Pupuk Subsidi Aman, Produksi Beras Indonesia Naik di Tengah Ancaman Krisis Pangan Global

SulawesiPos.com, Jakarta — Di tengah tekanan sektor pertanian dunia akibat perubahan iklim dan gejolak harga pupuk internasional, Indonesia justru menunjukkan kinerja yang positif. Ketersediaan pupuk bersubsidi tetap terjaga dan produksi beras nasional terus meningkat.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan salah satu faktor utama peningkatan produksi adalah keberhasilan pemerintah menjaga akses petani terhadap pupuk bersubsidi.

“Ketika petani di banyak negara menghadapi pupuk yang langka dan mahal, pemerintah Indonesia justru menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen dan memastikan pupuk mudah diakses petani. Inilah salah satu kunci mengapa produksi pangan Indonesia terus meningkat,” kata Mentan Amran.

Menurut Mentan Amran, keberpihakan pemerintah terhadap petani menjadi dasar yang penting dalam menjaga produksi pangan nasional di tengah tantangan global.

Laporan Food Outlook FAO edisi Juni 2026 turut memperkuat optimisme tersebut. Dalam laporan itu, Indonesia tercatat sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan menempati posisi keempat dunia. FAO memproyeksikan produksi beras Indonesia mencapai sekitar 38,6 juta ton. Di saat yang sama, produksi beras dunia diperkirakan turun sekitar 1,6 persen akibat perubahan iklim dan gangguan pasokan di sejumlah negara produsen utama.

BACA JUGA:  KKSS-IKA Unhas Berbagi di Empang Panakukkang Makassar, 1.000 Anak Panti Terima Santunan

Kondisi tersebut menunjukkan Indonesia mampu menjaga produksi ketika sejumlah negara menghadapi tekanan akibat cuaca ekstrem dan mahalnya sarana produksi pertanian.

Sementara itu, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alam Syah, memastikan stok pupuk bersubsidi masih mencukupi kebutuhan petani hingga musim tanam berikutnya.

“Hingga 25 Juni 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 54,28 persen dari alokasi nasional sebesar 9,55 juta ton. Artinya, masih tersedia sekitar 45,72 persen atau kurang lebih 5,1 juta ton pupuk bersubsidi yang siap dimanfaatkan petani di seluruh Indonesia. Pemerintah terus memastikan distribusi berjalan lancar agar pupuk tersedia tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran,” ujarnya.

Ia mengatakan pemerintah terus mempercepat distribusi pupuk agar petani dapat segera memanfaatkannya untuk mendukung peningkatan produksi.

Di sisi lain, pemerintah juga mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang berpotensi memengaruhi produksi pertanian di sejumlah daerah.

“Kami mengajak pemerintah daerah, penyuluh, dan seluruh petani untuk memanfaatkan ketersediaan pupuk bersubsidi, penggunaan alsintan modern, pompa-pompa air untuk memenuhi kebutuhan air, serta traktor untuk olah lahan guna melakukan percepatan tanam. Semakin cepat tanam dilakukan pada kondisi yang masih memungkinkan, semakin besar peluang menjaga bahkan meningkatkan produksi pangan nasional,” katanya.

BACA JUGA:  Rektor UNM: Tak Ada Alasan Meragukan Indonesia Sudah Swasembada Pangan

Pemerintah sebelumnya juga telah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi yang mulai berlaku sejak akhir 2025.

Kebijakan tersebut menjadi yang pertama dilakukan pemerintah dengan menurunkan harga pupuk sekitar 20 persen tanpa mengurangi kualitas maupun volume alokasi. Langkah itu diambil untuk menekan biaya produksi petani sekaligus menjaga daya saing sektor pertanian nasional.

Pada 2026, pemerintah mengalokasikan pupuk bersubsidi sebanyak 9,55 juta ton. Dengan ketersediaan pupuk yang terjaga, distribusi yang semakin sederhana, dan berbagai program peningkatan produksi, pemerintah optimistis target swasembada pangan dapat terus diwujudkan.

Sinergi antara kebijakan pemerintah, dukungan sarana produksi, dan kerja keras petani dinilai menjadi modal penting Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan di tengah ketidakpastian global.

SulawesiPos.com, Jakarta — Di tengah tekanan sektor pertanian dunia akibat perubahan iklim dan gejolak harga pupuk internasional, Indonesia justru menunjukkan kinerja yang positif. Ketersediaan pupuk bersubsidi tetap terjaga dan produksi beras nasional terus meningkat.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan salah satu faktor utama peningkatan produksi adalah keberhasilan pemerintah menjaga akses petani terhadap pupuk bersubsidi.

“Ketika petani di banyak negara menghadapi pupuk yang langka dan mahal, pemerintah Indonesia justru menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen dan memastikan pupuk mudah diakses petani. Inilah salah satu kunci mengapa produksi pangan Indonesia terus meningkat,” kata Mentan Amran.

Menurut Mentan Amran, keberpihakan pemerintah terhadap petani menjadi dasar yang penting dalam menjaga produksi pangan nasional di tengah tantangan global.

Laporan Food Outlook FAO edisi Juni 2026 turut memperkuat optimisme tersebut. Dalam laporan itu, Indonesia tercatat sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan menempati posisi keempat dunia. FAO memproyeksikan produksi beras Indonesia mencapai sekitar 38,6 juta ton. Di saat yang sama, produksi beras dunia diperkirakan turun sekitar 1,6 persen akibat perubahan iklim dan gangguan pasokan di sejumlah negara produsen utama.

BACA JUGA:  Peternak Lega, Solusi Mentan Amran Diyakini Pulihkan Harga Telur

Kondisi tersebut menunjukkan Indonesia mampu menjaga produksi ketika sejumlah negara menghadapi tekanan akibat cuaca ekstrem dan mahalnya sarana produksi pertanian.

Sementara itu, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alam Syah, memastikan stok pupuk bersubsidi masih mencukupi kebutuhan petani hingga musim tanam berikutnya.

“Hingga 25 Juni 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 54,28 persen dari alokasi nasional sebesar 9,55 juta ton. Artinya, masih tersedia sekitar 45,72 persen atau kurang lebih 5,1 juta ton pupuk bersubsidi yang siap dimanfaatkan petani di seluruh Indonesia. Pemerintah terus memastikan distribusi berjalan lancar agar pupuk tersedia tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran,” ujarnya.

Ia mengatakan pemerintah terus mempercepat distribusi pupuk agar petani dapat segera memanfaatkannya untuk mendukung peningkatan produksi.

Di sisi lain, pemerintah juga mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang berpotensi memengaruhi produksi pertanian di sejumlah daerah.

“Kami mengajak pemerintah daerah, penyuluh, dan seluruh petani untuk memanfaatkan ketersediaan pupuk bersubsidi, penggunaan alsintan modern, pompa-pompa air untuk memenuhi kebutuhan air, serta traktor untuk olah lahan guna melakukan percepatan tanam. Semakin cepat tanam dilakukan pada kondisi yang masih memungkinkan, semakin besar peluang menjaga bahkan meningkatkan produksi pangan nasional,” katanya.

BACA JUGA:  Mentan Amran: Kalau Untuk Kebaikan, Menjadi Dosen Biasa di ITS pun Saya Siap

Pemerintah sebelumnya juga telah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi yang mulai berlaku sejak akhir 2025.

Kebijakan tersebut menjadi yang pertama dilakukan pemerintah dengan menurunkan harga pupuk sekitar 20 persen tanpa mengurangi kualitas maupun volume alokasi. Langkah itu diambil untuk menekan biaya produksi petani sekaligus menjaga daya saing sektor pertanian nasional.

Pada 2026, pemerintah mengalokasikan pupuk bersubsidi sebanyak 9,55 juta ton. Dengan ketersediaan pupuk yang terjaga, distribusi yang semakin sederhana, dan berbagai program peningkatan produksi, pemerintah optimistis target swasembada pangan dapat terus diwujudkan.

Sinergi antara kebijakan pemerintah, dukungan sarana produksi, dan kerja keras petani dinilai menjadi modal penting Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan di tengah ketidakpastian global.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru