Categories: Makassar

Jalan Sultan Abdullah Makassar: Kisah Karaeng Matoaya, Raja Tallo yang Berpengaruh

SulawesiPos.com — Nama Jalan Sultan Abdullah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, diambil dari nama Sultan Abdullah dari Tallo atau Karaeng Matoaya, salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Makassar.

Karaeng Matoaya merupakan Raja Tallo ke-VII sekaligus perdana menteri Kesultanan Makassar yang berpengaruh sejak akhir abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-17.

Ia juga merupakan ayah dari Sultan Mudaffar Tumammaliang ri Timoro dan Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang.

Pada masa Karaeng Matoaya, Kerajaan Gowa dan Tallo memperkuat persekutuan hingga menjadi satu kesatuan politik yang dikenal sebagai Kesultanan Makassar.

Dalam pemerintahan tersebut, Raja Gowa berperan sebagai raja, sedangkan Raja Tallo menjadi perdana menteri. Karaeng Matoaya kemudian memperkuat hubungan dengan Sultan Alauddin yang dilantiknya sebagai pengganti Tunipasulu.

Kerja sama keduanya mendorong kebangkitan Makassar. Kekuatan militer di darat dan laut berkembang, sementara perdagangan juga semakin maju.

Makassar yang sebelumnya merupakan kekuatan lokal di Sulawesi Selatan kemudian tumbuh menjadi kekuatan regional yang disegani di Indonesia Timur dan mampu menyaingi VOC yang mulai berkembang di Nusantara.

Raja Tallo Pertama yang Memeluk Islam

Karaeng Matoaya juga memiliki peran penting dalam sejarah Islam di Sulawesi Selatan. Ia merupakan raja Tallo pertama yang memeluk Islam bersama keluarganya pada 22 September 1605.

Tidak lama kemudian, Sultan Alauddin yang merupakan kemenakannya juga memeluk Islam. Islam selanjutnya menjadi agama resmi Kesultanan Makassar.

Pada 1608 hingga 1611, kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan di sebelah selatan dataran tinggi Toraja kemudian memeluk Islam melalui proses peperangan maupun pendekatan. Penyebaran Islam juga mencapai Bima di Sumbawa.

Meski demikian, Karaeng Matoaya tidak mengubah sistem sosial maupun pemerintahan kerajaan-kerajaan tersebut secara besar-besaran. Para bangsawan lokal tetap menjalankan pemerintahan di wilayah masing-masing.

Tokoh Religius dan Berwawasan Luas

Karaeng Matoaya dikenal sebagai sosok yang taat beragama sekaligus memiliki ketertarikan terhadap berbagai bidang ilmu, mulai dari teologi hingga pengetahuan umum.

Minat tersebut juga diwarisi oleh putranya, Karaeng Pattingalloang. Ia dikenal mampu berbicara dalam bahasa Melayu, Portugis, dan Spanyol serta memiliki koleksi naskah, bola dunia, dan peta pelayaran.

Kisah Karaeng Matoaya menunjukkan besarnya peran Raja Tallo tersebut dalam perkembangan politik, perdagangan, militer, dan Islam di Kesultanan Makassar.

Karena itu, nama Jalan Sultan Abdullah tidak sekadar menjadi penanda lokasi di Makassar, tetapi juga menjadi pengingat terhadap sosok Karaeng Matoaya dan kiprahnya dalam sejarah Sulawesi Selatan.

Sumber:

  1. Anthony Reid (2015), A History of Southeast Asia: Critical Crossroads. John Wiley & Sons, hlm. 136.
  2. William Cummings (2002), Making Blood White: Historical Transformations in Early Modern Makassar. University of Hawai‘i Press, hlm. 30–32.
  3. Uka Tjandrasasmita (2009), Arkeologi Islam Nusantara. Kepustakaan Populer Gramedia, hlm. 28.

Yaslinda Utari

Share
Published by
Yaslinda Utari
Tags: Nama Jalan Makassar Nama Jalan di Makassar Jalan Sultan Abdullah