Categories: News

Tekan Kemiskinan Alor, Mentan Amran Siapkan 4 Strategi dari Beras Murah hingga Kakao 30 Tahun

SulawesiPos.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyiapkan empat strategi berlapis untuk menekan kemiskinan masyarakat Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Mulai dari menahan harga beras agar tetap terjangkau, memperluas pengembangan padi 3.000 hektare, menyiapkan jagung 3.000 hektare, hingga membangun komoditas perkebunan seperti kakao, jambu mete, dan kelapa yang diproyeksikan menopang pendapatan warga dalam jangka panjang.

Empat langkah itu diumumkan saat kunjungan kerja di Alor pada Sabtu, 8 Agustus 2026, ketika Kementerian Pertanian menegaskan intervensi tidak boleh berhenti pada penanganan stok pangan harian, tetapi harus diarahkan sampai menciptakan sumber penghasilan masyarakat dalam hitungan bulan hingga puluhan tahun.

“Tujuan utamanya pengatasan kemiskinan juga. Justru kemiskinan target kita,” tegas Mentan Amran, Sabtu (8/8).

Strategi pertama difokuskan pada penguatan pasokan dan stabilisasi harga beras agar masyarakat Alor tidak lagi menghadapi lonjakan harga seperti sebelumnya.

Amran mengatakan stok beras kini sudah tersedia di gudang dan harga harus ditekan agar mendekati Jakarta, sehingga warga di wilayah kepulauan tidak terus menanggung beban distribusi yang mahal.

“Beras sudah aman, ada di gudang-gudang sekarang. Harga itu 13 ribu, sama dengan harga Jakarta,” ujar Mentan Amran.

Ia menegaskan kebutuhan pangan tidak bisa menunggu program jangka menengah maupun jangka panjang, sehingga stabilisasi harga menjadi pekerjaan paling mendesak.

“Jangka hari ini, beras harus harga seperti Jakarta,” tegasnya.

Bulog juga diminta memperkuat operasi pasar dan segera menyalurkan beras ke masyarakat ketika harga bergerak naik di wilayah yang membutuhkan.

“Lakukan pasar di mana butuh. Pasar murah,” pinta Mentan Amran kepada Kepala Bulog yang turut hadir mendampingi.

Amran menegaskan lonjakan harga beras tidak boleh kembali terjadi karena pemerintah mengklaim memiliki stok nasional yang kuat untuk intervensi.

“Tidak boleh ada cerita harga 25 ribu. 17 ribu. Jangan sampai lagi harga seperti itu,” ujar Mentan Amran.

“Stok tertinggi selama Republik ini berdiri adalah pada saat zaman Pak Prabowo. Sekarang aman. Kita punya lima juta ton dan kapasitas gudang tiga juta ton. Stok kita berlebih.” katanya.

Padi dan Jagung Disiapkan untuk Hasil Cepat

Strategi kedua diarahkan pada peningkatan produksi pangan masyarakat melalui dukungan benih padi, alat dan mesin pertanian, pompa, serta sarana produksi lain agar lahan yang dikembangkan cepat menghasilkan.

Saat masyarakat mengusulkan pengembangan sekitar 1.000 hektare, Kementan justru menyatakan siap mendukung sampai 3.000 hektare untuk padi.

“Yang jarak pendek adalah, Benih padi tadi yang minta itu 1 hektar. Nah, aku kasih 2 ribu, malah 3 ribu hektar. Mana tadi yang minta 1 hektar? Ketua Kelompok Tani minta 1 hektar. Nah, kita kasih 3 ribu,” ujar Mentan Amran.

Ia mengatakan dukungan itu akan dibarengi benih, alsintan, pompa, dan sarana lain agar panen dapat dirasakan warga dalam waktu relatif singkat.

“Kita beri benih, alsintan, pompa, dan macam-macam. Ini 3 bulan sudah panen. Ya kan? 4 bulan lah,” katanya.

Strategi ketiga dipasang untuk jangka menengah melalui pengembangan jagung seluas 3.000 hektare di Alor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi pertanian berikutnya.

“Kemudian jagung. Tadi sudah ada 3 ribu hektar. Jagung 3 ribu tadi ya. Ini menengah,” ujar Mentan Amran.

Pengembangan jagung diproyeksikan memperluas pilihan usaha masyarakat sambil meningkatkan produktivitas lahan yang tersedia, terutama jika dibarengi benih, sarana produksi, dan pendampingan lapangan.

Kakao, Mente, dan Kelapa untuk Puluhan Tahun

Strategi keempat menjadi lapis jangka panjang melalui pengembangan komoditas perkebunan yang dinilai sesuai dengan karakteristik Alor, yakni kakao, jambu mete, dan kelapa.

Menurut Amran, komoditas perkebunan dipilih bukan sekadar untuk panen musiman, melainkan sebagai fondasi pendapatan keluarga petani yang bisa bertahan lintas generasi.

“Jangka panjang adalah ini. Sudah tumbuh. Ini masa depannya Alor. Kakao ini. Ini menteh, ada kakao, ada kelapa,” kata Mentan Amran.

“Ini bisa bertahan untuk menjaga kesejahteraan masyarakat Alor sampai 30 tahun. Tujuan utamanya pengatasan kemiskinan juga,” tegasnya.

Ia menjelaskan kakao membutuhkan waktu lebih panjang untuk mulai berproduksi, tetapi bisa menjadi sumber pendapatan jangka panjang sebagaimana jambu mete yang disebut cocok dengan kondisi wilayah Alor.

“Kalau ini 2,5 tahun berbuah. Mente juga, ini cocok dengan mente. Begitu berbuah, itu bisa panen 40 tahun. Terus mente. Kalau ini 20–30 tahun,” jelas Mentan Amran.

Dengan skema berlapis itu, Kementan menempatkan beras sebagai penopang kebutuhan hari ini, padi sebagai sumber hasil cepat, jagung sebagai pengungkit ekonomi menengah, dan perkebunan sebagai tabungan kesejahteraan jangka panjang.

“Alor ini makmur ke depan,” pungkas Mentan Amran.

Kristio D. Reski

Share
Published by
Kristio D. Reski
Tags: Alor Andi Amran Sulaiman Beras kementerian pertanian Kemiskinan Ketahanan Pangan Mentan Amran pertanian