SulawesiPos.com – Laporan CNN (6/6/2026) yang mengungkap dugaan keberadaan jaringan operasi Israel di Azerbaijan selama konflik dengan Iran kembali membuka diskusi mengenai bagaimana perang modern tidak lagi hanya berlangsung di garis depan pertempuran, tetapi juga melalui jaringan intelijen, operasi rahasia, dan perebutan pengaruh geopolitik yang melibatkan banyak negara sekaligus.
Menanggapi perkembangan tersebut, Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Dr. Patrice Lumumba, M.A., yang dihubungi SulawesiPos.com pada Senin (8/6/2026), menilai bahwa berbagai manuver yang muncul selama konflik Iran-Israel tidak dapat dipahami sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari persaingan strategis yang telah berlangsung selama puluhan tahun di kawasan Timur Tengah.
“Jika berbagai laporan tersebut benar, maka yang sedang kita saksikan sesungguhnya bukan sekadar perang antara Israel dan Iran, melainkan pertarungan besar untuk mengendalikan keseimbangan kekuatan kawasan dari Laut Mediterania hingga Teluk Persia,” ujar Patrice.
Menurutnya, selama bertahun-tahun Israel dan Amerika Serikat telah berupaya membangun keunggulan strategis melalui jaringan kerja sama keamanan, pengawasan intelijen, serta kemitraan militer dengan berbagai negara yang berada di sekitar Iran.
Ia menjelaskan bahwa posisi geografis Azerbaijan memiliki nilai strategis yang sangat tinggi karena berbatasan langsung dengan wilayah utara Iran dan berada dekat dengan berbagai fasilitas militer serta pusat industri penting Iran.
“Dalam perspektif geopolitik, siapa yang mampu mengawasi wilayah perbatasan utara Iran akan memperoleh keuntungan intelijen yang luar biasa karena dapat memantau mobilitas militer, aktivitas radar, hingga pergerakan sistem rudal Iran secara lebih efektif,” katanya.
Patrice menilai bahwa konflik terbaru juga menunjukkan bahwa perang modern semakin bergeser dari konfrontasi langsung menuju perang berbasis informasi, pengawasan elektronik, kecerdasan buatan, satelit, drone, dan operasi siber.
Ia menambahkan bahwa penguasaan data dan informasi saat ini sering kali lebih menentukan dibandingkan jumlah pasukan atau persenjataan konvensional yang dimiliki sebuah negara.
Dalam pandangannya, salah satu faktor yang mengubah dinamika konflik adalah posisi strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi distribusi energi dunia.
“Ketika muncul ancaman terhadap lalu lintas energi di Selat Hormuz, perhatian dunia segera berubah karena yang dipertaruhkan bukan lagi kepentingan Iran atau Israel semata, melainkan stabilitas ekonomi global,” ujarnya.
Patrice menjelaskan bahwa sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz sehingga setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi, inflasi global, serta ketidakpastian ekonomi internasional.
Karena itu, menurutnya, Amerika Serikat pada berbagai fase ketegangan lebih berkepentingan menjaga stabilitas jalur perdagangan energi dibandingkan membiarkan konflik berkembang menjadi perang regional yang tidak terkendali.
Ia juga melihat adanya perbedaan kepentingan yang terkadang muncul antara Washington dan Tel Aviv dalam menyikapi eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Amerika Serikat pada dasarnya ingin mempertahankan dominasi strategisnya di kawasan, tetapi pada saat yang sama harus mempertimbangkan dampak ekonomi global dan stabilitas pasar energi, sedangkan Israel lebih berfokus pada kalkulasi keamanan nasional yang bersifat langsung dan jangka pendek,” jelasnya.
Patrice menilai bahwa setiap upaya sabotase terhadap proses diplomasi akan memperbesar risiko konflik berkepanjangan yang merugikan seluruh pihak.
Menurutnya, ketika jalur negosiasi mulai menunjukkan kemajuan, selalu muncul kemungkinan adanya aktor-aktor yang merasa kepentingannya terancam sehingga berusaha mempertahankan status konflik yang menguntungkan posisi strategis mereka.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa perkembangan terbaru memperlihatkan bagaimana negara-negara kecil dan menengah kini memainkan peran yang semakin penting dalam persaingan geopolitik global.
“Azerbaijan, Irak, Uni Emirat Arab, hingga negara-negara di kawasan Tanduk Afrika tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi telah menjadi bagian dari ruang strategis yang diperebutkan oleh kekuatan-kekuatan besar,” katanya.
Patrice menilai bahwa pelajaran terbesar dari konflik Iran-Israel adalah bahwa perang abad ke-21 tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki tank terbanyak atau pesawat tempur paling canggih.
“Perang modern ditentukan oleh siapa yang memiliki jaringan informasi terbaik, akses geografis paling strategis, kemampuan diplomasi paling luas, serta kapasitas membangun koalisi internasional yang paling efektif,” tegasnya.
Ia menutup analisanya dengan menyatakan bahwa masa depan Timur Tengah sangat bergantung pada kemampuan para aktor regional dan global untuk menempatkan diplomasi di atas logika konfrontasi.
“Jika diplomasi gagal, maka seluruh kawasan akan terus menjadi arena kompetisi geopolitik yang menguras sumber daya, mengancam keamanan internasional, dan memperbesar ketidakpastian ekonomi dunia, tetapi jika diplomasi berhasil, Timur Tengah dapat berubah dari kawasan konflik menjadi pusat konektivitas strategis yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa,” pungkasnya. (Ali)


