BMKG menunjukkan sebaran asap wilayah di Indonesia, titik warna merah di Kalimantan menunjukkan sebagai pusat asap, Sabtu (3/9/2026). (Abud/SPos)
SulawesiPos.com – Kualitas udara di Makassar dan wilayah sekitarnya cenderung berada pada kondisi terburuk sejak tengah malam hingga pagi hari.
Pada periode tersebut, konsentrasi PM2.5 yang dipantau BMKG dapat meningkat hingga masuk kategori kurang sehat.
Prakirawan BMKG, Asriani Idrus, mengatakan pola tersebut terlihat dalam pemantauan kualitas udara yang dilakukan Stasiun Klimatologi (Staklim) Maros dalam beberapa hari terakhir.
“Jadi memang beberapa hari terakhir ini PM2.5 di Maros dan sekitarnya, termasuk Makassar, itu dari sedang sampai kurang sehat,” ujar Asriani kepada wartawan di kantor BMKG Sulsel, Sabtu (3/10/2026),
Menurutnya, peningkatan konsentrasi PM2.5 paling terlihat pada malam hingga pagi. Kondisi tersebut kemudian berangsur membaik ketika memasuki siang hari.
“Biasanya paling tinggi itu dari tengah malam sampai pagi, kita pantau sampai sekitar jam 11. Nanti sekitar jam 12 sudah kembali normal,” jelasnya.
BMKG masih menganalisis kemungkinan adanya kontribusi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari luar Sulawesi Selatan yang terbawa pergerakan angin.
Analisis dilakukan dengan melihat distribusi asap dan kondisi angin yang terpantau di wilayah Makassar. Saat pemantauan dilakukan, AWS Potere menunjukkan arah angin dari barat.
Kondisi tersebut membuat asap dari wilayah luar Sulsel, termasuk Kalimantan, menjadi salah satu kemungkinan yang dianalisis BMKG. Namun, sumber asap belum dapat dipastikan hanya berdasarkan kondisi arah angin.
Pemantauan kualitas udara dan pergerakan asap masih dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi berikutnya.