Selat Hormuz membeku, dunia menahan napas ketika jalur energi global terjebak pusaran konflik geopolitik
SulawesiPos.com – Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur distribusi energi terpenting di dunia, dilaporkan hampir terhenti pada Kamis (9/7/2026), setelah meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran serta berulangnya pelanggaran gencatan senjata yang memicu kekhawatiran terhadap keselamatan navigasi di kawasan tersebut.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa hampir seluruh aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz berhenti, sementara pergerakan kapal yang masih terpantau hanya berlangsung pada jalur pelayaran di sisi utara selat yang berada di bawah koordinasi otoritas Iran.
Bloomberg melaporkan bahwa koridor pelayaran di sisi Oman yang selama ini banyak digunakan kapal-kapal internasional tampak nyaris tidak menunjukkan aktivitas, sehingga menandai salah satu gangguan lalu lintas laut terbesar sejak meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia.
Dalam beberapa hari sebelumnya rata-rata sekitar 32 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz setiap hari, namun meningkatnya ketegangan militer membuat arus pelayaran turun drastis hingga mendekati kondisi terhenti.
Menurut data yang dikutip Bloomberg, di antara kapal-kapal berukuran besar hanya terlihat sebuah kapal tanker raksasa yang sedang keluar dari Teluk Persia serta sebuah kapal kontainer berbendera Iran yang masih melintasi selat tersebut.
Ketidakpastian keamanan laut itu segera memicu reaksi pasar energi internasional sehingga harga minyak mentah Brent kembali melampaui US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak pengumuman gencatan senjata beberapa waktu sebelumnya.
Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab sehingga menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dan gas alam dari negara-negara Teluk seperti Iran, Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.
Berbagai lembaga energi internasional memperkirakan sekitar seperlima hingga seperempat perdagangan minyak dunia melewati selat ini setiap hari sehingga setiap gangguan, sekecil apa pun, hampir selalu langsung memengaruhi harga energi global, biaya logistik internasional, inflasi, serta stabilitas ekonomi banyak negara.
Karena nilai strategisnya yang sangat tinggi, Selat Hormuz selama beberapa dekade menjadi salah satu kawasan maritim dengan tingkat pengamanan paling ketat di dunia serta sering menjadi titik persaingan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara Barat.
Dalam perkembangan terbaru, Ketua Majelis Syura Islam Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa pembukaan lalu lintas Selat Hormuz hanya dapat dilakukan melalui koordinasi dengan Iran dan tidak akan ditentukan berdasarkan tekanan maupun ancaman dari Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa jalur pelayaran internasional di kawasan itu tidak hanya dipengaruhi oleh faktor teknis pelayaran, tetapi juga sangat bergantung pada dinamika politik dan keamanan regional.
Nama Hormuz memiliki sejarah yang sangat panjang dan telah dikenal sejak masa perdagangan maritim kuno di Teluk Persia.
Sebagian besar sejarawan mengaitkan nama tersebut dengan Kerajaan Hormuz (Kingdom of Hormuz), sebuah kerajaan maritim yang berkembang antara abad ke-11 hingga abad ke-17 dan menguasai perdagangan rempah-rempah, mutiara, sutra, serta komoditas penting yang menghubungkan India, Persia, Jazirah Arab, Afrika Timur, dan Eropa.
Nama kerajaan itu kemudian diabadikan menjadi nama pulau, selat, serta wilayah di sekitarnya yang kini dikenal sebagai Selat Hormuz.
Secara etimologis, sejumlah ahli bahasa Persia menghubungkan kata Hormuz dengan bentuk Hormoz atau Hormazd, yang berasal dari nama Ahura Mazda (Ohrmazd), yakni Tuhan Yang Maha Bijaksana dalam tradisi agama Zoroaster, sehingga nama tersebut secara historis memiliki makna yang berkaitan dengan “kebijaksanaan ilahi”, “kemuliaan”, atau “penguasa agung”.
Dalam bahasa Persia modern nama itu ditulis هرمز (Hormoz), sedangkan dalam literatur internasional dikenal sebagai Hormuz.
Warisan sejarah tersebut menunjukkan bahwa kawasan Hormuz sejak ribuan tahun silam telah menjadi simpul peradaban, perdagangan, dan diplomasi yang menghubungkan Asia Barat dengan berbagai kawasan dunia.
Para analis energi menilai bahwa setiap gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak mentah, gas alam cair (LNG), serta berbagai komoditas strategis lainnya yang menjadi penopang industri global.
Apabila ketegangan terus meningkat tanpa adanya jaminan keamanan pelayaran internasional, biaya pengiriman, premi asuransi kapal, serta harga energi diperkirakan akan kembali mengalami kenaikan yang pada akhirnya dapat memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara.
Perkembangan situasi di Selat Hormuz kini terus dipantau oleh pemerintah, pelaku industri energi, perusahaan pelayaran internasional, serta pasar keuangan dunia karena kawasan ini tetap menjadi salah satu titik paling menentukan bagi stabilitas perdagangan dan keamanan energi global. (Ali)