Categories: News

Krisis Pusat Data Menghantui Inggris, Ambisi Menjadi Raksasa AI Terancam Kandas

SulawesiPos.com – Ambisi Inggris untuk menjadi salah satu pusat pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dunia menghadapi tantangan serius setelah tingginya harga listrik, lambannya birokrasi, dan keterbatasan infrastruktur jaringan listrik menghambat pembangunan pusat data (data center), demikian dilaporkan The Economist pada Minggu (26/7/2026).

Pusat data merupakan tulang punggung ekonomi digital modern karena menjadi tempat penyimpanan, pengolahan, dan distribusi data yang menopang layanan komputasi awan (cloud computing), kecerdasan buatan, transaksi keuangan digital, hingga berbagai aplikasi pemerintahan dan industri berbasis teknologi.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa biaya listrik bagi sektor industri di Inggris hampir empat kali lebih mahal dibandingkan Amerika Serikat sehingga biaya operasional pusat data menjadi jauh lebih tinggi dan mengurangi daya saing negara tersebut dalam menarik investasi teknologi berskala besar.

Selain persoalan energi, pembangunan pusat data juga terhambat oleh aturan perizinan yang dinilai kurang efisien serta antrean panjang untuk memperoleh sambungan ke jaringan listrik nasional.

Infrastruktur Tertinggal dari Amerika Serikat

Menurut The Economist, kapasitas pusat data per kapita di Inggris hanya sekitar sepertiga dari kapasitas yang dimiliki Amerika Serikat sehingga menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar dalam kesiapan infrastruktur digital kedua negara.

Media itu juga menilai proses reformasi sistem penyambungan listrik berjalan lambat karena banyak usulan perubahan kebijakan masih terhenti pada tahap konsultasi sehingga belum menghasilkan solusi nyata.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama Inggris bukan hanya keterbatasan investasi, melainkan juga hambatan struktural yang mengurangi kecepatan pembangunan infrastruktur digital.

Hugh Milward, salah seorang pejabat Microsoft, menggambarkan situasi itu dengan pernyataan yang menyindir bahwa pembangunan sebuah pusat data hanya membutuhkan waktu sekitar 18 bulan, tetapi memperoleh izin sambungan listrik di Inggris dapat memakan waktu hingga delapan tahun.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa rata-rata waktu tunggu penyambungan listrik di Inggris sekitar sepuluh bulan lebih lama dibandingkan Amerika Serikat yang sebenarnya juga menghadapi peningkatan permintaan energi akibat pertumbuhan industri pusat data.

Ledakan AI Memicu Persaingan Infrastruktur Digital

Perkembangan pesat kecerdasan buatan generatif, komputasi awan, dan analisis data berskala besar telah menyebabkan kebutuhan terhadap pusat data meningkat tajam di seluruh dunia.

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data global akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang karena model AI generasi terbaru memerlukan kapasitas komputasi yang jauh lebih besar dibandingkan teknologi digital sebelumnya.

Kondisi tersebut mendorong berbagai negara berlomba membangun infrastruktur digital yang didukung pasokan energi stabil, jaringan listrik modern, serta regulasi yang mampu mempercepat investasi.

Amerika Serikat, China, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Singapura, India, dan sejumlah negara Asia lainnya kini mempercepat pembangunan pusat data sebagai fondasi transformasi ekonomi digital dan pengembangan kecerdasan buatan nasional.

Reformasi Menjadi Kunci Masa Depan Inggris

Laporan The Economist menjelaskan bahwa Inggris saat ini menerapkan sistem antrean penyambungan listrik berdasarkan prinsip “siapa yang lebih dahulu mendaftar akan lebih dahulu dilayani.”

Sistem tersebut justru mendorong sebagian pengembang mengajukan permohonan sambungan listrik sebelum proyek benar-benar siap dibangun demi mengamankan posisi dalam antrean sehingga memperburuk kemacetan administrasi.

Pemerintah Inggris kini mempertimbangkan sejumlah reformasi, antara lain menghapus proyek-proyek yang tidak serius, membentuk Zona Pertumbuhan Kecerdasan Buatan (AI Growth Zones) untuk memprioritaskan pusat data strategis, hingga membuka kemungkinan mekanisme pembayaran tertentu agar proyek prioritas memperoleh akses lebih cepat terhadap jaringan listrik.

Para pengamat menilai keberhasilan reformasi tersebut akan sangat menentukan kemampuan Inggris mempertahankan posisinya dalam persaingan ekonomi digital global karena pada era kecerdasan buatan, keunggulan suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, tetapi juga oleh kecepatan membangun infrastruktur energi, pusat data, dan ekosistem teknologi yang efisien. (Ali)

Yaslinda Utari

Share
Published by
Yaslinda Utari
Tags: the economist AI Inggris artificial intelligence data center