Categories: News

Di NTB, Mentan Amran Kenalkan PM-AAS, Bidik Indonesia Jadi Eksportir Beras

SulawesiPos.com, Lombok Tengah – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi negara pengekspor beras melalui penerapan teknologi budidaya Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS).

Inovasi yang dikembangkan Kementerian Pertanian tersebut diyakini mampu melipatgandakan produktivitas padi sehingga tidak hanya memperkuat swasembada, tetapi juga menghasilkan surplus beras untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia.

Optimisme tersebut disampaikan Mentan Amran saat meninjau pertanaman padi PM-AAS di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7/2026).

Menurut Amran, rata-rata produktivitas padi nasional saat ini masih berada di kisaran 5 ton per hektare. Melalui penerapan PM-AAS, produktivitas ditargetkan meningkat hingga sekitar 10 ton per hektare. Jika teknologi ini diterapkan secara luas di sekitar 4 juta hektare lahan sawah beririgasi, Indonesia berpotensi memperoleh tambahan produksi sekitar 20 juta ton gabah setiap musim tanam.

Dengan intensitas tanam tiga kali dalam setahun, tambahan produksi tersebut dapat mencapai sekitar 60 juta ton gabah atau setara sekitar 30 juta ton beras. Jumlah itu dinilai cukup untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus membuka peluang ekspor ke berbagai negara.

“Kalau totalnya kita fokus di lahan irigasi, ada tambahan sekitar lima ton per hektare, berarti ada tambahan 20 juta ton. Kalau tanamnya tiga kali berarti 60 juta ton. Kalau menjadi beras sekitar 30 juta ton. Sekarang sudah swasembada. Artinya, 30 juta ton itu bisa dikirim ke negara-negara seluruh dunia,” ujar Mentan Amran.

Amran menegaskan, keberhasilan mencapai swasembada beras bukanlah tujuan akhir. Tahap berikutnya adalah meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani melalui penerapan teknologi modern yang telah diuji dan disesuaikan dengan kondisi pertanian Indonesia.

Menurutnya, PM-AAS merupakan hasil pengembangan selama dua tahun dengan mengombinasikan teknologi budidaya modern dari Amerika Serikat dan sistem tanam jajar legowo yang telah lama diterapkan petani Indonesia. Dari berbagai uji lapangan, metode tersebut bahkan mampu menghasilkan produktivitas hingga 12 ton per hektare.

“Swasembada alhamdulillah sudah tercapai berkat Bapak Ibu semua. Nah sekarang pendekatannya adalah kesejahteraan. Itulah pentingnya teknologi. Kami pelajari dua tahun. Kami gabungkan metode Amerika dengan metode Indonesia, jajar legowo. Kami cek bahkan ada produksi 12 ton. Jadi minimal 10 ton saja,” katanya.

PM-AAS bekerja dengan meningkatkan populasi tanaman dari sekitar 320–350 ribu rumpun menjadi minimal 800 ribu hingga satu juta rumpun per hektare. Untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang lebih rapat, Kementerian Pertanian merekomendasikan penggunaan pupuk NPK sebanyak 400 kilogram per hektare, pupuk urea 300 kilogram per hektare, serta pupuk organik 1–2 ton per hektare.

Mentan Amran meminta seluruh penyuluh pertanian lapangan (PPL) memastikan setiap tahapan budidaya diterapkan secara disiplin agar produktivitas sesuai target.

“Yang paling penting tolong sampaikan ke petani. Pupuk NPK 400 kilogram per hektare, jangan sampai salah. Ureanya 300 kilogram per hektare, kemudian pupuk organik 1 sampai 2 ton. Populasinya meningkat dari 320 sampai 350 ribu rumpun menjadi satu juta atau minimal 800 ribu rumpun. Karena populasinya meningkat, produksinya juga bisa meningkat dua kali lipat,” jelasnya.

Selain meningkatkan produksi nasional, Amran menegaskan tujuan utama PM-AAS adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan produktivitas minimal 8 ton per hektare, bahkan berpotensi mencapai 10–12 ton, pendapatan petani diperkirakan meningkat signifikan.

“Kalau disiplin, produksinya tidak akan di bawah delapan ton. Bisa 10 ton, bahkan 12 ton. Kalau sawahnya satu hektare, rata-rata pendapatannya bisa sekitar Rp16,3 juta per bulan. Artinya di atas gaji pegawai. Kalau petani sudah sejahtera, tidak perlu lagi dipaksa menanam karena pemerintah sudah menetapkan HPP Rp6.500,” ujarnya.

Keberhasilan Indonesia meningkatkan produksi beras juga mulai menarik perhatian dunia. Menurut Amran, sejumlah menteri pertanian dari berbagai negara telah datang maupun menyampaikan keinginan untuk belajar langsung mengenai transformasi pertanian Indonesia, termasuk peran penyuluh dalam mendampingi petani.

“Sekarang menteri dari Belarus, Lebanon, Singapura, Australia, Kanada sampai Chili ingin belajar ke Indonesia. Itu berarti ingin belajar ke PPL Indonesia. Ini kebanggaan kita dan kebanggaan Indonesia,” katanya.

Karena itu, Amran memberikan apresiasi kepada para penyuluh pertanian yang dinilainya menjadi ujung tombak keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras dalam waktu singkat.

“Anda adalah pahlawan pangan dan andalah yang menjadikan Indonesia swasembada tercepat. Hari ini menjadi kenyataan, stok kita banyak. Kita harus terus kompak membangun pertanian Indonesia. Kalau pangan bermasalah, negara bermasalah. Artinya, penyuluh adalah ujung tombak negara ini,” tegasnya.

Untuk mempercepat penerapan PM-AAS, Kementerian Pertanian menyiapkan bantuan benih gratis bagi pengembangan seluas satu juta hektare pada tahun ini. Bantuan akan disalurkan melalui mekanisme calon petani dan calon lokasi (CPCL) dengan pendampingan intensif oleh PPL, khusus bagi petani yang menerapkan metode PM-AAS.

Pada kesempatan tersebut, Mentan Amran juga memastikan kondisi pangan nasional berada dalam kondisi aman. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini telah mencapai sekitar 5,2 juta ton, menjadi stok tertinggi dalam sejarah Indonesia sekaligus modal penting untuk menjaga stabilitas pangan nasional dan mendukung langkah menuju Indonesia sebagai negara pengekspor beras.

Kristio D. Reski

Share
Published by
Kristio D. Reski
Tags: Andi Amran Sulaiman ekspor beras kementerian pertanian Lombok Tengah Mentan Amran NTB PM-AAS Produktivitas Padi swasembada pangan