Categories: News

Amerika–Iran Dekati Kesepakatan Spektakuler Hormuz Hari Ini

SulawesiPos.com – Amerika Serikat, Iran, dan Oman mendekati kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz pada Rabu, hari ini (5/8/2026), melalui pengaturan jalur pelayaran selama 60 hari yang dimediasi sejumlah negara kawasan guna memulihkan gencatan senjata, menormalkan perdagangan energi dunia, dan membuka kembali perundingan mengenai program nuklir Iran.

Rencana tersebut dilaporkan wartawan Barak Ravid dalam Axios pada 5 Agustus 2026 berdasarkan keterangan dua sumber regional dan seorang pejabat Amerika Serikat.

Washington menargetkan pengumuman kesepakatan pada Rabu, hari ini, meskipun rincian teknis dan politik masih harus diselesaikan sebelum seluruh pihak menyatakannya secara resmi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu sebelumnya menunda ancaman melancarkan pengeboman besar terhadap Iran untuk memberikan waktu tambahan bagi diplomasi.

Namun, Trump masih membuka kemungkinan menyetujui serangan luas apabila proses perundingan kembali gagal atau Tehran menolak persyaratan yang dianggap penting oleh Washington.

Kesepakatan yang sedang dirancang akan mengakomodasi sebagian tuntutan Iran untuk memperoleh peranan lebih besar dalam mengatur lalu lintas kapal di Hormuz, sebuah kewenangan yang tidak dimilikinya sebelum perang.

Dua Jalur Baru Membelah Hormuz

Rancangan itu menetapkan seluruh kapal yang memasuki Teluk Persia menggunakan jalur utara melalui perairan Iran, sedangkan kapal yang keluar menuju Laut Arab melewati jalur selatan di perairan Oman dengan koordinasi Tehran.

Kapal-kapal komersial tidak akan dikenai tarif, biaya transit, atau pungutan pelayanan selama masa percobaan 60 hari yang masih dapat diperpanjang berdasarkan persetujuan bersama.

Iran dan Oman juga akan bekerja membersihkan ranjau laut serta hambatan militer dari jalur tengah Hormuz dalam waktu paling lama 30 hari.

Setelah dinyatakan aman, jalur tengah akan digunakan bagi pelayaran masuk dan keluar berdasarkan pengaturan permanen yang selanjutnya dirundingkan Tehran dan Muskat.

Pembagian tersebut memungkinkan Iran mempertahankan pengaruh terhadap kapal yang memasuki Teluk Persia, sementara Oman mengelola koridor keluar menuju Laut Arab sebagai unsur penyeimbang.

Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Tehran dan Muskat telah menyepakati koordinat geografis koridor pelayaran serta memasuki tahap akhir penyusunan pernyataan bersama, sebagaimana dikonfirmasi Reuters pada 5 Agustus 2026.

Namun, Reuters melaporkan bahwa kesepakatan koordinat belum menjamin pembukaan Selat Hormuz karena sejumlah persoalan, termasuk pemeriksaan kapal, keamanan jalur, pungutan jangka panjang, dan blokade Amerika terhadap pelabuhan Iran, masih diperdebatkan.

Diplomasi Senyap Lima Negara

Selain Oman sebagai perantara utama, pejabat Qatar, Pakistan, dan Arab Saudi turut menjalankan diplomasi intensif untuk mencegah pecahnya perang besar yang dapat mengguncang seluruh kawasan.

Gedung Putih juga terlibat aktif melalui sejumlah pembicaraan telepon antara utusan khusus Trump, Steve Witkoff, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dan Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi.

Menurut dua sumber regional Axios, Araghchi menerima rancangan tersebut secara prinsip pada akhir pekan, tetapi pelaksanaannya masih memerlukan persetujuan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Seorang pejabat Amerika dan sumber regional kemudian menyatakan kepemimpinan Iran telah menyelesaikan proses persetujuannya pada Selasa, meskipun Tehran belum mengumumkan keputusan itu secara terbuka.

Kehati-hatian tetap diperlukan karena Gedung Putih, Oman, dan negara-negara mediator pernah mengira kesepakatan serupa telah tercapai tiga pekan sebelumnya, tetapi serangan terhadap kapal kembali terjadi dan memicu pertempuran selama dua minggu.

Hormuz Menentukan Denyut Ekonomi Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab serta dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia pada kondisi normal.

Penutupan atau gangguan pelayaran di kawasan tersebut dapat menaikkan harga minyak, gas, angkutan laut, premi asuransi, listrik, pangan, dan berbagai barang kebutuhan karena biaya energi memengaruhi hampir seluruh mata rantai produksi global.

Kesepakatan sementara selama 60 hari karena itu bukan sekadar pengaturan lalu lintas kapal, melainkan kesempatan untuk menghentikan spiral serangan, memulihkan gencatan senjata, dan membangun kepercayaan sebelum pembahasan perdamaian permanen.

Keberhasilannya juga dapat membuka kembali negosiasi nuklir dengan sasaran mencegah proliferasi senjata atom sekaligus menjamin pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai sesuai pengawasan internasional.

Meski pengumuman ditargetkan pada Rabu, hari ini, kesepakatan baru dapat disebut sebagai terobosan bersejarah apabila ranjau benar-benar dibersihkan, blokade dilonggarkan, kapal kembali berlayar dengan aman, dan semua pihak konsisten menahan kekuatan militernya. (Ali)

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: Iran Konflik Timur Tengah Selat Hormuz kesepakatan Iran-AS