan hambatan pengiriman telah melemahkan permintaan terutama di China, India, kawasan Asia lainnya, dan Asia Pasifik.
Kelompok produsen itu juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2026 menjadi 3 persen, tetapi mempertahankan perkiraan pertumbuhan 2027 sebesar 3,2 persen sebagai dasar keyakinan bahwa pelemahan pasar minyak tahun ini bersifat sementara.
Perbedaan paling mencolok muncul antara OPEC dan IEA karena OPEC masih memperkirakan pertumbuhan permintaan sebesar 580.000 barel per hari, sedangkan IEA memproyeksikan konsumsi global justru menyusut 1,6 juta barel per hari sepanjang 2026.
Dengan demikian, selisih kedua proyeksi tersebut mencapai sekitar 2,18 juta barel per hari, sebuah jurang analisis yang dapat memengaruhi keputusan produksi, investasi industri, pengelolaan cadangan strategis, dan arah harga minyak dunia.
IEA dalam Oil Market Report Agustus 2026 menyebut penutupan berkepanjangan Selat Hormuz, keterbatasan pasokan produk minyak, dan tingginya harga bahan bakar sebagai penyebab utama proyeksi penurunan konsumsi tersebut.
Menurut IEA, permintaan minyak dunia menyusut sekitar 4,9 juta barel per hari pada kuartal kedua dan diperkirakan kembali turun 2,8 juta barel per hari pada kuartal ketiga, sebelum berbalik tumbuh sekitar 580.000 barel per hari pada kuartal terakhir 2026.
Perbedaan pendekatan kedua lembaga itu muncul karena OPEC lebih menekankan ketahanan kebutuhan energi negara berkembang, sedangkan IEA memberi bobot lebih besar pada kehancuran permintaan akibat kelangkaan produk, lonjakan harga, gangguan industri, dan terhambatnya perdagangan internasional.
Gangguan di Selat Hormuz bukan hanya mengurangi jumlah minyak yang mencapai pembeli, melainkan juga memaksa kilang mengurangi operasi, memperpanjang perjalanan kapal, menaikkan biaya pengangkutan dan asuransi, serta memperbesar tekanan inflasi di negara-negara pengimpor energi.
IEA mencatat produksi minyak global pada Juli meningkat 2,4 juta barel per hari menjadi 101,5 juta barel per hari, tetapi jumlah itu masih 6,3 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya karena sekitar 8,3 juta barel produksi kawasan Teluk belum kembali ke pasar.
Ekspor minyak kawasan tersebut turun 2,1 juta barel per hari menjadi sekitar 15 juta barel per hari setelah Selat Hormuz kembali praktis tertutup pada awal Juli, sementara volume pemuatan kapal merosot dari puncak 20 juta menjadi sekitar 12 juta barel per hari.
Kekurangan pasokan itu menguras persediaan minyak dunia sebanyak 69 juta barel selama Juli hingga tersisa kurang dari 7,9 miliar barel, sedangkan penurunan kumulatif sejak akhir Februari mencapai sekitar 410 juta barel.
Kondisi tersebut menciptakan paradoks pasar karena pertumbuhan permintaan melemah, tetapi harga tetap dapat meningkat ketika pasokan, kapasitas pengilangan, pelayaran, dan cadangan minyak menyusut lebih cepat daripada konsumsi.
Bagi Indonesia dan negara pengimpor minyak lainnya, situasi itu perlu diantisipasi melalui diversifikasi sumber impor, penguatan cadangan energi, efisiensi transportasi, percepatan energi terbarukan, dan perlindungan masyarakat dari rambatan harga minyak terhadap biaya pangan serta logistik.
Di tengah suramnya 2026, OPEC menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2027 dari sekitar 1,94 juta menjadi 2,16 juta barel per hari—sering dibulatkan menjadi 2,2 juta barel per hari—dengan China, India, Asia Pasifik, dan Eropa sebagai penggerak pemulihan.
IEA bahkan memperkirakan permintaan global dapat tumbuh 2,4 juta barel per hari pada 2027 apabila ketegangan mereda, jalur pelayaran kembali aman, pasokan produk pulih, dan harga energi turun ke tingkat yang lebih terjangkau.
OPEC mempertahankan proyeksi pertumbuhan produksi negara-negara non-OPEC sebesar 600.000 barel per hari pada 2026 dan 100.000 barel per hari pada 2027, sambil sedikit menurunkan kebutuhan terhadap minyak produksi anggotanya tahun ini menjadi 42,1 juta barel per hari.
Permintaan terhadap minyak OPEC pada 2027 diperkirakan mencapai 43,6 juta barel per hari, menunjukkan bahwa organisasi tersebut masih percaya minyak akan tetap memegang peranan besar dalam sistem energi dunia meskipun elektrifikasi dan energi terbarukan berkembang pesat.
Optimisme 2027 tetap bergantung pada asumsi meredanya perang dan pulihnya jalur perdagangan, sehingga ramalan tersebut dapat kembali berubah apabila Selat Hormuz terus terganggu, infrastruktur energi kembali diserang, atau perekonomian dunia melambat lebih dalam.
Pada akhirnya, pemangkasan proyeksi OPEC bukan sekadar perubahan angka statistik, melainkan peringatan ilmiah bahwa keamanan jalur laut, kestabilan geopolitik, ketahanan cadangan, dan transformasi energi kini menentukan apakah dunia menghadapi pemulihan atau krisis minyak berkepanjangan. (Ali)