SulawesiPos.com – Pendiri Microsoft Bill Gates memperingatkan bahwa euforia kecerdasan buatan bisa membuat pasar teknologi menjadi terlalu panas karena banyak saham perusahaan AI dinilai terlalu tinggi dibanding kekuatan bisnisnya yang sebenarnya.
Peringatan itu disampaikan saat pertemuan World Economic Forum di Davos, ketika diskusi global bergeser dari pertanyaan apakah AI berbahaya menjadi seberapa cepat teknologi ini akan mengubah pekerjaan dan investasi dunia.
Media ekonomi Maaal edisi Riyadh pada akhir Januari 2026 menulis bahwa tidak semua perusahaan yang ikut gelombang AI akan bertahan lama, meskipun teknologi AI sendiri hampir pasti akan dipakai luas di berbagai sektor kehidupan.
Dalam wawancara dengan jurnalis Sulawesi Pos pada Sabtu (31/1/2026), Prof. Dr. Ir. Indrabayu, ST., MT., M.Bus.Sys., IPM, ASEAN. Eng, pakar Kecerdasan Buatan , Data Mining, Multimedia Analitic dari Universitas Hasanuddin menjelaskan peringatan Gates dengan bahasa sederhana melalui metafora bahwa AI itu seperti listrik yang akan dipakai semua orang, tetapi tidak semua perusahaan pembangkitnya akan bertahan.
Menurutnya, yang berisiko menjadi gelembung bukan teknologi AI, melainkan ekspektasi manusia yang terlalu tinggi dan bergerak lebih cepat daripada kesiapan bisnis, data, dan keamanan sistem.
Ia menegaskan bahwa AI adalah maraton, bukan sprint, sehingga pemenang jangka panjang bukan perusahaan yang paling ramai dipromosikan, melainkan yang paling rapi mengelola biaya, data, keamanan, dan produk yang benar-benar dipakai masyarakat.
Prof Indrabayu menyebut dirinya mendukung perkembangan AI, namun menolak sikap histeria pasar, karena inovasi membutuhkan keberanian sementara investasi tetap membutuhkan kewarasan.
Kekhawatiran pasar meningkat sejak 2025 ketika perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Oracle menghabiskan sekitar 400 miliar dolar AS untuk membangun infrastruktur pusat data AI.
Menurut Prof Indrabayu, belanja besar ini memang mempercepat kemajuan teknologi, tetapi juga bisa menimbulkan risiko kapasitas berlebihan dan harga saham yang naik terlalu cepat sebelum keuntungan bisnisnya benar-benar stabil.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat perlu membedakan antara AI sebagai infrastruktur masa depan yang hampir pasti dipakai luas, dengan saham AI yang tetap bisa naik dan turun karena sentimen pasar.
Beberapa perusahaan yang dikaitkan dengan AI diperdagangkan pada valuasi sangat tinggi, yang sering dijadikan contoh risiko ekspektasi berlebihan.
Perusahaan analitik data Palantir Technologies disebut memiliki rasio harga terhadap laba sangat tinggi, sementara saham Broadcom dan AMD juga melonjak tajam karena harapan mengejar dominasi Nvidia.
Di sisi lain, ada perusahaan yang pertumbuhannya lebih nyata karena benar-benar didorong permintaan komputasi dan chip AI, sehingga tidak semua perusahaan berlabel AI berada dalam kondisi yang sama.
Menurut Prof Indrabayu, masyarakat perlu memahami perbedaan ini agar tidak menganggap semua investasi AI pasti berisiko atau pasti untung, karena sebagian didukung pendapatan nyata sementara sebagian lain masih ditopang cerita pertumbuhan.
Bill Gates juga menyoroti bahwa perubahan dunia kerja akibat AI bisa terjadi lebih cepat daripada kesiapan pemerintah, sementara di Davos muncul perdebatan antara optimisme penciptaan pekerjaan baru dan kekhawatiran pemangkasan tenaga kerja.
Bagi Prof Indrabayu, AI bukan sepenuhnya menggantikan manusia, melainkan menggeser standar keterampilan sehingga pekerja yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal.
Ia menekankan pentingnya pelatihan ulang keterampilan, pendidikan data dan AI yang praktis, serta literasi keamanan digital agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu melindungi diri di era otomatisasi.
Untuk menghindari histeria, Prof Indrabayu menyarankan publik menilai perusahaan AI secara sederhana dengan melihat apakah biaya operasionalnya masuk akal, datanya dikelola dengan baik, sistemnya aman, dan produknya benar-benar dipakai orang.
Ia menutup dengan pesan bahwa pasar pada akhirnya akan kembali menghargai kegunaan nyata, bukan sekadar jargon teknologi, sehingga masa depan AI lebih ditentukan oleh kualitas penerapan daripada besarnya sorotan publik. (ali)