SulawesiPos.com – Berkolaborasi dengan Quantum Akhyar Institute, Andi Amran Sulaiman (AAS) Foundation menginisiasi lahirnya para penghafal Al Quran 30 juz melalui metode pembelajaran terstruktur dan intensif. Sebanyak 27 peserta dari seluruh Indonesia mengikuti program para penghafal Al Quran 30 juz bertajuk ‘Program Karantina Tahfidz Al-Quran’.
Program Karantina Tahfidz Al-Quran bertujuan mencetak para penghafal Al-Quran 30 juz melalui metode pembelajaran yang terstruktur dan intensif. Sekretaris Jenderal Quantum Akhyar Institute Ustadz Cendekia Putra mengatakan, Program Karantina Tahfidz Al-Quran kali ini akan berlangsung selama 40 hari
“Sepuluh hari pertama difokuskan pada masa induksi, penguatan mental, pembentukan karakter, dan penyesuaian metode belajar. Selanjutnya, selama 30 hari peserta akan menjalani proses menghafal Al-Quran dengan target 30 juz,” tutur Ustadz Cendekia kepada Sulawesi Pos saat pembukaan Program Karantina Tahfidz Al-Quran yang dimulai sejak Kamis (11/6/2026) di Kota Bekasi, Jawa Barat.
Selama program berlangsung, ke-27 peserta dikarantina dan akan bergiatan melakukan penghafalan Al-Quran bersama-sama selama 40 hari secara intensif. Ustadz Cendekia menambahkan, para peserta yang mengikuti Program Karantina Tahfidz Al-Quran kali ini direkrut langsung oleh AAS Foundation. Sementara Quantum Akhyar Institute berperan dalam memastikan seluruh peserta memenuhi standar yang telah ditetapkan.
Ustadz Cendekia menyebutkan, beberapa kriteria yang menjadi syarat peserta Program Karantina Tahfidz Al-Quran antara lain kemampuan membaca Al-Quran yang sudah baik. “Selain itu, kami juga melakukan profile mapping untuk mengetahui karakteristik dan potensi masing-masing peserta sehingga proses pembinaan dapat berjalan lebih optimal,” tambah Ustadz Cendekia.
Keterlibatan Quantum Akhyar Institute dalam Program Karantina Tahfidz Al-Quran menurut Ustadz Cendekia adalah menyediakan sistem pembelajaran dan tenaga pengajar. Selain ini kontribusi Quantum Akhyar Institute dalam program ini berada pada aspek metodologi, kurikulum, dan pengajaran.
Seperti diketahui, Quantum Akhyar Institute merupakan lembaga yang dibina oleh Ustaz Adi Hidayat yang dikenal mengembangkan sebuah metode menghafal Al-Quran dengan nama Metode At-Taisir.
Metode ini tidak hanya mengajarkan teknik menghafal Al-Quran, tetapi juga membahas berbagai amalan pendukung sebelum menghafal, selama proses menghafal, hingga cara menjaga hafalan agar tetap kuat dan tidak mudah hilang.
Ustadz Cendekia mengatakan, pihaknya sangat terbuka untuk menjalin kerjasama apabila ada lembaga yang ingin menyelenggarakan program serupa seperti Program Karantina Tahfidz Al-Quran kolaborasi AAS Foundation bersama Quantum Akhyar Institute ini.
Ustadz Cendekia menjelaskan hingga saat ini pihaknya tidak menjadikan program-program yang dijalankan selama ini sebagai sarana mencari keuntungan.
“Dalam kerja sama seperti dengan AAS Foundation, biaya penyelenggaraan program biasanya ditanggung oleh lembaga mitra. Dengan demikian, peserta dapat mengikuti program tanpa harus menanggung biaya secara langsung. Fokus kami adalah pada penyebaran manfaat, pembinaan hafalan Al-Quran, serta pengembangan kualitas peserta melalui kurikulum dan metodologi yang telah kami susun,” tambahnya.
Aan, salah satu peserta asal Pandeglang Jawa Barat mengaku sangat antusias mengikuti Program Karantina Tahfidz Al-Quran. Terlebih selama ini dirinya juga telah terbiasa menekuni pembelajaran hafalan Al-Quran meskipun belum selesai hingga 30 juz.
“Kalau nanti selama 40 hari ini, ternyata kita belum selesai bagaimana Ustadz?,” tanya Aan kepada Ustadz Rizky, pimpinan Program Karantina Tahfidz Al-Quran yang tengah menyampaikan presentasi di depan para peserta.
Ustadz Rizky menyatakan, dirinya optimistis semua peserta nantinya bisa menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 Juz dalam 40 hari kedepan.
“Jangan khawatir nggak bisa selesai. Pokoknya jalani dulu, tenang saja. Ikuti saja apa yang disampaikan Ustadz Adi Hidayat dalam kurikulum dan metodologi di Quantum Akhyar Institute ini,”tegas Ustadz Rizky
Mentan Rutin Bagikan Seribu Eksemplar Al-Quran
Sementara itu Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman selama ini secara rutin mencetak dan membagikan 1.000 eksemplar Al-Quran setiap bulan untuk mendukung pendidikan Al-Quran di berbagai daerah.
Jumlah eksemplar Al-Quran yang dibagikan akan dinaikkan jumlahnya menjadi 10.000 saat memasuki bulan Ramadan. Hal itu dimaksudkan agar semakin banyak masyarakat yang mendapatkan akses untuk belajar dan mendalami kitab suci.
Kini program tersebut kembali diperluas dengan pembagian 20.000 eksemplar Iqra gratis, sebagai upaya membangun generasi Qurani sejak usia dini dan membantu anak-anak belajar membaca Al-Quran.
Ke depan program ini akan terus berlanjut dengan target pembagian 2.000 Al-Quran ukuran A5 setiap bulan dan 2.000 Al-Quan ukuran A7 setiap bulan. “Semoga ikhtiar ini menjadi jalan lahirnya generasi yang cinta Al-Quran, berakhlak mulia, dan membawa manfaat bagi bangsa,” ujar juru bicara AAS Foundation, Ahmad Musa yang akrab disapa Ustadz Ucha.


