Jalan Saleh Dg Tompo
SulawesiPos.com – Hanya sekitar 220 meter, Jalan Saleh Daeng Tompo menjadi salah satu ruas pendek di kawasan Pantai Losari, Makassar.
Jalan ini menghubungkan Jalan Lamaddukelleng dan Jalan Arief Rate, melewati kawasan yang kini dipenuhi aktivitas pendidikan, kuliner, dan bisnis.
Namun, nama yang terpasang di ruas tersebut membawa cerita tentang seorang tokoh yang pernah bergerak di tengah pergolakan politik Makassar hingga ikut menentukan arah ketatanegaraan Indonesia.
Tokoh itu adalah Ince Achmad Saleh Daeng Tompo, putra Bantaeng yang lahir pada 15 Januari 1909.
Selain muncul dalam catatan sejarah lokal, namanya juga dalam dokumentasi politik nasional sebagai anggota Konstituante dari Fraksi Partai Nasional Indonesia (PNI).
Jauh sebelum duduk di lembaga penyusun konstitusi tersebut, Saleh Daeng Tompo telah melewati sejumlah ruang perjuangan di Sulawesi Selatan.
Politik, pers, pemerintahan dan kehidupan olahraga menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.
Nama Saleh Daeng Tompo menonjol ketika Makassar menjadi salah satu arena penting dalam pergulatan mempertahankan kemerdekaan.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, persoalan yang dihadapi masyarakat Sulawesi memastikan gagasan Republik tetap hidup di tengah perubahan kekuasaan.
Di tengah situasi tersebut, pers menjadi salah satu medan pertarungan gagasan.
Pada 1946, Sam Ratulangi merintis surat kabar Kebenaran di Makassar. Pengelolaannya kemudian berada di tangan Saleh Daeng Tompo.
Surat kabar tersebut mengambil haluan republiken. Pemberitaannya menjadi sarana untuk membangun kesadaran politik sekaligus menyuarakan sikap tokoh-tokoh lokal terhadap perkembangan politik pascakemerdekaan.
Salah satu pemberitaan yang membuat Kebenaran berhadapan dengan administrasi NICA berkaitan dengan Raja Bone, Andi Mappanyukki.
Sikap sang raja terhadap gerakan kemerdekaan diberitakan oleh surat kabar tersebut.
Bagi penguasa kolonial, keberadaan media dengan sikap politik seperti itu menjadi persoalan. Kebenaran akhirnya diberedel setelah menerbitkan sejumlah edisi.
Keterlibatan Saleh Daeng Tompo dalam perjuangan tidak hanya berlangsung melalui tulisan.
Pada masa awal kemerdekaan, ia menjadi bagian dari Pusat Keselamatan Rakyat (PKR) yang dibentuk Sam Ratulangi.
Organisasi tersebut menghimpun sejumlah tokoh untuk memperkuat konsolidasi masyarakat dan mempertahankan keberadaan Republik di Sulawesi.
Saleh Daeng Tompo berada bersama tokoh-tokoh seperti Lanto Daeng Pasewang, Zainal Abidin, W.S.T. Pondaag, I.P.L. Tobing dan Suwarno.
PKR hadir ketika pemerintahan Republik di daerah membutuhkan dukungan politik dan sosial.
Oleh karena itu, keterlibatan Saleh Daeng Tompo memperlihatkan bahwa aktivitasnya pada masa tersebut berjalan di dua jalur sekaligus, yaitu membangun konsolidasi melalui organisasi dan memperjuangkan gagasan melalui pers.
Pengalaman itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan politiknya yang lebih panjang.
Beberapa tahun setelah masa revolusi, Saleh Daeng Tompo memasuki arena politik nasional.
Ia terpilih sebagai anggota Konstituante Republik Indonesia dari Fraksi PNI. Dalam risalah resmi persidangan, namanya tercatat sebagai Hadji Intje Achmad Saleh Daeng Tompo, yang mengikuti persidangan Konstituante pada periode 1956 hingga 1959.
Konstituante merupakan salah satu lembaga penting dalam sejarah politik Indonesia. Anggotanya mendapat tugas menyusun konstitusional yang baru.
Perjalanan Saleh Daeng Tompo dari aktivitas politik di Sulawesi Selatan menuju lembaga tersebut menunjukkan perubahan skala dalam kiprahnya.
Ia yang sebelumnya berhadapan dengan persoalan kemerdekaan dan politik lokal kemudian ikut terlibat dalam pembahasan mengenai fondasi konstitusional negara.
Kehidupan publik Makassar menjadi ruang lain yang pernah disentuh Saleh Daeng Tompo.
Catatan sejarah mengaitkan dirinya dengan pemerintahan kota dan menyebutnya pernah menjalankan tugas sebagai wali kota harian Makassar.
Peran tersebut menempatkannya dalam dinamika pemerintahan kota pada periode awal perjalanan Republik.
Ia juga memiliki hubungan dengan dunia olahraga. Saleh Daeng Tompo disebut pernah memimpin PSM Makassar sebagai ketua.
Menurut salah satu sumber, sebelum stadion dibangun, PSM Makassar lebih dulu menggunakan lapangan yang berada di sekitar lokasi tersebut.
Lapangan yang kini menjadi kantor TVRI Sulsel itu kemudian ditukar-guling pada 1970-an oleh Saleh Daeng Tompo, yang saat itu menjabat sebagai wali kota harian Makassar sekaligus ketua PSM.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan karena Saleh Daeng Tompo ingin menghadirkan TVRI di Sulawesi Selatan dan pihak TVRI membutuhkan lokasi tersebut sebagai tempat pembangunan kantor.
Kini, warisan namanya ditemui dalam sebuah jalan pendek di kawasan Losari.
Jalan Saleh Daeng Tompo diapit Jalan Lamaddukelleng dan Jalan Arief Rate. Di sepanjang ruasnya terdapat sekolah, rumah makan, coffee shop, serta Warkop Dottoro yang telah lama dikenal masyarakat Makassar.