Gedung Money Changer Latunrung, di Jalan Re Martadinata, yang berdiri di sekitar eks Jambatan Bassi. (Foto: Google Maps)
SulawesiPos.com – Kawasan di sekitar Pelabuhan Soekarno Hatta dan Fort Rotterdam hari ini dipenuhi deretan rumah toko (ruko) yang sibuk. Namun, bentang kawasan ini menyimpan perjalanan panjang alih fungsi ruang, mulai dari pusat niaga kolonial abad ke-17 hingga pergeseran pusat hiburan malam kota.
Lanskap perdagangan kawasan ini terbentuk tak lama setelah Perang Makassar pada abad ke-17. Usai Kerajaan Gowa-Tallo kalah dari VOC, pusat kekuasaan di Somba Opu dipindahkan ke Benteng Rotterdam. Kompeni meratakan benteng-benteng lokal dan memusatkan seluruh kendali dagang, administrasi, dan militer di sana.
Di sisi utara, tumbuh permukiman multietnis seperti perkampungan Vlaardingen (kini kawasan Pecinan dan Kampung Wajo) serta Kampung Melayu. Permukiman ruko di koridor Jalan Sulawesi dan Jalan Nusantara pun mulai berakar dari fase ini.
Memasuki era modern, denyut kawasan pesisir tersebut melahirkan wajah lain. Sekitar tiga puluh tahun lalu, pusat keramaian dan hiburan malam justru bermula di Jalan Pasar Ikan, tepat di depan Fort Rotterdam. Ikonnya adalah Jembatan Bassi (Jambas), jembatan besi sepanjang ratusan meter yang menjorok ke arah laut.
Jambas di era akhir 1980-an menghadirkan potret pesisir yang sangat kontras. Area jembatan besi berdiri berdampingan dengan kolam renang air asin Taman Bahari, sekaligus menjadi saksi denyut malam lewat bilik-bilik yang disekat untuk para tamu dan pekerja hiburan.
Salah seorang warga Makassar yang kerap menghabiskan masa remajanya di sana, Jufri alias Upik (55), mengingat jelas suasana tersebut.
“Waktu itu saya masih pelajar, sehabis mandi di kolam air asin (Taman Bahari), saya mampir untuk melihat orang-orang yang ngumpul di Jambas,” ujar Jufri saat berbincang santai, Jumat (4/9/2026).
Jufri menambahkan, area di depan benteng itu dulunya juga merupakan titik kumpul favorit anak-anak muda dan komunitas sepeda BMX dari berbagai pelosok kota.
Memasuki dekade 1990-an, Jambas akhirnya dirobohkan oleh Pemerintah Kota Ujung Pandang karena dinilai kumuh, merusak pemandangan laut, dan kerap menjadi arena keributan.
Bekas tapak jembatan besi itu kini telah beralih rupa menjadi deretan ruko dekat tempat penukaran valas Latunrung serta kafe populer, Kampung Popsa.
Pembongkaran Jambas mendorong migrasi para pengusaha hiburan ke arah Jalan Nusantara, memanfaatkan bangunan ruko peninggalan era niaga lama. Saat ini, setelah sekitar 20 tahun menjadi pusat hiburan malam, di era Wali Kota Ramdhan Pomanto, perlahan ‘image’ Jalan Nusantara diubah menjadi pusat kuliner.
Selain beberapa THM yang tersisa, terdapat beberapa pusat kuliner ikonik, seperti Coto Nusantara, Ikan Bakar Masalle, dan Restoran Medan.
Dari gelombang alih fungsi inilah nama-nama pub dan karaoke seperti Madonna serta Galaxy sempat merajai kawasan tersebut, sebelum waktu kembali mengubah sebagian tempat di sekitarnya—seperti kawasan Jalan Jampea yang dulu berdiri thm Queen, yang sekarang menjadi fasilitas baru layaknya lapangan futsal.
(sumber tulisan: Kajian Penggunaan Lahan dan Alih Kegiatan Usaha — Andi Starina Fitri, Dkk, Departemen Perencenaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin)