Overview
SulawesiPos.com — Media sosial kembali menjadi ruang terbuka bagi pengakuan korban dugaan kekerasan dalam hubungan asmara.
Dalam beberapa unggahan yang beredar luas, seorang perempuan dengan nama akun @_myamoureeeee mengungkap pengalaman pahit yang ia alami selama menjalin hubungan dengan seorang pesepak bola profesional.
Dalam rangkaian tulisannya, ia menceritakan bahwa hubungannya yang telah berjalan sekitar lima bulan awalnya tampak normal tanpa gejolak berarti.
Namun seiring waktu, konflik mulai muncul.
Perempuan tersebut menyebut pertengkaran bermula dari persoalan kecemburuan hingga dugaan perselingkuhan dengan mantan pasangan sang pemain.
Situasi memanas ketika perdebatan disebut berubah menjadi tindakan fisik.
Korban mengaku mengalami tindakan kekerasan seperti didorong hingga dicekik berulang kali.
Ia bahkan menyatakan sempat mengalami muntah akibat tekanan fisik tersebut.
Beberapa foto yang diunggah memperlihatkan bagian tubuhnya yang diduga mengalami memar, meski sebagian telah ditutupi emoji.
Tak hanya itu, korban juga mengaku telah mendatangi fasilitas kesehatan di Yogyakarta untuk melakukan visum sebagai langkah awal proses hukum.
Namun menurut pengakuannya, surat visum belum dapat dikeluarkan sebelum adanya laporan resmi kepada pihak kepolisian sesuai prosedur.
Pengakuan tersebut dengan cepat menyebar dan menjadi bahan diskusi publik.
Banyak warganet menyoroti fakta bahwa sosok terduga pelaku disebut sebagai pemain berlabel Timnas dan masih aktif berkompetisi di Liga 1.
Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari klub, federasi, maupun pihak yang dituding dalam unggahan tersebut.
Kasus ini kembali menegaskan pentingnya perhatian terhadap isu kekerasan dalam hubungan pribadi, termasuk yang melibatkan figur publik.
Pengamat hukum dan perlindungan perempuan yang dihubungi secara terpisah menyampaikan bahwa setiap dugaan tindak kekerasan harus diproses melalui jalur hukum agar kebenarannya dapat diuji secara objektif.
Di sisi lain, asas praduga tak bersalah tetap harus dijunjung tinggi.
Identitas terduga pelaku belum disebutkan secara terbuka dalam proses hukum resmi.
Karena itu, publik diimbau tidak berspekulasi atau menyebarkan tudingan tanpa dasar yang jelas.
Federasi sepak bola dan operator liga diharapkan responsif terhadap isu ini, terutama jika nantinya laporan resmi benar diajukan.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, organisasi olahraga biasanya akan melakukan investigasi internal apabila ada dugaan pelanggaran etik yang melibatkan atlet profesional.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa popularitas dan prestasi di lapangan hijau tidak menempatkan seseorang di atas hukum.
Jika terbukti bersalah, konsekuensi hukum dan sanksi etik bisa menanti.
Sebaliknya, jika tudingan tidak terbukti, nama baik pihak yang dituduh juga harus dipulihkan.
Publik kini menunggu perkembangan lebih lanjut, terutama terkait apakah laporan resmi akan diajukan dan bagaimana respons dari pihak terkait.