Categories: News

Pasukan Ubur-Ubur Melumpuhkan Tiga Reaktor Nuklir Terbesar di Eropa Barat

SulawesiPos.com – Kawanan besar ubur-ubur menyumbat sistem pengambilan air laut dan memaksa Électricité de France (EDF) menghentikan tiga reaktor serta memangkas daya reaktor keempat hingga 50 persen di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Gravelines, dekat Dunkirk, Prancis utara, Senin (10/8/2026), sebagai langkah perlindungan otomatis terhadap berkurangnya aliran air pendingin. Hal itu dilaporkan dari Agence France-Presse (AFP) pada 11 Agustus 2026.

Reaktor nomor 2, 3, dan 4 keluar dari jaringan, sedangkan daya reaktor nomor 1 diturunkan menjadi separuh kapasitas sebagai tindakan pencegahan karena massa ubur-ubur mengancam kelancaran sistem sirkulasi air laut.

Reaktor nomor 5 telah lebih dahulu berhenti untuk pemeliharaan terjadwal, sementara reaktor nomor 6 menjadi satu-satunya unit yang tetap beroperasi dengan kapasitas penuh ketika laporan awal diterbitkan.

EDF menegaskan bahwa gangguan tersebut tidak menimbulkan dampak terhadap keselamatan instalasi, keamanan pekerja, maupun lingkungan karena penyumbatan terjadi pada stasiun pompa di bagian nonnuklir dan sistem proteksi bekerja sesuai rancangan.

Raksasa Energi yang Bergantung pada Laut

Gravelines merupakan pembangkit nuklir terbesar di Eropa Barat dengan enam reaktor air bertekanan berkapasitas masing-masing 900 megawatt elektrik atau total sekitar 5,4 gigawatt.

Pembangkit yang mulai beroperasi bertahap pada 1980-an itu menggunakan air dari kanal yang terhubung dengan Laut Utara untuk mendinginkan kondensor dan berbagai perangkat pendukung setelah uap memutar turbin pembangkit listrik.

Ketika ubur-ubur menumpuk pada saringan dan pompa pengambilan air, debit pendingin dapat berkurang sehingga operator harus menurunkan daya atau menghentikan unit guna melindungi peralatan meskipun reaktor tetap berada dalam kondisi terkendali.

Kapal-kapal nelayan telah dikerahkan setelah peringatan awal diterima pada Sabtu untuk mengurangi kepadatan ubur-ubur sebelum mencapai pembangkit, tetapi operasi tersebut tidak mampu sepenuhnya membendung kawanan yang terbawa menuju kanal pemasukan air.

Petugas kemudian membersihkan sisa ubur-ubur menggunakan kendaraan penyedot, sementara EDF memperkirakan unit-unit yang berhenti dapat dioperasikan kembali secara bertahap setelah sistem pompa dinyatakan bersih dan stabil.

Gangguan Berulang di Tengah Gelombang Panas

Peristiwa serupa menghentikan empat reaktor Gravelines secara otomatis pada 10–11 Agustus 2025 dan membuat penyambungan kembali unit terakhir ke jaringan listrik membutuhkan waktu sekitar 10 hari.

Setelah kejadian tersebut, EDF memasang kamera pada kanal pemasukan dan fasilitas penyaringan serta membangun sistem peringatan dini bersama nelayan dan organisasi penyelamatan laut untuk mendeteksi kedatangan kawanan ubur-ubur.

Gangguan terbaru terjadi ketika gelombang panas, kekeringan, kenaikan suhu air, dan rendahnya debit sungai telah memaksa EDF mengurangi produksi atau menghentikan sementara sejumlah reaktor Prancis sepanjang Juni dan Juli 2026.

Berdasarkan perhitungan AFP dari data EDF yang tersedia sejak 2015, sekitar 15,6 persen kapasitas produksi nuklir Prancis tidak tersedia pada Minggu (9/8/2026), bahkan sebelum tiga reaktor Gravelines kembali dihentikan.

Kerentanan tersebut penting bagi ketahanan energi nasional karena Prancis mengoperasikan 57 reaktor komersial dan menjadikan tenaga nuklir sebagai tulang punggung pasokan listrik rendah karbonnya.

Ubur-Ubur sebagai Alarm Ekologis

Ledakan populasi ubur-ubur tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, tetapi dapat diperkuat oleh pemanasan air laut, kondisi salinitas yang sesuai, arus tenang, masuknya spesies invasif, hilangnya habitat pemangsa, serta penangkapan ikan berlebihan yang mengurangi musuh alami dan pesaing makanannya.

Pencemaran plastik juga menyediakan permukaan tempat polip ubur-ubur menempel dan berkembang, meskipun hubungan antara perubahan iklim dan peningkatan populasi ubur-ubur tidak selalu seragam pada setiap spesies maupun wilayah laut.

Gangguan biologis semacam ini pernah menghentikan pembangkit Oskarshamn di Swedia selama tiga hari pada 2013 serta menyebabkan penurunan produksi pada fasilitas nuklir Jepang, membuktikan bahwa organisme bertubuh lunak dapat menjadi ancaman nyata bagi infrastruktur energi berteknologi tinggi.

Peristiwa Gravelines memperlihatkan paradoks ilmiah zaman modern bahwa pembangkit nuklir yang mampu menghasilkan listrik rendah karbon dalam jumlah sangat besar tetap bergantung pada kestabilan ekosistem perairan di sekelilingnya.

Karena itu, adaptasi pembangkit terhadap perubahan iklim perlu mencakup pemantauan biologi laut secara waktu nyata, penyempurnaan saringan, pemodelan pergerakan kawanan, diversifikasi sumber pendinginan, serta pemulihan ekosistem yang menjaga keseimbangan antara ubur-ubur dan pemangsa alaminya. (Ali)

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: EDF pembangkit nuklir Prancis PLTN Gravelines reaktor nuklir Prancis ubur-ubur