SulawesiPos.com – Amerika Serikat dan Iran mengumumkan telah mencapai kesepakatan kerangka perdamaian untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak 28 Februari serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia sebelum konflik pecah, dengan penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat mendatang setelah serangkaian perundingan intensif yang dimediasi berbagai pihak internasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah selesai dan memberikan otorisasi penuh untuk pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan biaya serta penghentian blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap Iran.
Pengumuman serupa disampaikan beberapa menit sebelumnya oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang menyebut bahwa kedua negara telah menyepakati penghentian permanen seluruh operasi militer, termasuk di Lebanon.
Sharif menjelaskan bahwa penandatanganan dokumen resmi akan dilaksanakan di Swiss pada Jumat mendatang, sementara diskusi teknis mengenai implementasi awal akan berlangsung sebelum penandatanganan tersebut.
Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran melalui kantor berita Tasnim (16/6) menyatakan bahwa seluruh aktivitas perang antara kedua pihak akan dihentikan secara permanen mulai malam hari setelah pengumuman kesepakatan.
Pihak Iran menegaskan bahwa pelaksanaan komitmen Amerika Serikat dalam nota kesepahaman menjadi syarat sebelum negosiasi menuju perjanjian final dapat dimulai.
Trump kemudian menjelaskan bahwa Selat Hormuz akan dibuka setelah penandatanganan resmi pada Jumat sebagai bagian dari proses pembersihan ranjau laut yang disebut terdapat di kawasan tersebut.
Namun demikian, sejumlah sumber militer Amerika Serikat yang dikutip NBC News (15/6) menyebutkan bahwa hingga kini belum ada konfirmasi resmi bahwa Iran benar-benar menempatkan ranjau di Selat Hormuz.
Dampak terhadap Israel dan Kawasan
Masa depan hubungan Israel dengan kesepakatan tersebut masih menjadi tanda tanya karena perjanjian dicapai di tengah serangan Israel ke Lebanon yang justru menuai kritik dari Teheran maupun Trump.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di wilayah yang telah dikuasainya di Lebanon, Gaza, dan Suriah untuk waktu yang tidak ditentukan.
Ia juga memperingatkan bahwa setiap serangan Iran terhadap Israel sebagai respons atas operasi militer di Lebanon akan dibalas dengan tindakan militer lebih lanjut.
Seorang pejabat Israel yang mengetahui proses diplomatik tersebut mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sedang berupaya mengatur pertemuan dengan Trump di Washington untuk membahas dampak kesepakatan damai tersebut.
Isi Nota Kesepahaman 14 Poin
Menurut laporan kantor berita Mehr (16/6) yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, rancangan nota kesepahaman terdiri atas 14 poin utama yang mencakup penghentian perang, penarikan pasukan Amerika Serikat dari sekitar wilayah Iran, serta penghentian konflik di Lebanon.
Iran juga akan kembali menegaskan komitmennya terhadap Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons dengan tidak memproduksi senjata nuklir.
Kesepakatan tersebut mencakup pengurangan sejumlah sanksi ekonomi dan minyak terhadap Iran serta penyusunan program rekonstruksi yang akan didukung Amerika Serikat dan sekutunya.
Negosiasi final direncanakan berlangsung selama 60 hari dengan fokus pada isu pengayaan uranium, sanksi yang tersisa, serta berbagai resolusi terkait Iran di Dewan Keamanan PBB dan Badan Energi Atom Internasional.
Sebanyak sekitar 24 miliar dolar AS dana Iran yang selama ini dibekukan disebut akan dicairkan secara bertahap, dengan separuhnya dibuka sebelum negosiasi akhir dimulai.
Poin terakhir dalam memorandum tersebut menyebut bahwa penyelesaian akhir bergantung pada pencairan aset Iran, penangguhan sanksi minyak, dan penghentian blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap lalu lintas pelabuhan Iran.
Rancangan dokumen juga mengatur bahwa Selat Hormuz dan seluruh jalur pelayaran terkait akan dibuka kembali dalam waktu 30 hari.
Menariknya, isu program rudal Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok perlawanan regional tidak dimasukkan ke dalam agenda utama perjanjian final.
Harga Minyak Dunia Langsung Turun
Pengumuman kesepakatan segera disambut pasar energi global dengan penurunan tajam harga minyak mentah.
Harga minyak mentah Amerika Serikat turun lebih dari 4,5 persen menjadi sekitar 80 dolar AS per barel, level terendah sejak pekan pertama Maret.
Minyak mentah Brent juga merosot sekitar 4 persen hingga menyentuh kisaran 83 dolar AS per barel, yang merupakan titik terendah sejak awal Maret.
Meskipun demikian, harga minyak masih tercatat lebih tinggi dibandingkan sebelum perang dimulai, dengan kenaikan lebih dari 20 persen sejak konflik pecah dan lebih dari 40 persen sejak awal tahun.
Upacara Penandatanganan
Dalam wawancaranya dengan media Amerika, Trump menyatakan bahwa dokumen perdamaian dapat ditandatangani secara elektronik oleh dirinya atau secara langsung oleh Wakil Presiden JD Vance.
Vance mengatakan bahwa rincian teknis upacara penandatanganan masih dibahas dan tidak menutup kemungkinan Trump sendiri akan hadir secara langsung.
Menurut Vance, kesepakatan tersebut merupakan “lembaran baru” dalam hubungan kedua negara setelah puluhan tahun permusuhan.
Ia mengakui bahwa perdamaian tidak akan tercipta dalam semalam, tetapi menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah besar menuju stabilitas kawasan.
Serangan Beirut Bayangi Kesepakatan
Di saat kesepakatan diumumkan, Israel melancarkan serangan ke wilayah pinggiran selatan Beirut yang diklaim sebagai respons terhadap serangan sebelumnya ke wilayah Israel.
Kementerian Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan sedikitnya tiga orang tewas akibat serangan tersebut.
Trump secara terbuka mengkritik operasi militer tersebut dan menyatakan bahwa serangan ke Beirut seharusnya tidak terjadi ketika proses perdamaian dengan Iran sudah berada di ambang penyelesaian.
Ia menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghentikan seluruh serangan terhadap Lebanon.
Sementara itu, kelompok Hezbollah maupun pemerintah Lebanon belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai isi kesepakatan damai tersebut.
Sambutan Dunia Internasional
Presiden Turki Recep Tayyip ErdoÄŸan menyambut baik kesepakatan tersebut dan berharap langkah itu menjadi fondasi bagi terciptanya perdamaian dan keamanan jangka panjang di Asia Barat.
Sekretaris Jenderal United Nations, António Guterres, menyebut perjanjian tersebut sebagai langkah penting menuju penyelesaian damai konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa.
Kementerian Luar Negeri Qatar menggambarkan kesepakatan itu sebagai langkah strategis untuk memperkuat perdamaian berkelanjutan dan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.
Para mediator Qatar dilaporkan meninggalkan Teheran setelah menjalani 17 jam perundingan intensif dan akan melanjutkan pertemuan persiapan di Doha sebelum penandatanganan resmi di Swiss.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyambut kemajuan diplomatik tersebut.
Macron menegaskan bahwa pemulihan lalu lintas maritim tanpa pembatasan maupun pungutan merupakan syarat penting bagi stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Ribuan Korban Jiwa dan Harapan Baru
Perang yang pecah sejak akhir Februari telah menimbulkan korban besar di berbagai negara kawasan.
Kelompok hak asasi manusia Iran, HRANA, mencatat lebih dari 3.600 orang tewas di Iran, termasuk lebih dari 1.700 warga sipil.
Lebih dari 3.700 orang dilaporkan tewas di Lebanon, sementara korban juga tercatat di negara-negara Teluk, Israel, dan personel militer Amerika Serikat.
Kesepakatan yang diumumkan kini dipandang sebagai peluang terbesar untuk mengakhiri salah satu konflik paling berbahaya di Asia Barat dalam beberapa dekade terakhir sekaligus memulihkan stabilitas energi dan perdagangan global yang selama berbulan-bulan terguncang akibat perang. (Ali)


