Nanik S Deyang, mantan wartawati yang kemudian memimpin BGN, menangis saat membahas kasus siswa keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis sebelum akhirnya mundur dari jabatan Kepala BGN pada Rabu, 22 Juli 2026.
SulawesiPos.com – Nanik S Deyang menjelma menjadi salah satu figur yang paling cepat naik di lingkar kekuasaan Presiden Prabowo Subianto. Ia memulai jejaknya sebagai wartawati dan pengelola media, lalu masuk ke barisan pendukung politik Prabowo, menanjak menjadi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), naik ke kursi Kepala BGN pada 8 Juni 2026, dan akhirnya mundur pada Rabu, 22 Juli 2026, untuk menjalani pengobatan jantung ke luar negeri.
Namun, perjalanan Nanik tidak hanya berisi promosi jabatan. Di sepanjang lintasan itu, ia juga meninggalkan sejumlah kisah menarik dan pernyataan yang berkali-kali memancing sorotan publik, mulai dari gaya komunikasinya yang emosional, sikapnya yang keras di internal program Makan Bergizi Gratis (MBG), sampai komentar-komentar yang dianggap terlalu blak-blakan di tengah tekanan besar terhadap BGN.
Nanik lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968. Rekam jejak yang dirangkum ANTARA menunjukkan ia lebih dulu berkarier sebagai jurnalis di Tabloid Bangkit yang berada di bawah kelompok media Kompas Gramedia.
Setelah itu, ia aktif di Kelompok Media Peluang dan menempati sejumlah posisi strategis di beberapa media, antara lain sebagai Pemimpin Umum Femme, Direktur Utama Info Kecantikan, serta komisaris di Info Kuliner, Peluang Usaha, dan The Politic.
Jejak media itu membuat Nanik terbiasa berada di ruang komunikasi publik. Saat kemudian masuk ke politik nasional, ia bukan tipe figur yang canggung di depan kamera atau mikrofon. Justru dari situ pula gaya bicaranya mulai menjadi bagian dari citra publiknya.
Nama Nanik semakin dikenal ketika bergabung ke kubu Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden 2019. Ia berada di barisan Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi dan dikenal sebagai salah satu loyalis yang cukup vokal.
Kedekatannya dengan kubu itu ikut tersorot ketika ia diperiksa polisi sebagai saksi dalam penyidikan kasus hoaks Ratna Sarumpaet pada Oktober 2018, karena penyidik mendalami alur penyebaran informasi yang saat itu mengguncang panggung politik nasional.
Selepas Prabowo memenangi Pilpres 2024, karier Nanik melesat ke pemerintahan. Ia diangkat menjadi Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, lalu dipercaya masuk ke BGN sebagai Wakil Kepala Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.
Di lembaga inilah nama Nanik semakin sering muncul karena ia kerap turun memantau dapur MBG dan mendorong standar yang lebih ketat.
Pemerintah bahkan secara terbuka menyebut pengalaman dan ketegasan Nanik sebagai alasan utama penunjukannya menjadi Kepala BGN pada awal Juni 2026.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi saat itu mengatakan Nanik dinilai sangat ketat dalam urusan disiplin SOP, manajemen, dan kualitas makanan untuk penerima manfaat.
Salah satu momen yang paling membekas dalam perjalanan Nanik terjadi saat BGN dihantam rentetan kasus keracunan MBG pada September 2025. Saat itu, Nanik yang masih menjabat Wakil Kepala BGN tampil meminta maaf kepada publik sambil menangis. Ia mengaku sedih melihat anak-anak harus digotong ke puskesmas dan menegaskan bahwa satu anak sakit pun adalah tanggung jawab pelaksana program.
Momen itu membuat Nanik tampil bukan sekadar sebagai pejabat teknokratis, tetapi juga figur yang berusaha menunjukkan sisi emosional di depan publik. Di satu sisi, sebagian orang melihatnya sebagai bentuk empati. Di sisi lain, kritik tetap datang karena publik menuntut perbaikan sistem, bukan hanya pernyataan maaf.
Pada fase lain, Nanik juga sempat menuai perhatian saat membolehkan masyarakat mengunggah menu MBG ke media sosial. Ia menegaskan pihaknya tidak pernah melarang orang tua siswa, guru, atau warga memotret lalu menyebarkan kondisi menu MBG, termasuk jika menu itu dinilai bermasalah. Sikap ini dianggap menarik karena ia justru membuka ruang pengawasan publik terhadap program yang sangat besar dan sensitif.
Namun pernyataan paling kontroversial Nanik justru muncul ketika ia menanggapi tudingan keterlibatan dirinya dalam dugaan korupsi MBG. Dalam tayangan yang kemudian ramai dikutip sejumlah media pada Juni 2026, Nanik menyebut dirinya sudah 14 tahun mengikuti Prabowo dan tidak punya alasan mengambil uang secara tidak sah. Dalam pernyataan yang viral itu, ia juga melontarkan kalimat bahwa jika tidak punya uang, ia tinggal meminta kepada Prabowo, lalu menambahkan bahwa dirinya sudah kaya sejak lahir.
Pernyataan tersebut segera memicu reaksi keras. Sebagian orang melihatnya sebagai upaya membela diri secara spontan. Tetapi bagi yang lain, kalimat itu dianggap problematik karena keluar dari seorang pejabat publik yang sedang memimpin lembaga dengan anggaran sangat besar dan tengah berada di bawah sorotan tata kelola.
Sorotan terhadap Nanik makin tebal ketika BGN diguncang isu dugaan korupsi tata kelola MBG, klaim investor ratusan miliar rupiah, hingga polemik pengadaan motor listrik. Dalam salah satu momen usai rapat dengan DPR pada pertengahan Juni 2026, Nanik juga menjadi sorotan karena memilih menghindari pertanyaan wartawan soal polemik motor listrik MBG. Sikap bungkam itu ikut memperkuat kesan bahwa kepemimpinannya berada dalam tekanan berat.
Di tengah kontroversi, Nanik sempat memperlihatkan garis kebijakan yang tegas setelah naik menjadi Kepala BGN. Ia mendorong efisiensi anggaran, moratorium titik dapur baru, pembenahan dapur yang sudah berjalan, dan penataan ulang penerima manfaat agar kualitas tidak turun. Dalam bahasa pemerintah, Nanik dipilih justru untuk membereskan fase sulit di tubuh BGN.
Tetapi masa jabatannya di kursi tertinggi BGN berjalan singkat. Pada Rabu, 22 Juli 2026, Nanik menyatakan mundur setelah berpamitan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk berobat jantung ke luar negeri. Pengunduran diri itu menutup babak pendek tetapi penuh sorotan dalam kariernya.
Kisah Nanik akhirnya menjadi campuran antara mobilitas karier yang cepat, kedekatan politik yang sangat kuat dengan Prabowo, gaya komunikasi yang sering emosional dan blak-blakan, serta serangkaian pernyataan yang membuat namanya terus diperdebatkan. Dari ruang redaksi, panggung politik, sampai pucuk BGN, Nanik meninggalkan jejak yang tidak pernah benar-benar sepi dari perhatian publik.*