Ungkapan "Terima kasih" dalam bahasa Bugis-Makassar.
SulawesiPos.com – Ungkapan terima kasih dalam budaya Bugis-Makassar ternyata tidak selalu disampaikan secara langsung melalui kata-kata. Rasa terima kasih lebih banyak diwujudkan melalui tindakan, penghormatan, doa, hingga ungkapan tertentu yang memiliki makna mendalam.
Dosen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), Burhan Kadir, S.S., M.A, menjelaskan bahwa dalam bahasa Bugis-Makassar tidak terdapat padanan kata yang secara langsung bermakna “terima kasih” seperti yang umum digunakan dalam bahasa Indonesia.
“Sebenarnya dalam kata langsung, tidak ada memang kata terima kasih. Karena menurut kebudayaan kita di Bugis-Makassar itu, ungkapan terima kasih itu lebih segala sesuatunya diekspresikan melalui tindakan, penghormatan, doa, atau ungkapan tidak langsung ya,” ucap Burhan kepada SulawesiPos.com, Selasa (1/9/2026).
Salah satu ungkapan yang dapat digunakan untuk menyampaikan rasa terima kasih tersebut adalah kuru’ sumange”.
“Jadi tidak langsung bilang terima kasih. Paling kata gantinya itu misalnya kalau terima kasih itu kayak kuru’ sumange” ya,” katanya.
Kuru’ sumange‘ merupakan ungkapan yang merujuk kepada harapan besar untuk jiwa serta semangat dalam kebaikan bagi orang yang dituju.
Menurut Burhan, ungkapan tersebut pada dasarnya lebih menyerupai doa. Seseorang yang mengucapkan kuru’ sumange‘, tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih, tetapi juga mendoakan kebaikan bagi orang yang telah memberikan sesuatu kepadanya.
“Jadi dia mendoakan lebih kepada sesuatu yang dia kayak semacam doa sebenarnya untuk kuru’ sumange’ bahwa kebaikan terhadap engkau, sehat-sehat,” tuturnya.
Makna yang terkandung di dalamnya juga berkaitan dengan kesehatan jiwa, semangat, serta harapan agar kebaikan selalu menyertai orang yang dituju.
“Tapi sebenarnya itu selain memberi sesuatu juga ada doa-doa di balik itu bahwa sehat jiwamu, semangat selalu misalnya, kebaikan menyertaimu,” ucapnya.
Namun, ungkapan kuru’ sumange’ kini semakin jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama oleh generasi muda.
“Sekarang tidak umum diungkapkan, tidak. Jarang kita dengar toh? Apalagi kalau kalangan sekarang, pasti dia tidak mengenal kata kuru’ sumange’ ya. Di Toraja pun mengenal kata kuru’ sumange’ mu itu toh,” jelas Burhan.
Menurut Burhan, konsep mengungkapkan rasa terima kasih dalam budaya Bugis-Makassar juga dapat terlihat dari kebiasaan masyarakat zaman dahulu yang membalas pemberian dengan pemberian lain.
“Orang-orang tua kita dulu, kalau misalnya diberikan sesuatu, dia pasti membalas dengan sesuatu pula gitu toh,” katanya.
Misalnya, ketika seseorang diberikan kue, orang yang menerima pemberian tersebut biasanya tidak mengembalikan wadah dalam keadaan kosong.
Wadah kue akan dikembalikan dengan diisi pemberian lain. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa rasa terima kasih tidak harus diwujudkan melalui ucapan.
Balasan dalam bentuk tindakan menjadi salah satu cara masyarakat Bugis-Makassar menunjukkan penghargaan kepada orang lain.
Menariknya, kuru’ sumange‘ juga dapat digunakan dalam konteks ketika seseorang hendak bepergian. Ungkapan “hati-hati di jalan” yang lazim digunakan saat ini ternyata bukan bentuk asli dalam bahasa Bugis-Makassar.
“Nah, itu hati-hati di jalan sebenarnya juga tidak ada juga. Karena semua terganti dengan kata tadi kuru’ sumange’ mu itu,” ungkapnya.
Sementara itu, ungkapan salama’ki disebut sebagai bentuk yang lebih modern karena berasal dari serapan kata “selamat”.
“Salama’ki itu kan modern itu. Itu dari serapan kata selamat. Jadi salama’ ki,” ujarnya.
Selain kuru’ sumange‘ dan salama’ki, terdapat pula ungkapan yang dahulu umum digunakan masyarakat ketika seseorang hendak meninggalkan tempat.
“Jadi dulu itu orang tua kita kalau misalnya mau pergi toh, dia bilang mengucapkan kata massimangna’,” kata Burhan.
Massimangna’ sejatinya bermakna permisi atau ungkapan bahwa seseorang sudah akan pergi.
Dalam percakapan masyarakat Bugis, ungkapan tersebut kemudian dapat dibalas dengan assimangi aleta.
“Biasanya dibalas dengan kalau orang Bugis biasanya dibalas dengan assimangi aleta,” tuturnya.
Menurut Burhan, massimangna’ tidak hanya bermakna permisi secara harfiah.
Ada makna lain yang terkandung dalam ungkapan tersebut, yakni keinginan seseorang untuk beranjak atau meninggalkan tempat.
“Massima’ itu kan bukan cuma sekadar mengatakan bahwa permisi toh. ‘Saya ingin beranjak’ gitu toh,” jelasnya.
Sementara itu, balasan assimangi aleta juga memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menjawab permisi.
Di dalamnya terkandung doa agar orang yang pergi mendapatkan keselamatan dan kebaikan dalam perjalanannya.
“Tapi sebenarnya di balik kata assimangi aleta” itu adalah ‘pergilah dengan selamat, dengan kebaikan’ katanya.