Categories: Makassar

Pakar Saga University Jepang Soroti Perubahan Suhu Air Akibat Pemanasan Global di Unhas

SulawesiPos.com — Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kuliah tamu internasional bertajuk “Temporal and Spatial Changes of Water Temperature during the Past 50 Years due to Global Warming in the Enclosed Inner Bay and Its Inflowing River in Kyushu, Western Part of Japan.”

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Eng. Hideo Oshikawa dari Saga University, Jepang, sebagai narasumber utama.

Kuliah tamu dilaksanakan secara hibrida di Prof. Dr. Ir. Fachruddin Hall, Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, serta disiarkan secara daring melalui Zoom.

Kegiatan yang dimulai pada pukul 14.00 WITA tersebut dimoderatori oleh Ir. Evi Aprianti, S.T., Ph.D. dan diikuti oleh mahasiswa, dosen, peneliti, serta peserta yang memiliki perhatian terhadap perubahan iklim, lingkungan perairan, dan pengelolaan sumber daya alam.

Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Prof. Sukri Palutturi, S.KM., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D., memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut sebagai bagian dari penguatan internasionalisasi dan pengembangan penelitian multidisiplin di lingkungan Unhas.

Menurutnya, perubahan iklim merupakan tantangan global yang membutuhkan kontribusi bersama dari berbagai disiplin ilmu dan lembaga pendidikan tinggi.

“Perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan kenaikan suhu udara, tetapi juga memengaruhi ekosistem perairan, kesehatan lingkungan, kehidupan masyarakat pesisir, dan keberlanjutan pembangunan. Karena itu, universitas perlu mendorong penelitian yang mampu menghasilkan bukti ilmiah sebagai dasar penyusunan kebijakan,” ujar Prof. Sukri.

Pascasarjana Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kuliah tamu internasional bertajuk “Temporal and Spatial Changes of Water Temperature during the Past 50 Years due to Global Warming in the Enclosed Inner Bay and Its Inflowing River in Kyushu, Western Part of Japan.

Ia menambahkan bahwa kuliah tamu internasional menjadi ruang penting bagi mahasiswa dan peneliti untuk mempelajari perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus membangun jejaring kolaborasi global.

Dalam pemaparannya, Prof. Hideo Oshikawa menjelaskan perubahan suhu air secara temporal dan spasial yang terjadi selama sekitar 50 tahun pada kawasan teluk dalam tertutup dan sungai yang bermuara ke wilayah tersebut di Kyushu, Jepang bagian barat.

Kajian jangka panjang ini memberikan gambaran mengenai bagaimana pemanasan global dapat memengaruhi karakteristik termal sungai, muara, dan kawasan pesisir yang saling terhubung.

Menurut Prof. Oshikawa, perubahan suhu air tidak selalu terjadi secara seragam di setiap lokasi dan periode.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti karakteristik geografis perairan, aliran sungai, pertukaran air laut, musim, serta perubahan suhu lingkungan.

“Data jangka panjang sangat penting untuk memahami arah perubahan lingkungan. Tanpa pengamatan yang konsisten, kita akan sulit membedakan variasi alami dengan perubahan yang benar-benar berkaitan dengan pemanasan global,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa perubahan suhu air dapat memengaruhi kualitas perairan, keseimbangan ekosistem, distribusi organisme akuatik, dan produktivitas sumber daya pesisir.

Kawasan teluk yang relatif tertutup memerlukan perhatian khusus karena memiliki sirkulasi air yang lebih terbatas dan berpotensi mengalami tekanan lingkungan yang lebih besar.

Oleh karena itu, analisis perlu dilakukan secara terpadu dengan melihat keterhubungan antara sungai, muara, teluk, dan laut.

Kegiatan ini membuka ruang diskusi mengenai pentingnya sistem pemantauan lingkungan yang berkelanjutan, pengelolaan data historis, serta penggunaan pendekatan spasial dan temporal dalam penelitian perubahan iklim.

Para peserta juga memperoleh wawasan bahwa hasil penelitian di Jepang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah pesisir luas dan menghadapi berbagai risiko akibat perubahan iklim.

Prof. Sukri berharap kegiatan tersebut dapat mendorong lahirnya penelitian bersama antara Universitas Hasanuddin dan perguruan tinggi di Jepang, khususnya dalam bidang perubahan iklim, pengelolaan pesisir, kualitas lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.

“Persoalan lingkungan melampaui batas wilayah dan negara. Kita membutuhkan kolaborasi internasional untuk berbagi data, metode, pengalaman, dan inovasi dalam merumuskan solusi yang lebih kuat,” tegasnya.

Kristio D. Reski

Share
Published by
Kristio D. Reski
Tags: Dampak Pemanasan Global Pakar Pascasarjana Unhas Perairan Saga University Jepang Unhas