Categories: Makassar

Presiden Apresiasi Swasembada Pangan Tercapai Setahun, Pengamat Unhas Ungkap Strategi Mentan Amran

SulawesiPos.com – Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi kinerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang dinilai mampu mempercepat pencapaian swasembada pangan dari target awal empat tahun menjadi sekitar satu tahun.

Prabowo menyebut capaian tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa. Ia bahkan mengaku sempat tidak mengenal Amran sebelum akhirnya melihat beberapa kali pidato Menteri Pertanian tersebut.

“Saya beri waktu tadinya swasembada pangan empat tahun, tapi terus terang saja, saya harus mengakui saya punya Menteri Pertanian yang hebat. Saya beruntung, saya tadinya tidak kenal dia, dia bukan partai saya, saya benar-benar tidak kenal Pak Amran,” kata Prabowo.

“2-3 kali saya lihat pidato dia, ini cocok. Dari empat tahun, dia bisa hasil swasembada pangan empat tahun. Ini luar biasa,” lanjutnya.

Capaian tersebut kemudian mendapat sorotan dari akademisi sekaligus pengamat pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas), Muhammad Junaid, S.P., M.P., Ph.D.

Menurut dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Unhas itu, percepatan tersebut tidak lepas dari kombinasi strategi ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian.

Ekstensifikasi dan Intensifikasi Jadi Kunci

Junaid menjelaskan, dari sisi penyediaan produksi, pemerintah melakukan ekstensifikasi dengan mengoptimalkan lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal untuk pertanian.

Salah satunya melalui pemanfaatan lahan marginal, termasuk lahan rawa yang sebelumnya tidak digunakan untuk pertanaman padi.

Menurutnya, pemanfaatan lahan tersebut dilakukan secara masif di sejumlah wilayah Indonesia.

“Ekstensifikasi yang saya lihat di sini adalah Pak Mentan itu mengoptimalkan lahan-lahan marginal itu secara masif dilakukan. Seperti lahan-lahan rawa yang tidak pernah digunakan selama ini untuk pertanaman padi, itu dilakukan,” ujar Junaid kepada SulawesiPos.com, Kamis (17/9/2026).

Selain menambah lahan produksi, pemerintah juga mendorong intensifikasi melalui peningkatan indeks pertanaman (IP).

Jika sebelumnya lahan sawah umumnya ditanami dua kali dalam setahun, strategi yang didorong Menteri Pertanian diarahkan agar petani bisa menanam tiga kali, bahkan hingga empat kali dalam setahun di wilayah tertentu.

Menurut Junaid, peningkatan frekuensi tanam tersebut berpengaruh langsung terhadap volume produksi.

“Bayangka, kalau menanam 4 kali setahun dengan menanam 2 kali setahun, tentu output-nya adalah produksi jauh lebih banyak yang diharapkan 4 kali menanam atau 3 kali menanam dalam setahun,” katanya.

Namun, menurut Junaid, peningkatan indeks pertanaman tidak cukup hanya dengan mendorong petani untuk menanam lebih sering. Ada faktor ekonomi yang menjadi penentu, yakni kepastian harga gabah.

Harga Gabah dan Bulog Dorong Gairah Petani

Junaid menilai, kebijakan menjaga harga gabah menjadi salah satu faktor penting yang membuat petani memiliki insentif untuk meningkatkan intensitas tanam.

Ia menyebut harga gabah kering panen yang berada di kisaran Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram dapat memberikan pendapatan kotor yang besar bagi petani dalam satu kali musim panen.

“Kalau ini tidak dijaga, kuncinya di situ, tidak ada petani yang mau menanam tiga kali, capek-capek, kalau tidak menguntungkan,” ujarnya.

Selain harga, kepastian pasar juga dinilai berperan. Junaid menyebut keterlibatan Bulog dalam menyerap gabah petani memberikan rasa aman karena petani memiliki kepastian terhadap hasil produksinya.

Menurut dia, kebijakan tersebut sebelumnya menghadapi resistensi dari sejumlah pihak dalam rantai perdagangan gabah. Namun, penyerapan oleh Bulog membuat petani memiliki alternatif pembeli yang jelas.

“Bulog ini kan pada waktu masih awal kebijakan, itu kan pasti turbulensinya kebijakan itu ada di sini, ‘Siapa yang mau beli gabah petani?’ Dan itu dilakukan, karena di sini banyak resistensi dari pedagang lokal, resistensi mafia gabah,” katanya.

Ia menilai kepastian harga dan pasar kemudian membangun kepercayaan petani untuk terus meningkatkan produksi.

Tata Kelola Pupuk hingga Alsintan

Selain persoalan harga dan pasar, Junaid melihat pembenahan tata kelola pupuk sebagai faktor lain yang mendukung peningkatan produksi.

Menurutnya, sebelumnya distribusi pupuk melewati sejumlah tahapan sehingga pupuk yang secara kebijakan dinyatakan tersedia belum tentu mudah diperoleh petani di lapangan.

Ia menilai perubahan tata kelola membuat proses penyaluran menjadi lebih sederhana. Petani yang telah terdata melalui e-RDKK kelompok tani dapat memperoleh pupuk dengan persyaratan yang lebih sederhana.

“Tata kelola pemupukan ini telah diperbaiki oleh Pak Mentan. Awalnya berapa kebijakan-kebijakan yang harus dilalui untuk penyaluran pupuk, dan itu sekarang cukup dengan Pak Mentan menelpon produsen, itu bisa langsung ke petani dengan baik,” kata Junaid.

Di sisi lain, pemerintah juga menyediakan berbagai alat dan mesin pertanian (alsintan), mulai dari mesin pengolahan tanah, mesin tanam padi, hingga combine harvester.

Dukungan tersebut membuat sejumlah hambatan yang selama ini dihadapi petani dalam proses produksi dapat dikurangi.

“Petani pada level sekarang itu sudah pada level manager. Karena semua sudah siap. Jadi untuk produksi tadi, semua sudah disiapkan oleh Pak Mentan. Nah inilah yang menjadi faktor kunci kenapa Pak Mentan bisa mencapai swasembada pangan beras lebih cepat dari yang dibayangkan,” bebernya.

Teori Ilmuwan dan Perguruan Tinggi Diterapkan di Lapangan

Junaid menilai percepatan swasembada juga menunjukkan pentingnya menerjemahkan gagasan yang selama ini berkembang di kalangan ilmuwan dan perguruan tinggi ke dalam kebijakan serta pelaksanaan di tingkat lapangan.

Menurutnya, berbagai konsep peningkatan produksi pangan pada dasarnya telah lama dibahas secara akademik.

Tantangannya adalah bagaimana gagasan tersebut dapat dijalankan secara konsisten dan masif di tingkat petani.

“Nah artinya, pada prinsipnya pada level teorinya ini sudah sebetulnya sudah dipikirkan oleh para banyak para ilmuwan, para perguruan tinggi, tetapi pada level lapangan ini tidak ada yang bisa melakukan kecuali apa yang dilakukan Pak Amran ini,” tutur Junaid.

Pelaksanaan di lapangan menjadi faktor penting dalam mempercepat pencapaian target yang sebelumnya dirancang dalam jangka waktu lebih panjang.

Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan produksi tidak berdiri sendiri. Menurutnya, kewenangan dan dukungan kebijakan dari pemerintah menjadi bagian penting agar berbagai strategi tersebut dapat berjalan.

“Tentu kalau Pak Mentan sendiri tidak bisa juga, karena sama saja dengan Mentan sebelumnya kalau tidak ada izin dari Bapak Presiden. Jadi kewenangan besar itu karena mendapatkan restu yang luar biasa dari Bapak Presiden Prabowo,” katanya.

Tantangan Setelah Swasembada: Menjaga Produksi hingga Ekspor

Setelah target swasembada tercapai, pekerjaan pemerintah tidak berhenti pada peningkatan produksi. Tantangan berikutnya adalah menjaga ritme produksi agar tidak kembali turun.

Ia menyebut, pemerintah perlu mempertahankan berbagai kebijakan yang telah mendorong petani meningkatkan produksi, sekaligus menyiapkan strategi ketika produksi nasional mulai mengalami surplus.

“Ini adalah menjaga. Pada level ini adalah tinggal menjaga irama, ritme yang telah dibangun saat ini,” ujarnya.

Junaid bahkan menyebut kondisi surplus membuka peluang baru bagi Indonesia untuk menyalurkan produksi beras ke pasar ekspor.

“Jadi masalah juga kalau sudah terlalu banyak beras mau diapain?” katanya.

Menurutnya, keberhasilan produksi pangan perlu diikuti kemampuan pemerintah mengelola surplus sehingga tidak menimbulkan persoalan baru di sisi hilir.

“Dan sekarang itu yang dijaga, justru sekarang bagaimana menyalurkan kalau sudah surplus beras,” pungkasnya.

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: Andi Amran Sulaiman Menteri Pertanian swasembada pangan Presiden Prabowo Universitas Hasanuddin pandangan dosen unhas