Tenaga kesehatan Kongo berpacu melawan penyebaran Ebola ketika laboratorium dan solidaritas menjadi benteng terakhir.
SulawesiPos.com – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Rabu (5/8/2026) mendesak peningkatan besar-besaran operasi penanggulangan wabah Ebola Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo setelah virus yang menyebar sejak pertengahan Mei itu menjangkau lima provinsi, menginfeksi sedikitnya 3.874 orang dan menewaskan 1.751 penderita karena laju penularannya melampaui kemampuan pelacakan, diagnosis, perawatan, serta pengendalian di lapangan.
Peringatan tersebut diberitakan Anadolu Agency dalam laporan James Tasamba yang diterbitkan pada 5 Agustus 2026, berdasarkan laporan situasi terbaru Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo dan kunjungan Tedros ke Kinshas.
Dengan tingkat kematian kasus mencapai 45,1 persen, wabah ini telah menjadi epidemi Ebola terbesar dalam sejarah Republik Demokratik Kongo sekaligus terbesar kedua di dunia berdasarkan jumlah infeksi yang tercatat.
Posisi pertama masih ditempati epidemi Ebola Afrika Barat 2014–2016 yang terutama melanda Guinea, Liberia, dan Sierra Leone dengan lebih dari 28.000 kasus serta sekitar 11.000 kematian.
Tedros mengatakan jumlah kasus baru bahkan meningkat dua kali lipat hanya dalam sepekan di beberapa pusat penularan, sedangkan kapasitas tenaga kesehatan, laboratorium, pusat perawatan, dan tim respons belum berkembang secepat penyebaran virus.
Peringatan itu disampaikan setelah Tedros bertemu pemerintah Kongo, tenaga kesehatan, organisasi kemanusiaan, serta mitra internasional di Kinshasa untuk mengevaluasi hambatan lapangan dan merumuskan percepatan pengendalian wabah.
WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika sebelumnya telah menyusun rencana respons bersama senilai US$518 juta yang mencakup koordinasi kedaruratan, pengawasan epidemiologi, pemeriksaan laboratorium, pengendalian infeksi, perawatan klinis, riset, logistik, serta pelibatan masyarakat.
Wabah tersebut disebabkan virus Bundibugyo, salah satu jenis orthoebolavirus yang dapat menimbulkan penyakit berat dengan gejala awal berupa demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan sebelum berkembang menjadi muntah, diare, gangguan organ, serta perdarahan pada sebagian penderita.
Ebola tidak menular melalui udara seperti influenza atau Covid-19, tetapi menyebar melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, jaringan penderita, benda yang terkontaminasi, atau jenazah korban yang ditangani tanpa perlindungan memadai. WHO
Data hingga 1 Agustus 2026 mencatat 3.748 kasus, 1.657 kematian, dan 708 pasien sembuh sebelum jumlahnya kembali meningkat menjadi 3.874 kasus serta 1.751 kematian dalam laporan terbaru 5 Agustus.
Kasus-kasus tersebut tersebar di 49 zona kesehatan pada lima provinsi, yakni Ituri, Haut-Uele, Tshopo, Kivu Utara, dan Kivu Selatan, sementara sekitar 17.000 orang yang pernah berkontak dengan penderita berada dalam pengawasan.
Lebih dari 80 persen kontak tersebut dipantau setiap hari, tetapi konflik bersenjata, perpindahan penduduk, mobilitas perdagangan, permukiman terpencil, dan lemahnya fasilitas kesehatan menyulitkan petugas menjangkau seluruh rantai penularan.
Tedros menegaskan masyarakat harus ditempatkan di pusat penanggulangan karena pelacakan kontak, isolasi pasien, pemeriksaan dini, dan pemakaman aman tidak mungkin berhasil tanpa kepercayaan serta kepemimpinan komunitas setempat.
Ia juga meminta tenaga kesehatan memperoleh alat pelindung, pelatihan, dukungan psikologis, dan jaminan keselamatan karena infeksi terhadap petugas dapat melumpuhkan pelayanan sekaligus memperbesar ketakutan masyarakat untuk mendatangi fasilitas kesehatan.
Pemakaman yang aman dan bermartabat menjadi bagian penting respons karena tubuh orang yang meninggal akibat Ebola masih mengandung virus dalam konsentrasi tinggi dan dapat menularkannya kepada keluarga maupun petugas pemakaman.
Republik Demokratik Kongo dan Uganda menempatkan laboratorium bergerak di Kasenyi, pesisir barat Danau Albert di Provinsi Ituri, untuk mempercepat diagnosis dan memperkuat pengawasan lintas batas di wilayah yang dihuni lebih dari 94.000 orang. WHO Afrika
Sebelum laboratorium itu beroperasi pada 23 Juli 2026, sampel harus dibawa sejauh 55 kilometer menuju Bunia melalui jalan buruk sehingga konfirmasi kasus dapat membutuhkan waktu sekitar lima jam, sedangkan pemeriksaan di Kasenyi kini mampu memberikan hasil dalam sekitar satu jam.
Unit tersebut dioperasikan sembilan tenaga laboratorium Kongo bersama mitra dari Uganda dan telah memeriksa lebih dari 20 sampel pada hari-hari awal pengoperasiannya.
Kapasitas diagnosis nasional juga meningkat dari hanya dua laboratorium pada awal wabah menjadi 18 laboratorium, sehingga kasus terduga dapat dikonfirmasi lebih cepat sebelum virus menjalar kepada keluarga dan masyarakat.
WHO menegaskan hingga kini belum tersedia vaksin ataupun obat berlisensi yang secara khusus terbukti aman dan efektif terhadap penyakit Ebola Bundibugyo, berbeda dengan vaksin Ervebo yang dikembangkan untuk Ebola virus atau varian Zaire. WHO—Vaksin Ebola
Karena belum ada terapi khusus, pemberian cairan, penggantian elektrolit, pengendalian gejala, penanganan infeksi penyerta, dan perawatan intensif sedini mungkin tetap menjadi cara utama meningkatkan peluang hidup pasien.
Penelitian terus dipercepat melalui uji klinis pengobatan eksperimental di Kongo, sementara vaksin kandidat berbasis teknologi mRNA mulai memasuki uji klinis tahap pertama untuk menilai keamanan, tolerabilitas, dan kemampuan memicu respons imun terhadap virus Bundibugyo. WHO
Krisis ini menunjukkan bahwa wabah di wilayah terpencil dapat berubah menjadi ancaman regional ketika konflik, perpindahan penduduk, keterlambatan diagnosis, kekurangan dana, dan ketidakpercayaan masyarakat bertemu dalam satu keadaan darurat kesehatan.
Keberhasilan menghentikan Ebola karena itu tidak hanya bergantung pada penemuan vaksin, tetapi juga pada kecepatan informasi, perlindungan tenaga medis, keterbukaan masyarakat, solidaritas antarnegara, serta kemampuan dunia menghadirkan layanan kesehatan sebelum virus menemukan korban berikutnya. (Ali)