Categories: Makassar

Unhas Target Kelola 3 Ton Sampah Organik per Hari, Diolah Jadi Pakan Ayam

SulawesiPos.com – Universitas Hasanuddin (Unhas) terus mengembangkan pengelolaan sampah organik di lingkungan kampus dengan memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.

Hingga kini, sekitar 4 ton sampah organik telah dikelola dalam tahap awal program tersebut.

Koordinator Safeguard LCDI-ITF Unhas sekaligus Dosen Fakultas Peternakan Unhas, Dr. Ir. Zulkarnaim, S.Pt., M.Si., IPM., mengatakan pengelolaan sampah tersebut dikembangkan untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni mengurangi sampah organik dan menyediakan alternatif bahan pakan ternak.

Menurut Zulkarnaim, pengembangan maggot tidak terlepas dari kebutuhan pakan ayam lokal pedaging yang dikembangkan Unhas.

Seiring meningkatnya permintaan, populasi ayam perlu ditingkatkan sehingga kebutuhan pakan ikut bertambah.

“Di budidaya ternak, pakan ini kan bisa sampai 70 persen dari operasional, sehingga kita butuh teknologi untuk menyediakan pakan harganya murah, namun juga bisa menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat, seperti sampah ini,” kata Zulkarnaim kepada SulawesiPos.com, Kamis (24/9/2026).

Saat ini, Unhas masih mengembangkan budidaya maggot sembari menunggu pembangunan kompleks Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) selesai.

Koordinator Safeguard LCDI-ITF Unhas sekaligus Dosen Fakultas Peternakan Unhas, Dr. Ir. Zulkarnaim, S.Pt., M.Si., IPM saat diwawancara di pengolahan sampah organik Unhas

Zulkarnaim menyebut, biomassa maggot basah yang telah dibudidayakan mencapai lebih dari 1 ton.

Maggot tersebut saat ini membutuhkan pasokan sekitar 2 hingga 4 ton bahan organik sebagai pakan.

Zulkarnaim mengatakan, program pengelolaan sampah tersebut mendapat dukungan melalui LCDI-ITF dengan pembangunan kompleks TPST yang dirancang sebagai fasilitas pengolahan sampah, sekaligus sebagai tempat pembelajaran.

“Nah, kami ingin membangun kompleks TPST yang sifatnya modern. Nanti fungsinya ada dua: pengolahan sampah organik, yang kedua sebagai teaching factory,” ujarnya.

Target Pengolahan Sampah hingga 10 Ton per Hari

Sampah organik yang dikelola saat ini berasal dari sejumlah unit di lingkungan Unhas, di antaranya Unhas Hotel & Convention, Hadin F&B, serta fasilitas layanan gizi Unhas.

Menurut Zulkarnaim, pemanfaatan sumber sampah tersebut sekaligus menjadi bagian dari edukasi pemilahan sampah di lingkungan kampus.

Sampah organik dipisahkan dari sampah nonorganik sebelum masuk ke proses pengolahan.

“Bagaimana karakter yang selama ini kita cuman mencampur, membuang sampah hingga ke tempat pengolahan akhir, sekarang itu kita edukasi untuk memilah. Memisahkan sampah organik dengan sampah non-organik,” katanya.

Untuk tahap pengembangan berikutnya, Unhas menargetkan mampu mengolah sekitar 3 ton sampah organik per hari pada 2026-2027.

Kapasitas tersebut masih dapat ditingkatkan karena berdasarkan kajian kelayakan, potensi sampah organik dari aktivitas di lingkungan Unhas mencapai sekitar 5 hingga 7 ton per hari.

Namun, pengelolaan dengan kapasitas tersebut baru dapat dilakukan setelah fasilitas TPST selesai dibangun.

Adapun target jangka panjangnya, kapasitas pengolahan ditingkatkan hingga 10 ton sampah organik per hari pada 2029.

Dalam prosesnya, sampah organik yang terkumpul terlebih dahulu dicacah sebelum diberikan sebagai pakan maggot.

Larva kemudian dibudidayakan hingga berukuran besar dalam waktu sekitar 12–13 hari.

Maggot yang telah mencapai ukuran panen selanjutnya dikeringkan dan ditepungkan untuk digunakan sebagai bahan pakan ayam yang dikembangkan Unhas.

“Panen, kami keringkan, kami keringkan kemudian kami tepungkan. Itu untuk menjadi bahan pakan ternak ayam kami,” ujar Zulkarnaim.

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: Pengolahan Sampah Sampah Organik Universitas Hasanuddin Zulkarnaim