Trump berorasi menghidupkan kembali isu komunisme sebagai ancaman terhadap agama menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat
SulawesiPos.com – Ketua DPR Amerika Serikat Mike Johnson pada awal Juli 2026 memperingatkan bahwa kaum “komunis” dapat meraih kekuasaan melalui pemilu paruh waktu November setelah Partai Republik melihat kemenangan sejumlah kandidat sosialis demokrat dalam pemilihan pendahuluan di New York dan Denver, sehingga isu komunisme kembali dijadikan senjata kampanye untuk menyerang Partai Demokrat dan menggalang pemilih konservatif sebagaimana dilaporkan Associated Press, Kamis (2/7/2026).
Johnson mengatakan pertarungan politik Amerika tidak lagi sekadar antara “akal sehat melawan kegilaan,” tetapi telah berubah menjadi “akal sehat melawan komunisme.”
Ia menyebut kandidat yang dihadapi Partai Republik berasal dari kelompok “Marxis, komunis, dan sosialis,” sambil memperingatkan bahwa “orang-orang barbar sudah berada di gerbang.”
Pernyataan itu muncul setelah Partai Republik melihat kemenangan kandidat kiri progresif yang dikaitkan dengan gelombang politik Zohran Mamdani di New York dan kemenangan Melat Kiros dalam pemilihan pendahuluan Demokrat di Denver.
Partai Republik menilai kemenangan tersebut dapat dijadikan bukti bahwa Demokrat sedang bergerak terlalu jauh ke kiri, meskipun sosialisme demokrat secara politik tidak sama dengan komunisme yang menghapus kepemilikan pribadi secara luas.
Presiden Donald Trump sebelumnya menuduh Demokrat sebagai “komunis tak bertuhan” dalam pidato di forum Faith & Freedom Coalition di Washington, 26 Juni 2026, dan menyebut mereka sebagai ancaman terhadap “cara hidup tradisional Amerika.”
Trump kembali memperkuat narasi itu pada awal Juli 2026, termasuk saat menghadiri pembukaan Theodore Roosevelt Presidential Library di North Dakota dan dalam rangkaian pidato peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat.
Ia menggambarkan komunisme sebagai “kanker” yang harus dihentikan cepat, sambil menyatakan bahwa ancaman itu lebih besar daripada perang besar dan serangan teror dalam sejarah Amerika.
Namun, strategi ini berisiko tidak sepenuhnya efektif karena sebagian pemilih muda Amerika tumbuh setelah Perang Dingin dan tidak merespons isu komunisme dengan ketakutan yang sama seperti generasi sebelumnya.
AP mencatat bahwa dukungan publik Amerika terhadap kapitalisme tidak sekuat beberapa dekade lalu, sementara sebagian pemilih Demokrat muda lebih terbuka terhadap gagasan sosialisme dalam konteks kesehatan universal, pajak orang kaya, dan regulasi korporasi.
Kembalinya isu komunisme menunjukkan bahwa pemilu paruh waktu Amerika 2026 tidak hanya diperebutkan melalui isu ekonomi, tetapi juga melalui ketakutan ideologis, agama, dan identitas budaya.
Bagi Partai Republik, narasi ini menjadi cara untuk menyatukan basis konservatif di tengah tekanan soal harga kebutuhan hidup, perang Iran, dan kepuasan publik terhadap pemerintahan Trump.
Bagi Demokrat, kemenangan kandidat kiri progresif menjadi ujian serius karena partai harus menyeimbangkan tuntutan perubahan ekonomi dari pemilih muda dengan kekhawatiran kelompok moderat terhadap citra terlalu radikal.
Dengan demikian, serangan Johnson dan Trump terhadap Demokrat sebagai “komunis” memperlihatkan betapa tajamnya polarisasi politik Amerika menjelang pemilu paruh waktu November 2026. (Ali)