Categories: News

Tepi Barat Kembali Membara: Serangan Pemukim Israel Picu Gelombang Bentrokan Berdarah, Operasi Militer Meluas di Nablus

SulawesiPos.com – Sedikitnya empat warga Palestina dan dua personel Israel tewas, sementara sejumlah warga Palestina lainnya terluka dalam bentrokan yang dipicu serangan pemukim Israel di beberapa desa di Nablus, Tepi Barat, pada Jumat (24/7/2026). Insiden terjadi di Desa Tel, Beit Furik, dan sejumlah kawasan di sekitar Nablus serta Yerusalem Timur, ketika pemukim bersenjata yang disebut mendapat perlindungan militer Israel menyerang wilayah Palestina, sementara pasukan Israel memperluas operasi keamanan dan menutup akses menuju Nablus. IRNA melaporkan peristiwa tersebut berdasarkan perkembangan pada 24–25 Juli 2026.

Menurut keterangan warga Palestina, bentrokan bermula ketika kelompok pemukim Israel memasuki desa-desa Palestina dan berusaha menyerang permukiman serta lahan milik warga.

Warga setempat kemudian melakukan perlawanan untuk mempertahankan rumah dan tanah mereka sehingga bentrokan dengan cepat meluas.

Di Desa Beit Furik, sebelah timur Nablus, serangan pemukim yang berasal dari permukiman Itamar dilaporkan mengakibatkan beberapa warga Palestina mengalami luka-luka.

Saksi mata menyebut para pemukim bergerak dengan dukungan pasukan Israel yang kemudian ikut memasuki kawasan desa.

Militer Israel menyatakan menerima laporan bahwa sejumlah warga Israel diserang di dekat Desa Tel yang berada di Area A Tepi Barat, yaitu wilayah yang secara administratif berada di bawah Otoritas Palestina dan secara resmi dilarang dimasuki warga sipil Israel.

Menurut versi militer Israel, seorang warga Palestina mengambil senjata milik personel keamanan Israel dan melepaskan tembakan yang menyebabkan seorang perwira serta seorang tentara cadangan Israel tewas sebelum pelaku akhirnya ditembak mati.

Sementara itu, pejabat lokal Palestina menegaskan bentrokan terjadi setelah pemukim Israel lebih dahulu memasuki desa dan berusaha menyerang rumah-rumah warga sehingga memicu perlawanan masyarakat setempat.

Operasi Militer Diperluas, Desa-Desa Palestina Dikepung

Pasca bentrokan, militer Israel menutup seluruh akses utama menuju Kota Nablus dan mengirim tambahan pasukan ke wilayah utara Tepi Barat.

Pasukan Israel juga melancarkan penggerebekan ke Kota Hizma di utara Yerusalem Timur serta menutup Jalan Al-Badan di utara Nablus.

Puluhan pemukim bersenjata dilaporkan menyerang Desa Jit di timur Qalqilya dan merusak lahan pertanian serta berbagai properti milik warga Palestina.

Militer Israel turut mengerahkan pasukan tambahan di sekitar pos pemeriksaan Atara, utara Ramallah, sebagai persiapan operasi lanjutan di kawasan tersebut.

Pasukan Israel juga melakukan penggerebekan ke Desa Beitillu, sebelah barat Ramallah.

Operasi militer di Beit Furik dan Tubas dilaporkan terus berlangsung hingga Jumat malam.

Laporan lapangan dari 24 Juli 2026 juga menyebut warga Palestina turun ke jalan untuk menghadang penggerebekan tentara dan pemukim Israel di Kota Sarra, wilayah Nablus, ketika dua warga dilaporkan terluka dan sejumlah properti Palestina dibakar.

Peristiwa pembakaran rumah serta lahan warga sipil menambah panjang daftar kerusakan yang dialami masyarakat Palestina selama eskalasi terbaru di Tepi Barat.

Tekanan Politik dan Kekhawatiran Internasional Meningkat

Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir memimpin rapat evaluasi keamanan bersama kepolisian dan badan intelijen Israel serta memerintahkan penguatan besar-besaran pasukan di kawasan Tepi Barat.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menggelar pertemuan dengan Menteri Pertahanan Israel Katz untuk menentukan langkah lanjutan setelah insiden mematikan tersebut.

Di sisi lain, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyerukan penghancuran desa tempat terjadinya serangan dan menyatakan perlakuan terhadap desa-desa di Tepi Barat harus menyerupai operasi militer yang dilakukan Israel di Jalur Gaza.

Pernyataan tersebut memicu kritik karena dinilai berpotensi meningkatkan eskalasi kekerasan terhadap warga sipil.

Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya melaporkan bahwa sejak awal 2026, serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat meningkat tajam dengan puluhan korban jiwa dan ratusan korban luka.

Sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional juga terus memperingatkan bahwa meningkatnya serangan pemukim, perluasan operasi militer, pembakaran properti sipil, serta pembatasan akses di Tepi Barat berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan dan menghambat upaya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Para pengamat menilai eskalasi terbaru menunjukkan bahwa ketegangan di Tepi Barat kini tidak lagi terbatas pada operasi keamanan, tetapi telah berkembang menjadi konflik yang semakin kompleks karena melibatkan pemukim bersenjata, operasi militer, dan meningkatnya dampak terhadap masyarakat sipil, sehingga memperbesar kekhawatiran dunia terhadap stabilitas kawasan Asia Barat. (Ali)

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: Konflik Timur Tengah palestina operasi militer Nablus