Tanda-Tanda Dampak Asteroid Besar Ditemukan di Dasar Laut Utara

SulawesiPos.com – Tim ilmuwan yang dipimpin Heriot-Watt University akhirnya memastikan bahwa Kawah Silverpit di dasar Laut Utara terbentuk akibat hantaman asteroid berdiameter sekitar 160 meter yang terjadi 43–46 juta tahun lalu, bukan akibat aktivitas vulkanik maupun pergerakan endapan garam seperti yang lama diperdebatkan, dan tumbukan tersebut memicu tsunami setinggi lebih dari 100 meter hanya dalam hitungan menit setelah benturan. Temuan itu dipublikasikan Heriot-Watt University pada 29 Juni 2026 melalui jurnal Nature Communications, kemudian diulas lebih lanjut oleh BBC Wildlife pada Rabu (1/7/2026).

Penelitian tersebut mengakhiri perdebatan ilmiah yang telah berlangsung lebih dari dua dekade sejak struktur bawah laut itu pertama kali ditemukan pada 2002.

Kawah Silverpit berada sekitar 700 meter di bawah dasar Laut Utara atau sekitar 130 kilometer dari pesisir Yorkshire, Inggris, dengan diameter sekitar tiga kilometer dan dikelilingi cincin patahan batuan selebar hampir 20 kilometer.

Selama bertahun-tahun sebagian ahli meyakini kawah itu terbentuk akibat tumbukan asteroid berkecepatan sangat tinggi, sementara kelompok lain berpendapat struktur tersebut merupakan hasil pergerakan endapan garam bawah tanah atau runtuhan akibat aktivitas vulkanik.

Bahkan dalam forum ilmiah pada 2009, mayoritas geolog sempat menolak hipotesis bahwa Silverpit berasal dari tumbukan benda langit.

Bukti Baru Mengakhiri Perdebatan Ilmiah

Tim peneliti memanfaatkan teknologi pencitraan seismik resolusi tinggi yang mampu menghasilkan gambaran rinci lapisan batuan di bawah permukaan bumi menggunakan gelombang suara.

Selain itu, para ilmuwan menganalisis sampel batuan dari sumur eksplorasi minyak di sekitar lokasi kawah.

Analisis tersebut menemukan kristal kuarsa dan feldspar yang mengalami shock metamorphism, yakni perubahan struktur mikroskopis akibat tekanan ekstrem yang hanya dapat terbentuk ketika asteroid atau komet menghantam permukaan bumi dengan kecepatan sangat tinggi.

Ketua peneliti, Dr. Uisdean Nicholson dari Heriot-Watt University, menyatakan bahwa penemuan mineral tersebut merupakan bukti yang tidak terbantahkan mengenai asal-usul kawah Silverpit sebagai kawah tumbukan asteroid.

Model simulasi komputer yang dikembangkan tim juga memperlihatkan bahwa asteroid datang dari arah barat dengan sudut tumbukan rendah sebelum menghantam dasar laut.

Benturan itu dalam beberapa menit membentuk semburan air dan batuan setinggi sekitar 1,5 kilometer sebelum runtuh kembali ke laut dan menghasilkan tsunami dengan tinggi melebihi 100 meter, atau lebih tinggi dibandingkan Menara Big Ben di London yang memiliki tinggi sekitar 96 meter. Sumber: BBC Wildlife, 1 Juli 2026.

Pelajaran Penting bagi Mitigasi Ancaman Asteroid

Meskipun asteroid penyebab Silverpit jauh lebih kecil dibanding asteroid pembentuk Kawah Chicxulub di Meksiko yang dikaitkan dengan kepunahan dinosaurus sekitar 66 juta tahun lalu, energinya tetap cukup besar untuk menyebabkan kerusakan dahsyat pada kawasan pesisir di sekitarnya.

Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi pada kala Eosen Tengah, ketika mamalia modern mulai berkembang pesat, termasuk nenek moyang rusa, sapi, paus, dan lumba-lumba.

Menurut para peneliti, hanya sekitar 200 kawah tumbukan yang telah terkonfirmasi di daratan bumi dan sekitar 33 kawah yang berhasil diidentifikasi berada di bawah lautan.

Jumlah yang sangat sedikit itu disebabkan permukaan bumi terus berubah akibat erosi, aktivitas tektonik lempeng, sedimentasi, dan vulkanisme yang secara perlahan menghapus jejak-jejak tumbukan purba selama jutaan tahun.

Konfirmasi terhadap asal-usul Silverpit kini menempatkannya sejajar dengan sejumlah kawah tumbukan terkenal dunia, termasuk Chicxulub di Meksiko dan Kawah Nadir di lepas pantai Afrika Barat yang juga baru dikonfirmasi dalam beberapa tahun terakhir.

Membaca Masa Lalu untuk Melindungi Masa Depan

Penelitian Silverpit tidak hanya menjelaskan sejarah geologi Bumi, tetapi juga menjadi laboratorium alam yang sangat berharga untuk memahami bagaimana tumbukan asteroid membentuk evolusi planet-planet berbatu di Tata Surya.

Temuan ini juga memperkuat pentingnya pemantauan Near-Earth Objects (NEO) atau asteroid dekat Bumi yang saat ini dilakukan berbagai lembaga antariksa dunia seperti NASA, ESA, dan jaringan International Asteroid Warning Network (IAWN) guna mendeteksi potensi ancaman sejak dini.

Kemajuan teknologi teleskop, pencitraan seismik, simulasi numerik, hingga misi pengalihan asteroid seperti DART (Double Asteroid Redirection Test) menunjukkan bahwa pemahaman terhadap tumbukan purba tidak hanya mengungkap sejarah planet, tetapi juga menjadi dasar ilmiah dalam membangun sistem pertahanan Bumi terhadap kemungkinan tabrakan asteroid di masa depan. (Ali)

SulawesiPos.com – Tim ilmuwan yang dipimpin Heriot-Watt University akhirnya memastikan bahwa Kawah Silverpit di dasar Laut Utara terbentuk akibat hantaman asteroid berdiameter sekitar 160 meter yang terjadi 43–46 juta tahun lalu, bukan akibat aktivitas vulkanik maupun pergerakan endapan garam seperti yang lama diperdebatkan, dan tumbukan tersebut memicu tsunami setinggi lebih dari 100 meter hanya dalam hitungan menit setelah benturan. Temuan itu dipublikasikan Heriot-Watt University pada 29 Juni 2026 melalui jurnal Nature Communications, kemudian diulas lebih lanjut oleh BBC Wildlife pada Rabu (1/7/2026).

Penelitian tersebut mengakhiri perdebatan ilmiah yang telah berlangsung lebih dari dua dekade sejak struktur bawah laut itu pertama kali ditemukan pada 2002.

Kawah Silverpit berada sekitar 700 meter di bawah dasar Laut Utara atau sekitar 130 kilometer dari pesisir Yorkshire, Inggris, dengan diameter sekitar tiga kilometer dan dikelilingi cincin patahan batuan selebar hampir 20 kilometer.

Selama bertahun-tahun sebagian ahli meyakini kawah itu terbentuk akibat tumbukan asteroid berkecepatan sangat tinggi, sementara kelompok lain berpendapat struktur tersebut merupakan hasil pergerakan endapan garam bawah tanah atau runtuhan akibat aktivitas vulkanik.

Bahkan dalam forum ilmiah pada 2009, mayoritas geolog sempat menolak hipotesis bahwa Silverpit berasal dari tumbukan benda langit.

Bukti Baru Mengakhiri Perdebatan Ilmiah

Tim peneliti memanfaatkan teknologi pencitraan seismik resolusi tinggi yang mampu menghasilkan gambaran rinci lapisan batuan di bawah permukaan bumi menggunakan gelombang suara.

Selain itu, para ilmuwan menganalisis sampel batuan dari sumur eksplorasi minyak di sekitar lokasi kawah.

Analisis tersebut menemukan kristal kuarsa dan feldspar yang mengalami shock metamorphism, yakni perubahan struktur mikroskopis akibat tekanan ekstrem yang hanya dapat terbentuk ketika asteroid atau komet menghantam permukaan bumi dengan kecepatan sangat tinggi.

Ketua peneliti, Dr. Uisdean Nicholson dari Heriot-Watt University, menyatakan bahwa penemuan mineral tersebut merupakan bukti yang tidak terbantahkan mengenai asal-usul kawah Silverpit sebagai kawah tumbukan asteroid.

Model simulasi komputer yang dikembangkan tim juga memperlihatkan bahwa asteroid datang dari arah barat dengan sudut tumbukan rendah sebelum menghantam dasar laut.

Benturan itu dalam beberapa menit membentuk semburan air dan batuan setinggi sekitar 1,5 kilometer sebelum runtuh kembali ke laut dan menghasilkan tsunami dengan tinggi melebihi 100 meter, atau lebih tinggi dibandingkan Menara Big Ben di London yang memiliki tinggi sekitar 96 meter. Sumber: BBC Wildlife, 1 Juli 2026.

Pelajaran Penting bagi Mitigasi Ancaman Asteroid

Meskipun asteroid penyebab Silverpit jauh lebih kecil dibanding asteroid pembentuk Kawah Chicxulub di Meksiko yang dikaitkan dengan kepunahan dinosaurus sekitar 66 juta tahun lalu, energinya tetap cukup besar untuk menyebabkan kerusakan dahsyat pada kawasan pesisir di sekitarnya.

Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi pada kala Eosen Tengah, ketika mamalia modern mulai berkembang pesat, termasuk nenek moyang rusa, sapi, paus, dan lumba-lumba.

Menurut para peneliti, hanya sekitar 200 kawah tumbukan yang telah terkonfirmasi di daratan bumi dan sekitar 33 kawah yang berhasil diidentifikasi berada di bawah lautan.

Jumlah yang sangat sedikit itu disebabkan permukaan bumi terus berubah akibat erosi, aktivitas tektonik lempeng, sedimentasi, dan vulkanisme yang secara perlahan menghapus jejak-jejak tumbukan purba selama jutaan tahun.

Konfirmasi terhadap asal-usul Silverpit kini menempatkannya sejajar dengan sejumlah kawah tumbukan terkenal dunia, termasuk Chicxulub di Meksiko dan Kawah Nadir di lepas pantai Afrika Barat yang juga baru dikonfirmasi dalam beberapa tahun terakhir.

Membaca Masa Lalu untuk Melindungi Masa Depan

Penelitian Silverpit tidak hanya menjelaskan sejarah geologi Bumi, tetapi juga menjadi laboratorium alam yang sangat berharga untuk memahami bagaimana tumbukan asteroid membentuk evolusi planet-planet berbatu di Tata Surya.

Temuan ini juga memperkuat pentingnya pemantauan Near-Earth Objects (NEO) atau asteroid dekat Bumi yang saat ini dilakukan berbagai lembaga antariksa dunia seperti NASA, ESA, dan jaringan International Asteroid Warning Network (IAWN) guna mendeteksi potensi ancaman sejak dini.

Kemajuan teknologi teleskop, pencitraan seismik, simulasi numerik, hingga misi pengalihan asteroid seperti DART (Double Asteroid Redirection Test) menunjukkan bahwa pemahaman terhadap tumbukan purba tidak hanya mengungkap sejarah planet, tetapi juga menjadi dasar ilmiah dalam membangun sistem pertahanan Bumi terhadap kemungkinan tabrakan asteroid di masa depan. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru