Overview
SulawesiPos.com – Wabah virus Nipah kembali menjadi sorotan setelah sejumlah negara di Asia melaporkan kasus baru dengan tingkat kematian tinggi.
Situasi ini memicu kewaspadaan regional, termasuk bagi Indonesia yang secara geografis berada dekat dengan wilayah terdampak.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), tercatat empat kasus infeksi virus Nipah (NiV) di Bangladesh sepanjang periode 1 Januari hingga 29 Agustus 2025, dan seluruhnya berujung kematian.
WHO menilai risiko kesehatan masyarakat di tingkat regional berada pada kategori moderat.
WHO juga menegaskan bahwa infeksi virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang rentan memicu epidemi, menyebabkan penyakit berat pada manusia dan hewan, serta memiliki tingkat fatalitas tinggi, terutama di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Situasi terbaru juga dilaporkan dari India. Dua tenaga kesehatan di Rumah Sakit Spesialisasi Narayana, Barasat, Benggala Barat, dinyatakan terinfeksi virus Nipah.
“Dua perawat di sebuah rumah sakit swasta terinfeksi virus Nipah, dan salah satunya dalam kondisi kritis,” jelas Sekretaris Utama Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Bengal Barat, Narayan Swaroop Nigam, dikutip dari The Telegraph pada Selasa (27/1/2026).
Secara keseluruhan, India melaporkan lima kasus terbaru virus Nipah di wilayah Barasat per 25 Januari 2026.
Sementara itu, Thailand merespons dengan memilih langkah antisipatif yakni kembali menerapkan protokol kesehatan ala pandemi Covid-19.
Menyadur laman resmi Rumah Sakit Pertamina, kemunculan kembali virus Nipah di Asia memicu kewaspadaan global, termasuk di Indonesia.
Posisi geografis yang berdekatan dengan wilayah endemis membuat potensi risiko tidak bisa diabaikan.
Virus Nipah (NiV) dikenal sebagai patogen zoonosis berbahaya dengan Case Fatality Rate (CFR) mencapai 40 hingga 75 persen, menurut WHO.
Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti kelelawar pemakan buah atau babi, konsumsi makanan dan minuman terkontaminasi, hingga penularan antarmanusia.
Sejumlah faktor dinilai membuat Indonesia perlu tetap siaga terhadap virus Nipah:
Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) menyatakan telah meningkatkan kewaspadaan melalui sejumlah langkah, antara lain:
Meski belum ada kasus terdeteksi di Indonesia, kewaspadaan dini, riset berkelanjutan, dan kesiapan respons dinilai menjadi kunci menghadapi potensi penyakit infeksi baru.
Penyebaran virus Nipah juga menjadi perhatian di sejumlah negara Asia Tenggara. Ahli virologi Universitas Chulalongkorn, Yong Poovorawan, mengingatkan bahwa virus ini bukan ancaman baru.
Nipah pertama kali muncul pada 1998–1999, dengan wabah terbesar terjadi di Malaysia sebelum menyebar ke Singapura.
Saat itu tercatat 265 kasus dengan 108 kematian, ditandai gejala awal demam tinggi dan ensefalitis. Virus dibawa oleh kelelawar buah dan menular ke manusia melalui babi.
“Virus Nipah kini juga dapat ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui buah segar atau jus, terutama jus kurma segar, dan kemudian menular antar manusia,” jelas Yong Poovorawan yang dikutip pada Senin (26/1/2026).
Ia menambahkan, gejala saat ini dapat berupa demam, pneumonia berat, serta penularan melalui kontak cairan tubuh.
“Tetapi kemungkinannya tidak besar, tidak seperti penyakit pernapasan seperti influenza dan Covid-19, yang menyebar luas,” tulis Prof Dr Yong.
“Meskipun risiko wabah saat ini rendah, wabah yang sebenarnya dapat berdampak serius pada kesehatan masyarakat dan ekonomi,” imbuhnya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Thailand kembali menerapkan protokol pengendalian penyakit yang sebelumnya digunakan saat pandemi Covid-19.
“Sistem penyaringan kesehatan masyarakat telah disesuaikan berdasarkan model yang kita gunakan selama wabah Covid-19 di Thailand,” ujar Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, dikutip dari Bangkok Post.
Meski belum ditemukan kasus Nipah, Thailand meningkatkan pemeriksaan kesehatan bagi pelaku perjalanan dari negara berisiko, mengingat hingga kini belum tersedia obat maupun vaksin untuk virus tersebut.
“Masyarakat dapat menjalani kehidupan normal seperti biasa dan tetap mematuhi rutinitas kebersihan yang sudah lazim, seperti mengkonsumsi makanan yang baru dimasak, menggunakan sendok saji, sering mencuci tangan, dan menghindari berjabat tangan,” katanya.