Nama Jalan Syekh Yusuf, Gowa. Ilustrasi dibuat oleh AI.
SulawesiPos.com – Nama Jalan Syekh Yusuf menjadi salah satu nama jalan yang cukup dikenal masyarakat Sulawesi Selatan. Di balik nama tersebut, terdapat kisah panjang seorang ulama asal Gowa yang perjalanan hidupnya tidak hanya tercatat dalam sejarah Sulawesi Selatan, tetapi juga sampai ke Afrika Selatan.
Melansir Instagram resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan @sulselprov, nama Jalan Syekh Yusuf merujuk pada Syekh Yusuf Tajul Khalwati, sosok yang dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka ri Gowa atau Tuan Guru Penyelamat kita di Gowa.
Syekh Yusuf disebut sebagai salah satu tokoh penting yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Syekh Yusuf Tajul Khalwati lahir pada 3 Juli 1626 di Gowa.
Dalam kajian Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan karya Syahril Kila berjudul Syekh Yusuf Tuanta Salamaka: Pemujaannya di Tanah Makassar, Syekh Yusuf disebut lahir di Kampung Parang Loe, Tallo.
Sejak kecil, Syekh Yusuf memiliki kedekatan dengan lingkungan Kerajaan Gowa. Ia disebut dipelihara oleh Sultan Alauddin di istana.
Di sana, Syekh Yusuf sering menemani putri Sultan Alauddin, Siti Daeng Nisanga. Ia juga belajar mengaji dan pengetahuan agama Islam kepada Datok ri Paggentungan.
Ketika dewasa, Syekh Yusuf sempat meminang Siti Daeng Nisanga. Namun, pinangannya ditolak karena persoalan kedudukan sosial.
Setelah itu, Syekh Yusuf disebut bersumpah tidak akan menginjak tanah Gowa sebelum menjadi seorang sufi. Ia kemudian berangkat ke Tanah Suci pada 22 September 1644 untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama.
Perjalanan Syekh Yusuf kemudian berlanjut ke Kesultanan Banten. Di sana, kiprahnya sebagai ulama semakin berkembang.
Syekh Yusuf juga memiliki banyak pengikut dari kalangan orang Makassar dan Bugis yang tinggal di Pulau Jawa. Ketika terjadi perang perebutan takhta di Kesultanan Banten, Syekh Yusuf bersama para pengikutnya memilih bergabung dengan Sultan Ageng untuk menghadapi Sultan Haji yang didukung VOC.
Sikap tersebut membuat Syekh Yusuf menjadi sasaran pengejaran VOC.
Ia akhirnya ditangkap pada Desember 1683 dan diasingkan ke Sailon. Sekitar sepuluh tahun kemudian, pada 1693, Syekh Yusuf kembali dipindahkan, kali ini ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan.
Meski berada jauh dari tanah kelahirannya, pengaruh Syekh Yusuf tidak berhenti.
Di Tanjung Harapan, Syekh Yusuf disebut kemudian menjadi pusat kehidupan kaum Muslimin yang semakin lama semakin kuat.
Namanya juga tetap disebut dengan penuh rasa hormat oleh kaum Muslimin di Afrika Selatan.
Syekh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699. Ia dimakamkan di daerah pertanian Zandvliet, Distrik Stellenbosch. Di lokasi tersebut kemudian didirikan bangunan peringatan di makamnya.
Makam Syekh Yusuf di Afrika Selatan juga tetap memiliki hubungan kuat dengan tanah kelahirannya. Dalam kajian Syahril Kila disebutkan, makam tersebut masih ramai dikunjungi orang-orang Makassar dan Bugis, antara lain untuk bernazar maupun melakukan upacara syukuran.
Jejak Syekh Yusuf di Afrika Selatan kemudian membuat sosoknya tidak hanya dikenang oleh masyarakat Sulawesi Selatan.
Melansir unggahan Instagram resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela menjadikan Syekh Yusuf sebagai role model dalam perjuangan melawan apartheid.
Nelson Mandela juga menyebut Syekh Yusuf sebagai “Salah Seorang Putra Afrika Terbaik”.
Pemerintah Afrika Selatan kemudian memberikan gelar kepahlawanan kepada Syekh Yusuf pada 23 September 2005.
Pengakuan tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan panjang Syekh Yusuf, yang lahir di Gowa tetapi kemudian meninggalkan jejak sejarah hingga Afrika Selatan.
Menariknya, pengasingan Syekh Yusuf justru membuat namanya semakin dikenal di tanah kelahirannya.
Para pengikutnya yang ikut ditangkap VOC awalnya ditahan di Batavia. Setelah Syekh Yusuf diasingkan ke Sailon, para pengikut tersebut kemudian dipulangkan ke Makassar dan tiba pada 22 Maret 1684.
Mereka lalu menceritakan Syekh Yusuf sebagai seorang ulama yang suci, memiliki pengaruh luas dan dikenal sangat gigih menentang VOC.
Dari cerita para pengikutnya, nama Syekh Yusuf semakin harum di Tanah Makassar.
Bahkan, ketika Syekh Yusuf berada dalam pengasingan, muncul gagasan untuk mengembalikannya ke tanah kelahiran agar dijadikan tokoh pemersatu di Butta Gowa. Namun, rencana tersebut tidak terealisasi karena Pemerintah VOC di Batavia menolaknya.
Di Indonesia, jasa Syekh Yusuf juga mendapat pengakuan negara.
Berdasarkan informasi yang dicantumkan dalam unggahan resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto pada 7 Agustus 1995.
Dengan perjalanan hidup yang panjang tersebut, nama Syekh Yusuf kemudian tidak hanya hidup dalam catatan sejarah, tetapi juga melekat pada ruang publik di Sulawesi Selatan.
Jalan Syekh Yusuf di Makassar menjadi salah satu pengingat sosok ulama asal Gowa yang perjalanan hidupnya membentang dari tanah kelahiran, Banten, Sailon, hingga Afrika Selatan.
Syekh Yusuf wafat jauh dari Gowa pada 1699. Namun, namanya tetap dikenang di tanah kelahirannya sebagai Tuanta Salamaka ri Gowa, sekaligus sebagai tokoh yang jejak sejarahnya bahkan melampaui batas Indonesia hingga Afrika Selatan.