Nanik S Deyang, mantan wartawati yang menjadi Kepala BGN namun kemudian mengundurkan diri pada Rabu 22 Juli 2026.
SulawesiPos.com – Nanik Sudaryati Deyang atau Nanik S Deyang menjadi salah satu nama yang paling cepat menanjak di lingkar kekuasaan Presiden Prabowo Subianto. Perempuan kelahiran Madiun, Jawa Timur, 3 Januari 1968 itu memulai perjalanan dari ruang redaksi, masuk ke barisan pendukung Prabowo pada Pilpres 2019, lalu melesat ke jabatan strategis di pemerintahan hingga memimpin Badan Gizi Nasional (BGN), sebelum mundur pada Rabu, 22 Juli 2026, untuk berobat jantung ke luar negeri.
Sebelum masuk ke politik dan birokrasi, Nanik lebih dulu dikenal sebagai jurnalis. Ia mengawali karier sebagai wartawati di Tabloid Bangkit yang berada di bawah kelompok media Kompas Gramedia.
Setelah itu, karier medianya berkembang di Kelompok Media Peluang, dengan jejak di sejumlah posisi seperti pemimpin umum, direktur utama, hingga komisaris di beberapa media, antara lain Femme, Info Kecantikan, Info Kuliner, Peluang Usaha, dan The Politic.
Latar belakang panjang di media membuat Nanik dikenal punya kemampuan komunikasi publik yang kuat. Jejak itu ikut membentuk citranya ketika kemudian masuk lebih dalam ke panggung politik nasional.
Nama Nanik mulai banyak disorot saat bergabung ke lingkaran pendukung Prabowo Subianto. Pada Pemilihan Presiden 2019, ia berada di kubu Prabowo-Sandiaga Uno dan menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Koalisi Adil Makmur.
Dari fase inilah Nanik dikenal luas sebagai salah satu sosok yang sangat dekat dengan perjuangan politik Prabowo.
Kedekatan politik itu lalu berlanjut ke jalur pemerintahan setelah Prabowo memenangkan Pilpres 2024. Nanik dipercaya menjadi Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan periode 2024-2029 melalui Keputusan Presiden Nomor 145/P Tahun 2024.
Di fase ini, ia bekerja bersama Budiman Sudjatmiko dalam agenda percepatan pengentasan kemiskinan nasional.
Karier Nanik terus menanjak. Pada Juni 2025, ia ditunjuk sebagai Komisaris Independen PT Pertamina (Persero). Beberapa bulan kemudian, tepatnya 17 September 2025, Prabowo mengangkatnya sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, sekaligus memberhentikannya dari posisi di badan percepatan pengentasan kemiskinan.
Di BGN, Nanik bukan figur yang hanya duduk di belakang meja. Dalam perannya sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, ia juga menjadi Ketua Pelaksana Harian Tim Koordinasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia kerap tampil di depan publik, melakukan inspeksi ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), menyoroti standar higienitas, tata letak dapur, sampai kelayakan fasilitas bagi petugas di lapangan.
Langkah-langkah itu membuat nama Nanik makin menonjol di tubuh BGN. Ketika Presiden Prabowo mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala BGN pada 2 Juni 2026, Nanik ditunjuk sebagai pengganti. Enam hari kemudian, Senin, 8 Juni 2026, ia resmi dilantik sebagai Kepala BGN.
Saat Nanik naik menjadi Kepala BGN, lembaga itu sedang berada dalam tekanan besar. Program MBG yang menjadi salah satu agenda unggulan pemerintahan Prabowo dibayangi berbagai persoalan, mulai dari evaluasi tata kelola, kualitas makanan, penataan dapur MBG, hingga tekanan anggaran dan tunggakan kepada pihak ketiga.
Di saat yang sama, KPK mengidentifikasi delapan potensi korupsi dalam program MBG, sedangkan Kejaksaan Agung mengusut dugaan penyimpangan tata kelola, termasuk pengadaan motor listrik bernilai lebih dari Rp1 triliun. Di luar itu, BGN juga disorot setelah muncul klaim investor yang menuntut pengembalian dana ratusan miliar rupiah terkait pengelolaan titik dapur MBG.
Dalam situasi seperti itu, Nanik sempat mendorong efisiensi anggaran, moratorium pendaftaran SPPG baru, dan penyisiran ulang penerima manfaat. Namun masa jabatannya sebagai Kepala BGN berjalan singkat.
Pada Rabu, 22 Juli 2026, Nanik menyatakan mundur dari jabatan Kepala BGN setelah berpamitan kepada Presiden Prabowo Subianto. Alasan yang disampaikan adalah kondisi kesehatan, karena ia akan berangkat ke luar negeri untuk menjalani pengobatan jantung dan mencari second opinion.
Pengunduran diri itu menutup babak singkat tetapi menonjol dalam perjalanan karier Nanik di pucuk BGN. Dari wartawan, masuk ke lingkar politik Prabowo, naik ke jabatan-jabatan strategis pemerintahan, hingga akhirnya mundur di tengah tekanan besar pada program yang menjadi salah satu prioritas nasional.