Overview
SulawesiPos.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Pati SDW bersama tiga tersangka lain dalam kasus pemerasan jabatan perangkat desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Para tersangka dijerat Pasal 12 huruf e Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 20 huruf c KUHP, dengan ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara.
“Para tersangka disangkakan melanggar Pasal 12 huruf e Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 20 huruf c KUHP,” ujar Asep dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Selasa (20/1/2026) malam.
Berdasarkan UU RI Nomor 20 Tahun 2001, pasal ini menjerat pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menyalahgunakan kekuasaannya, memaksa seseorang memberikan sesuatu secara melawan hukum untuk keuntungan diri sendiri atau orang lain.
Bunyi pasal tersebut menegaskan bahwa tindakan yang dimaksud meliputi pemaksaan pemberian sesuatu, pembayaran, atau mengerjakan sesuatu bagi diri sendiri secara melawan hukum.
Ancaman hukuman meliputi:
Berikut bunyi ancaman pasalnya:
“Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”
Para tersangka telah ditahan di Rutan Cabang Gedung Merah Putih. KPK juga mengimbau kepala desa dan calon perangkat desa lain agar kooperatif memberikan informasi, karena mereka merupakan korban pemerasan.
Sebelumnya, KPK mengungkap bahwa uang tunai Rp2,6 miliar yang dikumpulkan berasal hanya dari calon perangkat desa di Kecamatan Jaken.
Informasi tersebut dimanfaatkan tersangka untuk meminta setoran dari calon perangkat desa.
Bupati Pati SDW selaku otak operasi menunjuk sejumlah orang kepercayaannya sebagai koordinator kecamatan (Tim 8) untuk mengatur pengumpulan uang. Proses ini disertai tekanan dan ancaman bagi calon perangkat desa yang menolak membayar.
“Dalam proses pengumpulan uang, diduga disertai ancaman. Apabila calon perangkat desa tidak mengikuti ketentuan atau tidak mau membayar, maka formasi perangkat desa tidak akan dibuka kembali pada tahun-tahun berikutnya,” jelas Asep.
OTT KPK pada 20 Januari 2026 menjerat delapan orang, termasuk kepala desa, camat, dan calon perangkat desa, empat di antaranya ditahan sebagai tersangka, sementara empat lainnya diamankan sebagai saksi.