Jalan Bonto Daeng Ngirate.
SulawesiPos.com – Jalan Bonto Daeng Ngirate, yang sering pula ditulis Jl. Bonto Dg. Ngirate, merupakan salah satu ruas jalan di Kota Makassar yang menggunakan nama seorang tokoh sebagai identitasnya.
Jalan ini berada di Kelurahan Bonto Makkio, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dengan kawasan sekitarnya yang berdekatan dan sering dikelompokkan dengan Jalan Tamalate, Jalan Emmy Saelan, dan Jalan Mapala.
Di balik nama jalan tersebut terdapat sosok Bonto Daeng Ngirate, seorang bangsawan dan pimpinan lokal dari daerah Kerajaan Gowa yang dikenal aktif menentang dominasi politik kolonial Belanda di wilayah Makassar dan sekitarnya.
Namanya kemudian diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Makassar.
Bonto Daeng Ngirate tercatat sebagai salah satu tokoh yang namanya digunakan untuk penamaan jalan di Kota Makassar.
Dalam buku Tokoh-Tokoh di Balik Nama-Nama Jalan Kota Makassar karya Ahyar Anwar dan Aslan Abidin, Bonto Daeng Ngirate tercantum sebagai tokoh nomor 14 dari 70 tokoh yang namanya dijadikan nama jalan di Kota Makassar.
Dalam keterangan mengenai tokoh tersebut, Bonto Daeng Ngirate disebut sebagai bangsawan dan pimpinan lokal daerah Kerajaan Gowa yang aktif menentang dominasi politik kolonial Belanda di wilayah Makassar dan sekitarnya.
Keterangan ini menempatkan Bonto Daeng Ngirate sebagai salah satu figur lokal yang memiliki peran dalam menghadapi pengaruh dan kekuasaan kolonial.
Dalam bahan yang digunakan, Bonto Daeng Ngirate juga disebut memiliki nama lengkap Aminuddin Muchlis Bonto Daeng Ngirate.
Ia disebut sebagai salah seorang pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan.
Bonto Daeng Ngirate dalam Perjuangan Pemuda di Makassar
Peran Bonto Daeng Ngirate dalam perjuangan tidak hanya tercatat dalam sumber mengenai nama-nama jalan.
Namanya juga muncul dalam buku sejarah Perjuangan Hammad Saleh Menentang Jepang dan Belanda di Mandar 1942–1947.
Dalam buku tersebut, Bonto Daeng Ngirate disebut sebagai salah satu pengurus kelompok pemuda pejuang Republik di Kota Makassar.
Ia tercatat bersama sejumlah nama lainnya, di antaranya S. Sunari, M.A. Malsiara, Ali Maleka, Moon Maricat, Mamang, Maula Daeng Manaba, Sanusi Sitorus, Eiy Hidayat, dan Daeng Sipato.
Sumber tersebut juga menjelaskan adanya sekitar 25 kelompok pemuda pejuang Republik yang tersebar di berbagai lokasi di Kota Makassar dan masuk dalam organisasi PPNI.
Catatan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam melihat Bonto Daeng Ngirate sebagai tokoh yang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Sulawesi Selatan.
Namanya tidak hanya muncul sebagai nama yang kemudian digunakan untuk sebuah jalan, tetapi juga tercatat dalam sejarah perjuangan pemuda Republik di Makassar.
Jalan yang Mengabadikan Namanya
Nama Bonto Daeng Ngirate hingga kini digunakan sebagai nama sebuah jalan di Kota Makassar.
Jalan Bonto Daeng Ngirate berada di Kelurahan Bonto Makkio, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, dengan kode pos kawasan 90222.
Jalan ini berada di kawasan yang strategis dan berdekatan dengan sejumlah kawasan jalan lainnya, seperti Jalan Tamalate, Jalan Emmy Saelan, dan Jalan Mapala.
Penggunaan nama Bonto Daeng Ngirate sebagai nama jalan menjadi bentuk pengabadian nama tokoh dalam ruang kota.
Bagi masyarakat yang melintas di jalan tersebut, nama jalan itu sekaligus menjadi pengingat terhadap sosok yang memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan di Makassar dan Sulawesi Selatan.
Penamaan jalan dengan nama tokoh merupakan salah satu cara sebuah kota menjaga ingatan terhadap sejarahnya.
Dalam kasus Jalan Bonto Daeng Ngirate, nama tersebut merujuk kepada sosok yang dalam berbagai bahan sejarah disebut sebagai bangsawan dan pimpinan lokal yang menentang dominasi kolonial Belanda serta terlibat dalam perjuangan pemuda Republik di Kota Makassar.
Karena itu, Jalan Bonto Daeng Ngirate bukan sekadar penunjuk lokasi, tetapi juga menyimpan cerita tentang seorang tokoh yang dikaitkan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan.
Melalui nama jalan tersebut, nama Bonto Daeng Ngirate tetap hadir dalam ruang kehidupan Kota Makassar dan menjadi bagian dari ingatan sejarah kota.
Sumber: