Kabut asap kembali terlihat di Makassar, Rabu pagi (14:10:2026). AQI mencapai 157 dengan PM2.5 dalam kategori tidak sehat yang berisiko bagi kesehatan.
SulawesiPos.com — Kualitas udara di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), naik menjadi kategori sangat tidak sehat pada Rabu (14/10/2026) pagi. Kondisi ini terjadi di tengah penyebaran asap kebakaran dari Papua Selatan yang terbawa angin hingga ke wilayah Sulsel.
Prakirawan BBMKG Wilayah IV, Rizki Yudha, mengatakan kualitas udara di Makassar meningkat ke kategori sangat tidak sehat pada pukul 09.00 Wita.
“Pada jam 9 Wita naik menjadi kategori Sangat Tidak Sehat,” kata Rizki Yudha dalam keterangannya.
Dia menjelaskan, sumber polusi yang memengaruhi kualitas udara di Makassar berasal dari wilayah Sulsel maupun luar Sulsel.
Berdasarkan pengumuman resmi BBMKG Wilayah IV, kategori tersebut menunjukkan tingkat kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko kesehatan pada kelompok populasi tertentu yang terpapar.
“Tingkat kualitas udara yang dapat meningkatkan resiko kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar,” tulis BBMKG.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sulsel, Syamsul Bahri, menjelaskan pergerakan angin timuran membawa asap dari Papua Selatan hingga ke wilayah Sulsel.
Kondisi tersebut memicu munculnya haze atau kabut asap yang terlihat di sejumlah daerah, termasuk Maros dan Makassar.
“Kebakaran di Papua Selatan itu memengaruhi kualitas udara di Sulsel. Khususnya di Maros kemarin dan Makassar, kita bisa lihat ada seperti kabut. Kabut yang terlihat itu merupakan haze atau kabut asap,” ungkap Syamsul.
Berdasarkan data indeks kualitas udara atau AQI PM2,5 yang disampaikan, Maros mencatat angka tertinggi di Sulsel dengan indeks 207 atau kategori sangat tidak sehat.
Makassar berada di angka 157, sedangkan Bantaeng mencapai 162 dan Jeneponto 154.
Berikut data kualitas udara di sejumlah daerah di Sulsel:
Syamsul mengingatkan kualitas udara di Sulsel masih berpotensi memburuk selama sumber asap belum teratasi.
Kondisi atmosfer dan arah angin menjadi faktor yang memengaruhi penyebaran partikel polutan ke wilayah ini.