SulawesiPos.com – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardiyanto mendapat rangkaian gangguan usai menyoroti kasus meninggalnya seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Gangguan yang ia dapatkan bervariasi, mulai dari intimidasi, ancaman penculikan, hingga penguntitan yang dilakukan oleh orang tidak dikenal.
Hal tersebut ia ungkapkan ke media pada Jumat (13/2/2026).
Ia menyebutkan ancaman datang melalui pesan singkat dari nomor yang tidak dikenalinya.
“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ujar Tiyo, Jumat (13/2/2026).
Selain itu, Tiyo juga mengaku bahwa ia juga sempat diikuti oleh dua orang dewasa yang juga tidak dikenalnya saat berada di sebuah kedai, Rabu (11/2/2026).
“Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda,” ungkapnya.
Tiyo menduga, berbagai bentuk teror tersebut tidak terlepas dari sikap kritisnya selama ini di berbagai media, terutama terkait kasus seorang anak berusia 10 tahun di NTT.
Menurutnya, pernyataan-pernyataan yang ia sampaikan ke ruang publik kemungkinan menyinggung pihak tertentu.
“Apa yang saya suarakan di berbagai media mungkin ada yang tersinggung,” jelasnya singkat.
Sebagai Ketua BEM UGM, Tiyo dikenal aktif menyuarakan isu-isu kemanusiaan dan perlindungan kelompok rentan, termasuk kasus kekerasan terhadap anak.
Namun, ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak akan membuatnya menghentikan sikap kritis maupun advokasi yang selama ini dilakukan bersama BEM UGM.
Di tengah situasi yang ia alami, Tiyo menyampaikan sikap tegas bahwa dirinya dan BEM UGM tidak akan mundur menghadapi berbagai bentuk intimidasi.
“Saya dan BEM UGM tidak akan takut apalagi gentar. Selama terus lahir orang-orang waras di republik ini, selama itulah penguasa yang zalim tidak akan hidup tenang,” tegasnya.