Categories: News

Dolar AS Terendah dalam 4 Tahun: Ancaman bagi Washington, Peluang Strategis bagi Indonesia

Overview

  • Nilai tukar dolar AS anjlok ke level terendah dalam empat tahun akibat tekanan kebijakan tarif, ketidakpastian politik, dan pergeseran kepercayaan investor global.

  • Pelemahan dolar memicu kenaikan harga impor di Amerika dan mendorong investor dunia mengalihkan dana ke emas serta pasar negara berkembang.

  • Akademisi Unhas menilai kondisi ini membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat industrialisasi, menarik investasi, dan mengurangi ketergantungan pada dolar.

SulawesiPos.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat merosot ke titik terendah dalam empat tahun terakhir setelah kebijakan tarif agresif, ketidakpastian politik, dan ketegangan geopolitik mengguncang kepercayaan pasar global, sebagaimana dilaporkan BBC News melalui jurnalis bisnis Natalie Sherman pada 30 Januari 2026.

Sepanjang 2025 pasar berharap stabilitas kembali, namun kenyataan berbalik ketika tekanan jual meningkat tajam sehingga dolar kehilangan sekitar 3 persen hanya dalam sepekan dan mencatat posisi terlemah terhadap sekeranjang mata uang utama seperti euro dan pound sterling.

Depresiasi ini menjadi sinyal psikologis bahwa keunggulan dolar sebagai “safe haven” mulai dipertanyakan investor, terutama setelah kebijakan tarif baru yang dijuluki pasar sebagai “Liberation Day Tariffs” memicu risiko perang dagang lanjutan.

Melemahnya dolar langsung terasa di dalam negeri Amerika karena harga impor energi, pangan olahan, dan komponen teknologi naik, yang pada gilirannya berpotensi memicu inflasi baru dan menekan daya beli rumah tangga.

Di tingkat global, pelemahan tersebut menimbulkan diskusi serius mengenai status dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia, sebab dominasi ini selama puluhan tahun memberi Amerika keuntungan berupa biaya utang rendah dan arus modal internasional yang stabil.

Data indeks dolar sepanjang 2025 menunjukkan penurunan hampir 10 persen, menjadi performa terburuk sejak 2017, sementara harga emas melonjak signifikan sebagai lindung nilai, bahkan di beberapa pasar mencatat kenaikan mendekati dua kali lipat dalam setahun.

Investor institusional Eropa mulai mendiversifikasi portofolio dengan mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS, termasuk dana pensiun di Amsterdam dan Denmark, yang memindahkan dana ke pasar Asia dan negara berkembang.

Arus dana tersebut mendorong apresiasi lebih dari separuh mata uang emerging markets menurut pemantauan Oxford Economics, menandakan terjadinya redistribusi pusat gravitasi keuangan dunia dari Barat menuju kawasan Global South.

Namun pasar saham Amerika yang masih relatif kuat menunjukkan bahwa fenomena “sell America” belum sepenuhnya terjadi, meskipun lembaga riset ING memprediksi dolar masih berpotensi turun tambahan 4–5 persen tahun ini jika suku bunga The Fed dilonggarkan.

Presiden Donald Trump sendiri mendorong penurunan suku bunga lebih cepat dengan alasan ekspor akan lebih kompetitif, tetapi sejumlah ekonom memperingatkan bahwa depresiasi akibat hilangnya kepercayaan pasar justru berbahaya secara struktural.

Bagi dunia, fluktuasi dolar menentukan harga minyak, gandum, logam industri, serta beban utang negara berkembang, sehingga setiap pelemahan tajam berimbas langsung pada stabilitas sosial dan kesejahteraan miliaran manusia.

Analisis Akademisi Unhas: Peluang di Balik Krisis

Dalam wawancara dengan wartawan SulawesiPos.com pada Selasa (3/2/2026), Dr. A. Nur Bau Massepe, SE., MM., CRBC., dosen pada Program Studi Bisnis Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, menilai bahwa pelemahan ekonomi Amerika bukan semata ancaman, melainkan jendela strategis bagi negara berkembang untuk menata ulang orientasi perdagangan.

Dosen FEB Unhas, Nur Bau Massepe

Ia menegaskan bahwa Indonesia seharusnya memperluas kerja sama dengan negara-negara nonblok dan relatif netral secara geopolitik seperti India, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Nigeria, karena negara-negara tersebut memiliki pertumbuhan kelas menengah tinggi serta kebutuhan impor manufaktur yang besar.

Menurutnya, langkah beberapa investor Eropa seperti Belanda dan Denmark yang mulai mengurangi eksposur di pasar obligasi dan saham Amerika justru membuka peluang bagi Indonesia untuk menawarkan stabilitas makroekonomi, bonus demografi, serta pasar domestik yang besar sebagai magnet investasi alternatif.

Ia menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar dolar dapat dimanfaatkan industri nasional untuk mempercepat substitusi impor, terutama pada sektor kimia organik, komponen pesawat, mesin industri, dan barang antara yang selama ini didominasi produk Amerika.

Strategi tersebut, katanya, akan mendorong industrialisasi berbasis komponen lokal, memperkuat rantai pasok domestik, menekan defisit neraca perdagangan, serta menciptakan lapangan kerja manufaktur bernilai tambah tinggi.

Dr. Massepe menambahkan bahwa momentum de-dolarisasi global dan diversifikasi investasi harus disambut dengan kebijakan fiskal yang pro-industri, insentif riset teknologi, serta diplomasi ekonomi yang agresif agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi produsen.

Ia juga mengingatkan bahwa krisis mata uang global selalu melahirkan peta kekuatan baru, sehingga negara yang cepat beradaptasi akan menjadi pusat pertumbuhan berikutnya, sedangkan yang lambat akan tertinggal sebagai konsumen.

Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa pelemahan dolar adalah alarm sekaligus peluang, karena di tengah retaknya dominasi keuangan Amerika tersimpan kesempatan historis bagi Indonesia dan Global South untuk membangun kemandirian industri, memperkuat ketahanan ekonomi, dan merancang masa depan yang lebih berdaulat. (ali)

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: Dolar AS Dosen Unhas Nilai Tukar safe haven