SulawesiPos.com – China kembali mengukuhkan dirinya sebagai kekuatan utama riset dunia setelah menempati posisi teratas dalam pemeringkatan Nature Index Research Leaders 2026, sekaligus menjadi satu-satunya negara di jajaran 10 besar dunia yang mencatat pertumbuhan dua digit dalam kontribusi penelitian berkualitas tinggi.
Data yang dipublikasikan China Daily pada 13 Juni 2026 menunjukkan nilai kontribusi riset atau adjusted Share China meningkat 22,4 persen sepanjang periode 2024–2025. Kenaikan tersebut mempertegas pergeseran pusat gravitasi ilmu pengetahuan global dari Barat ke Asia yang dalam satu dekade terakhir berlangsung semakin nyata.
Pencapaian tersebut bukan hanya mencerminkan peningkatan jumlah publikasi ilmiah, tetapi juga menunjukkan semakin tingginya kualitas penelitian China yang kini mendominasi berbagai bidang sains strategis dunia.
Dalam tujuh bidang ilmu yang diukur oleh Nature Index, China menempati peringkat pertama dunia pada lima bidang utama, yakni ilmu fisika, kimia, ilmu hayati, ilmu terapan, serta ilmu kebumian dan lingkungan. Dominasi tersebut menjadikan China sebagai negara dengan pengaruh terbesar dalam perkembangan ilmu pengetahuan global saat ini.
Salah satu pencapaian paling mencolok terjadi pada bidang kimia. Analisis yang diterbitkan Nature menunjukkan bahwa output riset kimia China meningkat hampir 350 persen sejak 2015. Pada tahun 2025, China menyumbang sekitar 53 persen dari total kontribusi penelitian kimia dunia berdasarkan indikator Nature Index, jauh melampaui Amerika Serikat yang berada di posisi kedua dengan sekitar 15 persen.
Kekuatan tersebut didukung oleh jaringan lembaga penelitian dan universitas yang semakin mendominasi panggung internasional. Chinese Academy of Sciences kembali menempati peringkat pertama dunia di antara institusi akademik, pemerintahan, korporasi, dan kesehatan. Pada saat yang sama, China menempatkan sembilan institusi dalam jajaran 10 besar dunia dan meningkatkan jumlah lembaganya dalam 100 besar global dari 47 menjadi 51 institusi.
Perubahan paling simbolis terjadi ketika Zhejiang University berhasil menggeser Harvard University dari posisi puncak institusi akademik dunia. Dominasi Harvard yang telah bertahan sejak 2015 akhirnya berakhir, sementara sembilan posisi lainnya dalam 10 besar juga ditempati universitas-universitas China.
Para analis Nature Index menilai hasil tersebut menunjukkan bahwa kekuatan ilmu pengetahuan dunia kini tidak lagi terkonsentrasi di Amerika Utara dan Eropa Barat. Dalam beberapa tahun terakhir, China telah berkembang menjadi pusat baru inovasi, publikasi ilmiah, dan pengembangan teknologi mutakhir.
Pemimpin Redaksi Nature, Magdalena Skipper, bahkan mengungkapkan bahwa ketika ia pertama kali bergabung dengan penerbit Nature, publikasi ilmiah dari China masih relatif jarang ditemukan. Namun pada tahun 2025, lebih dari 200 artikel yang diterbitkan jurnal Nature mencantumkan peneliti China sebagai penulis korespondensi utama.
Laporan lembaga internasional lainnya memperkuat temuan tersebut. Pada Maret 2026, Australian Strategic Policy Institute> menyebut kepemimpinan China dalam berbagai teknologi strategis telah menjadi kondisi struktural yang sulit ditandingi. Sementara itu, laporan World Intellectual Property Organization pada Februari 2026 menegaskan bahwa China memainkan peran yang semakin penting dalam inovasi global serta menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterbukaan ilmiah dan kerja sama internasional.
Kebangkitan riset China juga mendorong perluasan kolaborasi ilmiah lintas negara. Nature Index mencatat publikasi bersama antara China dan Korea Selatan di bidang ilmu alam dan kesehatan meningkat sekitar 50 persen sepanjang 2023–2024, menjadikannya salah satu kemitraan ilmiah dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Pengalaman Langsung dari China
Fenomena tersebut dibenarkan oleh Sukma, S.S., M.TCSOL, dosen Departemen Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin yang saat ini sedang menempuh studi doktoral bidang Pendidikan di Hunan Normal University, Changsha, China.
Dalam wawancara dengan Sulawesi Pos pada Senin (15/6/2026), Sukma menilai capaian China dalam Nature Index bukan sekadar angka statistik, melainkan realitas akademik yang dapat dirasakan langsung oleh mahasiswa dan peneliti yang beraktivitas di lingkungan perguruan tinggi China.
“Apa yang ditampilkan Nature Index sesungguhnya hanyalah puncak gunung es dari kekuatan sistem pendidikan dan riset China. Sebagai mahasiswa doktoral di sini, saya menyaksikan sendiri bagaimana universitas-universitas China membangun budaya penelitian yang sangat disiplin, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi. Pergeseran pusat gravitasi riset dunia ke China bukan lagi prediksi, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung di depan mata,” tegas Sukma.
Menurutnya, keberhasilan China dibangun melalui investasi jangka panjang yang konsisten pada sektor pendidikan, laboratorium, teknologi, kecerdasan buatan, serta pengembangan sumber daya manusia sejak tingkat dasar hingga pascasarjana.
“Peningkatan output riset sebesar 22,4 persen dan dominasi pada lima bidang sains menunjukkan keberhasilan strategi nasional yang dirancang puluhan tahun. Saya merasakan langsung akses terhadap laboratorium modern, literatur ilmiah kelas dunia, jaringan kolaborasi internasional yang luas, serta dukungan institusi yang sangat kuat terhadap produktivitas akademik. Lingkungan seperti ini mendorong lahirnya inovasi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Sukma menjelaskan bahwa saat ini berbagai universitas di China tidak hanya menjadi tujuan mahasiswa Asia, tetapi juga menarik ribuan peneliti dari Eropa, Amerika, Afrika, dan Timur Tengah. Menurutnya, internasionalisasi pendidikan tinggi China telah berkembang sangat cepat dan menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat pertumbuhan kualitas penelitian negara tersebut.
Ia menambahkan bahwa kemajuan China juga terlihat dari pesatnya perkembangan bidang kecerdasan buatan, energi terbarukan, teknologi kuantum, manufaktur berteknologi tinggi, bioteknologi, serta eksplorasi antariksa yang kini menjadi fokus utama berbagai universitas dan lembaga penelitian nasional.
“Dunia sedang menyaksikan lahirnya pusat ilmu pengetahuan baru. Yang membuat China menarik bukan hanya besarnya investasi, tetapi kemampuan mereka mengintegrasikan pendidikan, industri, teknologi, dan kebijakan negara menjadi satu ekosistem inovasi yang saling memperkuat. Inilah yang membuat kemajuan mereka berlangsung sangat cepat dan berkelanjutan,” kata Sukma.
Menurut Sukma, pengalaman China memberikan pelajaran penting bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, bahwa pembangunan sumber daya manusia, investasi pendidikan, dan budaya riset yang kuat merupakan fondasi utama untuk mencapai daya saing global.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebangkitan riset China tidak hanya memperkuat posisi negara itu sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia, tetapi juga membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas dalam menghadapi tantangan teknologi, kesehatan, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan pada abad ke-21 *. (Ali)*


