SulawesiPos.com – Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Seyyed Abbas Araghchi, pada Rabu (24/6/2026) menyampaikan perkembangan terbaru perundingan antara Iran dan Amerika Serikat kepada Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, melalui pembicaraan telepon yang juga membahas implementasi kesepakatan damai, perkembangan kawasan, dan penguatan koordinasi diplomatik guna menjaga stabilitas Timur Tengah. Informasi tersebut dipublikasikan Middle East News dan Arab News pada Rabu.
Dalam pembicaraan tersebut, Araghchi menjelaskan perkembangan terbaru proses negosiasi Teheran dan Washington serta kemajuan pelaksanaan berbagai kesepahaman yang telah dicapai kedua negara.
Ia juga memaparkan berbagai konsultasi diplomatik yang terus berlangsung sebagai bagian dari upaya memastikan implementasi kesepakatan berjalan sesuai jadwal.
Menurut laporan Saudi Press Agency yang dikutip Arab News, kedua menteri turut membahas pelaksanaan perjanjian yang ditandatangani pekan lalu untuk mengakhiri konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Kesepakatan tersebut menjadi dasar dimulainya tahapan baru diplomasi yang ditargetkan menghasilkan perjanjian damai permanen dalam masa perundingan selama 60 hari.
Arab Saudi Perkuat Peran sebagai Penopang Stabilitas Kawasan
Araghchi dan Pangeran Faisal bin Farhan juga meninjau perkembangan terbaru situasi regional dan internasional yang memengaruhi keamanan Timur Tengah.
Kedua pihak menekankan pentingnya menjaga kesinambungan dialog politik, mempertahankan saluran komunikasi diplomatik, serta memperkuat kerja sama regional demi mendorong terciptanya stabilitas yang berkelanjutan.
Arab Saudi sebelumnya menyambut baik tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakhiri konflik bersenjata sekaligus membuka kembali pelayaran internasional melalui Selat Hormuz.
Pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai sangat strategis karena jalur tersebut menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia sehingga stabilitasnya berpengaruh langsung terhadap keamanan energi dan perekonomian global.
Persatuan Dunia Islam Dinilai Menjadi Modal Perdamaian Kawasan

Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Sulawesi Selatan sekaligus pengajar Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Abd. Rahim Razak, M.Pd., yang dihubungi jurnalis SulawesiPos pada Kamis (25/6/2026), menilai komunikasi intensif antara Iran dan Arab Saudi merupakan perkembangan yang sangat positif bagi masa depan Timur Tengah.
“Ini adalah perkembangan yang sangat baik karena Iran dan Arab Saudi semakin kompak dalam menjaga stabilitas kawasan sehingga negara-negara Islam memiliki peluang lebih besar membangun perdamaian berdasarkan kepentingan bersama, bukan kepentingan pihak luar,” ujarnya.
Menurut Dr. Abd. Rahim, hubungan harmonis kedua negara dapat memperkuat solidaritas dunia Islam setelah bertahun-tahun kawasan Timur Tengah diwarnai konflik geopolitik yang melibatkan berbagai aktor regional maupun internasional.
Ia berpendapat bahwa perbedaan mazhab dalam Islam semestinya tidak dijadikan alasan untuk memperuncing permusuhan, melainkan dikelola melalui dialog, saling menghormati, dan kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan bersama.
“Perbedaan mazhab adalah bagian dari khazanah intelektual Islam, sedangkan persatuan umat merupakan amanah yang jauh lebih besar untuk diwujudkan,” katanya.
Secara historis, hubungan diplomatik Iran dan Arab Saudi mengalami pasang surut sejak Revolusi Islam Iran 1979 dan sempat terputus selama beberapa tahun setelah insiden penyerangan Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran pada 2016.
Hubungan kedua negara kemudian dipulihkan pada 2023 melalui kesepakatan yang dimediasi China, yang sejak saat itu membuka ruang kerja sama lebih luas di bidang politik, keamanan, ekonomi, dan stabilitas kawasan.
Sejumlah pengamat hubungan internasional menilai membaiknya hubungan Teheran dan Riyadh telah berkontribusi terhadap meredanya ketegangan di sejumlah kawasan konflik, termasuk membuka peluang lebih besar bagi penyelesaian berbagai persoalan regional melalui jalur diplomasi.
Dr. Abd. Rahim berharap momentum dialog yang kini berkembang dapat menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban Islam yang lebih kuat, damai, dan berdaya saing di tengah perubahan geopolitik dunia.
“Semoga Iran dan Arab Saudi terus berjalan seiring membangun persaudaraan Islam sehingga keberagaman mazhab menjadi sumber kekuatan untuk melahirkan peradaban yang maju, bermartabat, dan membawa rahmat bagi seluruh umat manusia,” tuturnya.
Komunikasi tingkat tinggi yang terus berlangsung antara Teheran dan Riyadh menunjukkan bahwa diplomasi kini semakin menjadi instrumen utama dalam membangun kepercayaan dan menyelesaikan konflik di Timur Tengah.
Keberhasilan implementasi kesepakatan Iran-Amerika Serikat dengan dukungan negara-negara kawasan dipandang dapat membuka peluang terbentuknya arsitektur keamanan regional yang lebih inklusif, sekaligus memperkuat stabilitas politik dan ekonomi di salah satu kawasan paling strategis di dunia. (Ali)


