Categories: Makassar

Jalan Bau Mangga, Tokoh Arung Matoa Wajo Ishak Manggabarani

SulawesiPos.com – Jalan Bau Mangga merupakan salah satu ruas jalan di Kota Makassar yang menggunakan nama tokoh dari Sulawesi Selatan. Di balik nama tersebut terdapat sosok Ishak Manggabarani Karaeng Mangeppe, seorang bangsawan yang pernah menjadi Arung Matoa Wajo XLIII dan memimpin Kerajaan Wajo selama 16 tahun.

Ishak Manggabarani dilantik sebagai Arung Matoa Wajo pada 11 Februari 1900. Ia memimpin Wajo dalam situasi yang tidak mudah. Sebelum masa kepemimpinannya, Tana Wajo mengalami berbagai konflik dan perselisihan di antara para bangsawan dan pemimpinnya yang turut berdampak terhadap kondisi masyarakat.

Dalam kondisi tersebut, Ishak Manggabarani memilih mengutamakan konsolidasi dan menjaga keamanan Wajo. Ia dikenal sebagai pemimpin yang mampu menempatkan diri secara hati-hati di tengah situasi politik Sulawesi Selatan, termasuk ketika Pemerintah Hindia Belanda semakin memperluas pengaruhnya.

Sosok Ishak Manggabarani juga memiliki hubungan kekerabatan dengan sejumlah penguasa kerajaan di Sulawesi Selatan. Ia disebut memiliki hubungan keluarga dekat dengan penguasa Sidenreng dan Gowa, termasuk dengan keluarga Kerajaan Bone.

Jaringan kekerabatan tersebut membuat Ishak Manggabarani berada dalam lingkaran bangsawan dan penguasa penting pada masanya.

Meski tidak secara terbuka mengambil langkah perlawanan frontal terhadap Belanda, Ishak Manggabarani tetap menunjukkan sikap solidaritas terhadap perjuangan sesama bangsawan Sulawesi Selatan.

Ketika Kerajaan Bone menghadapi perang melawan Pemerintah Hindia Belanda pada 1905, Tana Wajo menjadi salah satu wilayah yang membantu upaya penyelamatan Raja Bone La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone XXXI.

Bantuan tersebut kemudian membuat La Pawawoi menganugerahkan gelar Jenderal Kehormatan Kerajaan Bone kepada Ishak Manggabarani Karaeng Mangeppe.

Putranya, La Caponte Dg. Bella, juga disebut turut membantu perjuangan tersebut dan kemudian dilantik sebagai Dulung Pitumpanua.

Selain persoalan politik dan hubungan antarkerajaan, Ishak Manggabarani juga dikenal memiliki perhatian terhadap pertanian dan perkebunan.

Ia memiliki tanah perkebunan dan persawahan di Palaguna, Pammana. Salah satu peninggalan yang dikaitkan dengan dirinya adalah tanaman sawo yang bibitnya didatangkan dari Gowa untuk ditanam di wilayah tersebut.

Ishak Manggabarani juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki pandangan luas dan mampu mengambil posisi netral ketika dianggap dapat memberikan keselamatan bagi rakyatnya.

Ia tidak dikenal sebagai tokoh yang mengedepankan perlawanan bersenjata secara terbuka, melainkan lebih mempertimbangkan kondisi dan kekuatan yang dimiliki Wajo pada masa itu.

Dalam salah satu nasihatnya kepada putranya, Ishak Manggabarani menekankan pentingnya mempertimbangkan kekuatan sebelum menghadapi Belanda.

Sikap tersebut menunjukkan cara pandangnya dalam menjalankan kepemimpinan di tengah tekanan politik dan militer kolonial.

Selama memimpin Wajo, Ishak Manggabarani juga sempat memilih menetap di Parepare. Dari sana, ia tetap memikirkan dan mengatur kebijakan pemerintahan Tana Wajo. Keberadaannya di luar Wajo bahkan disebut turut meredakan perselisihan di antara para pemimpin Wajo.

Ishak Manggabarani Karaeng Mangeppe wafat di Parepare pada 16 Desember 1916. Ia telah memimpin sebagai Arung Matoa Wajo selama 16 tahun.

Setelah wafatnya, jabatan Arung Matoa Wajo mengalami kekosongan selama sekitar 10 tahun sebelum kemudian diisi kembali pada 1926.

Sosok Ishak Manggabarani kemudian menjadi bagian dari catatan sejarah Sulawesi Selatan sebagai Arung Matoa Wajo yang memimpin di tengah masa penuh gejolak.

Namanya kini juga dikenang melalui penggunaan nama Bau Mangga sebagai salah satu nama jalan di Kota Makassar.

Yaslinda Utari

Share
Published by
Yaslinda Utari
Tags: Bau Mangga Jalan Bau Mangga Nama Jalan Makassar