Ilustrasi salat.
SulawesiPos.com – Fenomena gerhana Bulan total akan terjadi hari ini, Selasa, 3 Maret 2026, dan dapat disaksikan di berbagai wilayah Indonesia.
Gerhana Bulan total diperkirakan mulai berlangsung pada pukul 18.04 WIB, bertepatan dengan waktu menjelang berbuka puasa.
Dalam ajaran Islam, saat terjadi gerhana Bulan, umat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan shalat gerhana Bulan (shalat khusuf) sebagai bentuk penghambaan dan pengingat akan kebesaran Allah SWT.
Berikut penjelasan lengkap tata cara shalat gerhana Bulan, mulai dari niat hingga bacaan doa setelahnya.
Berikut tata cara shalat gerhana Bulan yang dirangkum dari penjelasan Kementerian Agama RI:
Niat shalat gerhana Bulan yang dibarengi dengan takbiratul ihram. Adapun lafal niatnya sebagai berikut:
أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى
Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.
Artinya, “Saya niat shalat sunah gerhana bulan dua rakaat karena Allah SWT.”
Perlu diperhatikan, bacaan surat pada rakaat kedua lebih pendek dibandingkan bacaan pada rakaat pertama.
Setelah selesai melaksanakan shalat gerhana Bulan, umat Muslim dianjurkan memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Berikut bacaan doa yang diajarkan para ulama:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً وَلَا تَجْعَلْهَا عَذَابًا، اللَّهُمَّ اكْشِفْهَا عَنَّا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.
Allāhummaj‘alhā raḥmatan wa lā taj‘alhā ‘adzāban, Allāhumma iksyifhā ‘annā, waghfir lanā dhunūbanā, wa tsabbit aqdāmanā, wanshurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah fenomena ini sebagai rahmat dan jangan Engkau jadikan sebagai azab.
Ya Allah, angkatlah dari kami (gerhana ini), ampunilah dosa-dosa kami, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami atas kaum yang kafir.”
Berdasarkan keterangan dalam laman Kementerian Agama RI, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain (Beirut, Darul Kutubil Ilmiyah: 2002), halaman 108, menjelaskan bahwa hukum shalat khusuf adalah sunah muakkadah, yakni sunah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.
Dikutip dari Almanhaj, gerhana Bulan merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT yang sering kali dianggap biasa oleh manusia.
Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk segera mendirikan shalat, memperbanyak zikir, istighfar, doa, serta amalan saleh lainnya ketika terjadi gerhana.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَيَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوْااللهَ وَكَبِّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا
Artinya: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah. (Muttafaqun ‘alaihi)
Dalam istilah fikih, gerhana disebut kusuf, yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan, baik seluruhnya maupun sebagian, disertai perubahan warna menjadi gelap atau kehitaman.
Istilah khusuf memiliki makna yang sama dengan kusuf. Sebagian ulama membedakan keduanya, dengan menyebut kusuf sebagai gerhana matahari dan khusuf sebagai gerhana bulan.
Dengan demikian, shalat gerhana adalah shalat sunah yang dikerjakan dengan tata cara khusus ketika terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, baik sebagian maupun total.