Pekerja memanggul tandan buah segar kelapa sawit di area perkebunan, ilustrasi penguatan ekspor CPO dan produk turunannya.
SulawesiPos.com – Nilai ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang Januari-Juni 2026 tumbuh 7,32 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, dan BPS menilai kenaikan itu menjadi salah satu penopang utama penguatan ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan Indonesia pada semester I 2026.
Pada Juni 2026, nilai ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tercatat mencapai US$485,8 juta.
Secara kumulatif sepanjang Januari-Juni 2026, nilainya mencapai US$2,59 miliar atau naik 1,84 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan penguatan harga CPO di pasar global menjadi faktor penting di balik kenaikan nilai ekspor tersebut.
“Kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan nilai ekspor Indonesia. Sepanjang Januari–Juni 2026, nilai ekspor CPO dan turunannya tercatat tumbuh 7,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Ateng dalam Berita Resmi Statistik BPS, Senin, 3 Agustus 2026.
Secara keseluruhan, total ekspor Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar, naik 4,13 persen dibanding periode yang sama 2025.
Ekspor nonmigas juga meningkat 4,90 persen menjadi US$134,58 miliar, dengan kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati atau HS15, termasuk CPO dan turunannya, menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan.
Pada Juni 2026 saja, nilai ekspor Indonesia mencapai US$25,46 miliar atau meningkat 8,84 persen secara tahunan.
Untuk kelompok HS15, nilai ekspornya naik 10,45 persen, menegaskan bahwa kenaikan harga CPO masih memberi dorongan besar pada kinerja ekspor nasional.
Data BPS menunjukkan CPO dan produk turunannya tetap menjadi salah satu motor utama perdagangan luar negeri Indonesia.
Bersama besi dan baja serta batu bara, komoditas sawit menyumbang sekitar 28,30 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang semester I 2026.
Di antara tiga kelompok komoditas utama tersebut, CPO justru mencatat pertumbuhan nilai ekspor tertinggi, yakni 7,32 persen.
Pada periode yang sama, ekspor besi dan baja turun 0,16 persen, sedangkan batu bara hanya tumbuh 0,63 persen.
Angka itu memperlihatkan kontribusi sawit bukan hanya besar dari sisi pangsa, tetapi juga lebih menonjol dari sisi pertumbuhan nilai dibanding dua komoditas utama lainnya pada paruh pertama 2026.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan penguatan ekspor komoditas pertanian perlu terus didorong lewat hilirisasi agar memberi nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan petani.
“Kita nomor satu dunia. Total sekitar 80 persen produksi CPO dunia dikuasai Indonesia dan Malaysia. Karena itu, hilirisasi CPO menjadi senjata strategis Indonesia,” ujar Amran.
Menurut Amran, posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia memberi ruang besar untuk meningkatkan devisa, tidak hanya dari volume ekspor mentah, tetapi juga dari penguatan industri hilir.
Kementerian Pertanian menyebut dorongan itu akan terus diarahkan agar kenaikan ekspor juga diikuti pertumbuhan nilai tambah di dalam negeri.