Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Iqbal Nadjamuddin dan Ketua KPU Sulsel Hasbullah dalam pembukaan Pilketos serentak SMA/SMK di SMAN 21 Makassar, Rabu (30/9/2026). (Dok. Abud/SPos)
SulawesiPos.com – Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan menjadikan Pemilihan Ketua OSIS (Pilketos) serentak sebagai ruang pembelajaran demokrasi bagi pelajar.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Iqbal Nadjamuddin, saat menghadiri pembukaan Pilketos serentak tingkat SMA/SMK sederajat di SMAN 21 Makassar, Jalan Tamalanrea Raya No. 1A BTP Makassar, Kecamatan Tamalanrea, Rabu (30/9/2026).
Melalui pemilihan yang digelar secara elektronik atau e-voting, siswa diperkenalkan langsung dengan tahapan pemilu sekaligus didorong menjadi agen perubahan dalam demokrasi.
Andi Iqbal mengatakan, Pilketos serentak tahun ini merupakan pelaksanaan tahun kedua setelah pertama kali digelar pada tahun sebelumnya.
Jumlah sekolah yang mengikuti program tersebut juga meningkat signifikan. Jika pada tahun lalu sekitar 437 sekolah berpartisipasi, tahun ini jumlahnya mencapai 1.132 sekolah.
“Jadi tujuannya sebenarnya, tentu kita berharap bahwa anak-anak kita ini paham terkait dengan bagaimana tahapan pemilu. Ya, bagaimana tahapan pemilu ke depan, bagaimana pelaksanaannya, siapa yang harus melaksanakan dan bagaimana modelnya,” kata Andi Iqbal kepada SulawesiPos.com.
Selain melibatkan sekolah negeri, pelaksanaan Pilketos tahun ini juga melibatkan sekolah swasta dan sekolah di bawah naungan Kanwil Kementerian Agama.
Seluruh sekolah peserta menggunakan sistem e-voting. Hasil pemilihan dapat dipantau melalui dashboard pada aplikasi yang telah disiapkan untuk pelaksanaan Pilketos.
Menurut Andi Iqbal, penggunaan teknologi tersebut menjadi salah satu bagian dari pembelajaran karena siswa mengenal tahapan pemilihan, serta penerapan sistem elektronik dalam proses demokrasi.
Namun, pembelajaran yang ingin dibangun Dinas Pendidikan tidak berhenti pada teknis pemungutan suara. Pilketos diharapkan menjadi ruang bagi siswa untuk mengalami langsung proses demokrasi dalam suasana yang positif.
“Intinya kita berharap bahwa ini menjadi inkubasi demokrasi. Anak-anak kita nanti bisa menjadi agen, agen perubahan di dalam demokrasi di Indonesia, khususnya di Sulsel,” ujarnya.
Ia berharap, pengalaman siswa dalam mengikuti seluruh rangkaian Pilketos dapat membentuk pemahaman bahwa demokrasi memberi ruang bagi munculnya gagasan dan dapat dijalankan melalui proses yang menyenangkan.
Konsep tersebut juga diarahkan untuk memperkenalkan praktik demokrasi yang tidak identik dengan politik praktis.
Siswa terlibat dalam proses pemilihan di lingkungan sekolah, mulai dari tahapan pencalonan hingga menentukan pemimpin mereka.
Setelah Pilketos selesai, Andi Iqbal berharap siswa yang telah memiliki pengalaman sebagai penyelenggara maupun peserta dapat terus dilibatkan dalam kegiatan pendidikan demokrasi.
“Mereka yang sudah terbiasa melaksanakan kegiatan ini bisa dijadikan partner atau mungkin kolaborasi dengan teman-teman KPU, Bawaslu, itu bisa dilibatkan nanti di dalam pelaksanaan perhelatan Pemilu ataupun Pilkada yang InsyaAllah nanti ke depan dilaksanakan,” tandasnya.