Categories: Makassar

Jalan Bonto Langkasa, Jejak Raja Gowa yang Membuka Jaringan ke Luar Nusantara

SulawesiPos.com – Di tengah perkembangan Kota Makassar, Jalan Bonto Langkasa hanya membentang sekitar 250 meter dan menjadi penghubung antara Jalan Andi Djemma dan Jalan A.P. Pettarani.

Ruas pendek ini kini dikelilingi berbagai fasilitas modern, mulai dari hotel, kedai kopi, hingga kawasan pendidikan Universitas Negeri Makassar (UNM).

Namun, nama Bonto Langkasa membawa ingatan jauh ke masa Kerajaan Gowa, ketika seorang raja menjadikan hubungan antarkerajaan sebagai bagian penting dari kekuatan negerinya.

Tokoh tersebut adalah I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo, Raja Gowa ke-12 yang memerintah pada 1565–1590.

Ia merupakan ayah dari I Mangngarangi Daeng Manrabbia, yang kelak dikenal sebagai Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14 sekaligus raja pertama Gowa yang memeluk Islam.

Di bawah Karaeng Bontolangkasa, Gowa memperkuat kedudukannya di Sulawesi Selatan. Kerajaan itu juga memperluas hubungan dengan berbagai pusat kekuasaan di Nusantara, mulai dari Jawa, Semenanjung Melayu, Kalimantan, hingga Maluku.

Bontolangkasa dan Politik Persahabatan Gowa

Salah satu ciri penting pemerintahan Tunijallo adalah keterbukaannya membangun hubungan dengan kerajaan-kerajaan di luar Sulawesi Selatan.

Catatan sejarah menyebut Gowa menjalin hubungan dengan Mataram, Johor, Malaka, Pahang, Patani, Banjarmasin, Blambangan, Ternate, dan kerajaan-kerajaan di Maluku.

Hubungan tersebut juga berkaitan dengan perdagangan dan kepentingan politik Gowa sebagai kekuatan maritim.

Kebijakan itu membuat Makassar semakin terhubung dengan jaringan perdagangan dan politik Nusantara. Para penguasa Gowa mendorong hubungan dengan pedagang dan kerajaan asing, sementara Tunijallo melanjutkan kebijakan tersebut melalui diplomasi dan persekutuan.

Salah satu hubungan penting terjadi dengan Kerajaan Ternate. Sultan Baabullah pernah datang ke Makassar dan menjalin persahabatan dengan Karaeng Bontolangkasa.

Hubungan tersebut menunjukkan posisi Gowa yang semakin diperhitungkan dalam jaringan kekuasaan kawasan timur Nusantara.

Hubungan Gowa dengan komunitas Muslim dari luar Sulawesi juga berkembang pada periode ini. Pedagang Melayu telah lama bermukim di kawasan Mangallekana, sekitar pusat perdagangan Gowa.

Karaeng Bontolangkasa bahkan menyediakan ruang ibadah bagi komunitas Muslim tersebut, yang menjadi salah satu bagian dari hubungan Gowa dengan jaringan perdagangan Melayu.

Konteks ini penting karena pemerintahan Karaeng Bontolangkasa berlangsung sebelum Islam resmi menjadi agama kerajaan Gowa. Islamisasi kerajaan baru berlangsung pada masa putranya, Sultan Alauddin, pada awal abad ke-17.

Dari Seni, Perdagangan hingga Kekuatan Kerajaan

Hubungan luar negeri bukan satu-satunya perkembangan pada masa Karaeng Bontolangkasa. Pemerintahannya juga ditandai kemajuan dalam berbagai bidang di lingkungan kerajaan.

Sumber sejarah mencatat perkembangan seni, terutama seni ukir, pada masa pemerintahannya. Keterampilan masyarakat Makassar dalam menempa senjata juga semakin berkembang.

Catatan tersebut menggambarkan periode Karaeng Bontolangkasa sebagai masa ketika kebudayaan material dan keterampilan para pengrajin mendapat ruang dalam kehidupan kerajaan.

Gowa juga terus memperkuat kemampuan maritim dan pertahanannya. Perkembangan perdagangan membuat Makassar semakin penting sebagai bandar yang mempertemukan pedagang dari berbagai wilayah Nusantara.

Kekuatan ekonomi dan jaringan perdagangan tersebut berjalan beriringan dengan kemampuan Gowa membangun hubungan politik dengan kerajaan-kerajaan lain.

Oleh karena itu, kekuatan Gowa pada masa Karaeng Bontolangkasa bertumpu pada peperangan, sekaligus membuka hubungan dan menjaga posisi kerajaan di tengah persaingan antarkekuatan.

Namun, hubungan baik itu tidak berlangsung selamanya.

Persahabatan dengan Bone Berubah Menjadi Konflik

Pada awal pemerintahannya, Karaeng Bontolangkasa mewarisi upaya memperbaiki hubungan Gowa dan Bone setelah konflik panjang kedua kerajaan.

Perundingan di Caleppa menghasilkan kesepakatan yang mengatur wilayah dan hubungan antara Gowa dan Bone. Karaeng Bontolangkasa menjadi bagian dari proses tersebut bersama pejabat penting kerajaan Gowa, sementara pihak Bone diwakili rajanya dan penasihat kerajaan, Kajao Laliddong.

Perdamaian itu sempat menciptakan ruang bagi hubungan yang lebih stabil. Namun, memasuki bagian akhir pemerintahannya, hubungan Gowa dengan Bone kembali memburuk.

Bone kemudian membangun persekutuan bersama Wajo dan Soppeng yang dikenal sebagai Tellumpoccoe pada 1582. Persekutuan tersebut menjadi kekuatan yang menentang dominasi Gowa di Sulawesi Selatan. Gowa kemudian terlibat dalam sejumlah serangan terhadap Wajo dan Bone, tetapi tidak memperoleh hasil yang menentukan.

Konflik tersebut akhirnya membawa Karaeng Bontolangkasa menuju akhir hidup yang tragis.

Pada 1590, ketika melakukan perjalanan dalam rangka operasi militer, Karaeng Bontolangkasa berada di atas kapal. Dalam perjalanan itulah ia diamuk oleh salah seorang pengikutnya hingga meninggal dunia.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi asal gelar anumertanya, Karaeng Bontolangkasa, yang merujuk pada raja yang tewas karena diamuk.

Ia kemudian digantikan oleh putranya, I Tepu Karaeng Daeng Parabbung Karaeng Bontolangkasa Tunipasulu, yang menjadi Raja Gowa ke-13.

Setelah pemerintahan yang singkat, takhta Gowa kemudian beralih kepada saudaranya, I Mangngarangi Daeng Manrabbia, yang kelak dikenal sebagai Sultan Alauddin.

Putra Karaeng Bontolangkasa inilah yang kemudian membawa Gowa memasuki babak baru. Pada 1605, Sultan Alauddin menerima Islam dan menjadikan Gowa sebagai kerajaan Islam.

Masjid Tua Al-Hilal Katangka yang dibangun pada 1603 juga berasal dari masa pemerintahannya, sehingga tidak tepat jika pembangunan masjid tersebut ditempatkan pada masa Tunijallo.

Nama Raja di Tengah Kota Makassar

Berabad-abad setelah masa pemerintahannya, nama Bontolangkasa tetap hadir dalam ruang Kota Makassar. Jalan Bonto Langkasa kini berada di kawasan yang jauh berbeda dari dunia Kerajaan Gowa pada abad ke-16.

Di salah satu sisinya terdapat kawasan Claro Makassar, sementara di sekitar persimpangan Jalan A.P. Pettarani terdapat gerai Starbucks dan sejumlah usaha kuliner.

Kawasan ini juga menjadi bagian dari lingkungan pendidikan UNM, termasuk Gedung Pascasarjana dan rumah jabatan rektor.

Nama Bontolangkasa yang terpasang di tengah modernitas Makassar menghubungkan dua zaman yang sangat berbeda.

Di satu sisi ada jalan sepanjang sekitar 250 meter dengan hotel, kedai kopi, dan kawasan pendidikan. Di sisi lain ada sosok I Manggorai Daeng Mammeta, raja Gowa yang pada abad ke-16 memperluas jaringan persahabatan dan perdagangan hingga berbagai penjuru Nusantara.

Dari nama Bontolangkasa, jejak seorang Raja Gowa ke-12 itu tetap melekat di tengah denyut Kota Makassar, sebuah pengingat bahwa sebelum Gowa dikenal sebagai kesultanan besar, kerajaan itu telah lebih dahulu membangun pengaruh melalui laut, perdagangan dan diplomasi.

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo Jalan Bonto Langkasa Nama Jalan Makassar Raja Gowa