Overview
SulawesiPos.com – Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan (Sulsel), tak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memantik gelombang refleksi di ruang publik.
Di media sosial Threads, sebuah utas panjang dari pemilik akun @papaforplanet menjadi sorotan warganet.
Dalam narasinya, ia mengaitkan tragedi tersebut dengan ingatan masa lalu terkait pengadaan armada pesawat sub-100 seater di maskapai pelat merah, yang menurut pengakuannya pernah ia audit lebih dari satu dekade lalu.
Seluruh pernyataan berikut merupakan curhatan pribadi warganet yang dikutip SulawesiPos.com, Jumat (23/1/2026), dan belum diverifikasi secara independen oleh otoritas berwenang.
“Bukan Soal Musibah, Tapi Ingatan tentang Dosa Masa Lalu,” tulisnya.
Dalam pembukaan utasnya, pemilik akun tersebut terlebih dahulu menyampaikan belasungkawa atas tragedi jatuhnya pesawat di Sulawesi.
“Sebelum gue mulai, gue mau ngucapin duka sedalam-dalamnya buat para korban jatuhnya pesawat perintis di Gunung Bulusaraung, Sulawesi. Musibah itu murni takdir dan teknis di lapangan,” keterangannya.
Namun ia mengaku, setiap kali melihat pesawat jenis ATR atau Bombardier, ingatannya selalu kembali pada proses audit yang pernah ia jalani di kantor pusat maskapai nasional.
“Sebagai auditor, tiap liat pesawat jenis ATR atau Bombardier, gue selalu keinget ‘dosa masa lalu’ yang pernah terjadi di kantor pusat maskapai kebanggaan kita di Jakarta,” ungkapnya.
Warganet tersebut mengisahkan bahwa audit investigasi bermula dari kerugian operasional yang dinilai tidak masuk akal, meski maskapai membeli puluhan pesawat baru jenis sub-100 seater dengan alasan konektivitas antarpulau.
“Pesawat-pesawat ini malah bikin boncos. Biaya operasionalnya lebih gede dari pemasukan tiket,” tulisnya.
Ia menyebut adanya kejanggalan dalam Fleet Plan maskapai dan mengklaim menemukan notulensi rapat direksi yang menunjukkan intervensi langsung pejabat puncak.
“Ada intervensi kuat dari Sang Dirut, sebut saja Pak ‘King’. Dia maksa ubah spesifikasi pesawat tanpa alasan teknis yang jelas,” tulisnya.
Dalam utas tersebut, ia juga mengutip ucapan yang disebut berasal dari pejabat tersebut saat dikonfirmasi tim audit.
“Kalian auditor ngerti apa soal aviasi? Ini strategi global competitiveness!,” tulisnya menirukan pernyataan tersebut.
Lebih jauh, warganet itu mengklaim adanya keterlibatan broker internasional dalam pengadaan pesawat, dengan skema pembayaran “consulting fee” ke perusahaan cangkang di luar negeri.
“Pabrikan pesawat asing nggak ngirim duit suap langsung. Mereka pake skema ‘Consulting Fee’ ke perusahaan cangkang milik Om S di luar negeri,” terangnya.
Ia juga mengklaim bahwa bukti digital berupa email lama berhasil mengungkap pembocoran data strategis maskapai.
“Bro, ini roadmap kita 5 tahun ke depan. Please adjust penawaran lo biar masuk kriteria,” tulisnya mengutip isi email yang diklaim ditemukan tim forensik.
Menurut pengakuannya, dampak dari keputusan pengadaan tersebut dirasakan bertahun-tahun kemudian.
“Maskapai negara rugi operasional triliunan rupiah bertahun-tahun. Pesawat Bombardier CRJ-1000 itu ternyata nggak cocok sama karakter bandara di Indonesia,” lanjut dia.
Ia bahkan menyebut angka kerugian negara yang sangat besar yakni menyentuh angka Rp9,3 triliun.
“Total kerugian negara dari pengadaan pesawat ATR 72-600 dan CRJ-1000 ini mencapai USD 609 juta atau sekitar Rp 9,3 triliun,” klaimnya.
Di bagian akhir, warganet tersebut kembali menegaskan bahwa tragedi jatuhnya pesawat di Sulsel merupakan musibah yang tidak bisa disederhanakan.
“Musibah jatuhnya pesawat di Sulawesi kemarin murni kecelakaan yang bikin kita semua berduka,” kata akun tersebut.
Namun ia berharap tragedi ini menjadi pengingat bahwa keselamatan penerbangan harus ditempatkan di atas kepentingan lain.
“Semoga di kokpit dan di ruang direksinya, diisi orang-orang yang beneran cinta nyawa manusia, bukan cinta komisi,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak maskapai maupun otoritas terkait mengenai isi curhatan warganet tersebut.
Sementara itu, proses investigasi kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Sulsel masih terus berjalan sesuai prosedur keselamatan penerbangan.
Pesawat ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu (17/1/2026).
Pesawat hilang kontak saat bersiap menjalani prosedur pendaratan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, sekitar pukul 13.17 Wita.
Pesawat tersebut mengangkut 10 orang, terdiri dari 7 kru dan 3 penumpang.
Setelah dilakukan pencarian, pesawat ditemukan jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Maros-Pangkep.
Operasi pencarian dan evakuasi korban berlangsung selama tujuh hari berturut-turut.
Pada hari ke-7, Jumat (23/1), seluruh korban berhasil ditemukan dan operasi pencarian resmi ditutup.
“Alhamdulillah, berkat doa seluruh warga Indonesia, hari ini pukul 08.33 Wita kami menerima laporan dari tim tombak Yonif 433 Kostrad bersama tim SAR gabungan bahwa seluruh korban telah ditemukan,” ujar Dody di Posko AJU, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Pangkep. (eki/tar)