Dekan FISIP Unhas Prof Dr Phil. Sukri Tamma S.IP, M.Si
SulawesiPos.com — Keputusan Munafri Arifuddin (Appi) mengundurkan diri dari Partai Golkar menyita perhatian publik Sulawesi Selatan.
Namun, bagi Guru Besar Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Dr. Phil. Sukri Tamma, S.IP., M.Si., langkah politik Wali Kota Makassar tersebut bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Prof. Sukri saat dihubungi SPos, Selasa (6/10/2026), menilai, pengunduran diri Appi merupakan bagian dari fenomena umum dalam lanskap politik di Indonesia. Menurutnya, perpindahan aktor politik antarpartai adalah hal yang biasa dan lazim terjadi.
“Dalam beberapa hari terakhir, pasca-dinamika di DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, kabar Pak Appi akan menarik diri memang sudah santer berembus. Apa yang terjadi saat ini merupakan pembuktian dari kabar tersebut,” ujar Prof. Sukri.
Ia menjelaskan bahwa langkah yang diambil Appi—yang sebelumnya menjabat posisi strategis sebagai Ketua Golkar Makassar—tentu didasari kalkulasi politik jangka panjang.
Ketika seorang politisi merasa visinya tidak lagi sejalan dengan partai, memikirkan masa depan karier politik melalui jalur lain menjadi pilihan yang rasional.
Saat ini, publik tinggal menunggu justifikasi formal terkait langkah Appi selanjutnya, yang hampir dipastikan akan berlabuh ke Partai Demokrat.
Posisinya di partai baru memang masih menunggu kepastian, tetapi langkah ini dipandang sebagai persiapan matang menuju Pemilu dan Pilkada 2029.
Lebih lanjut, Prof. Sukri menyoroti profil Appi sebagai salah satu figur politisi generasi muda yang sedang naik daun di Sulsel dengan rekam jejak yang terbilang komplit.
Selain menjabat sebagai Wali Kota Makassar, Appi memiliki basis sosial yang kuat melalui berbagai organisasi dan keterlibatannya di PSM Makassar, latar belakang keluarga berpengaruh, kemandirian finansial yang solid untuk pembiayaan politik, serta rekam jejak yang bersih dari catatan negatif.
Dengan modal politik tersebut, kepindahan Appi dinilai akan menjadi “berkah politik” bagi partai penerimanya, terutama di tengah dorongan partai-partai politik yang mulai mengincar kader potensial untuk kontestasi mendatang.
“Pengunduran diri Pak Appi dari Golkar memang menjadi akhir dari sebuah dinamika internal, tetapi sekaligus menjadi babak awal baginya dalam menyusun strategi dan visi politik ke depan,” pungkas alumni S3 Universitas Bonn Jerman ini.